
Zahra dan Rasya berbalik dan melihat Arga yang sedang berjalan mendekat. Wajah lelaki itu tampak tidak bersahabat di depan Zahra.
"Tidakkah kamu tahu peraturan di perusahaan ini?" hardik Arga. Zahra bangkit berdiri lalu menunduk dalam.
"Kenapa marah-marah, sih, Kak?" Rasya justru dengan santai memakan kembali makanan Zahra.
"Nona Muda, walaupun dia adalah sahabat Nona, tapi saat di kantor maka dia harus mengikuti aturan yang berlaku." Arga menjawab tegas.
"Dengerin tuh, Zae," ujar Rasya. Zahra mendelik saat Rasya justru tidak membela dirinya.
"Elu harusnya bela gue, Ra!" Zahra berbisik. Dia takut Arga akan mendengar. Namun, gadis itu salah karena Arga sudah mendengarnya, dan lelaki itu sengaja diam saja.
"Ntar gue bela elu kalau udah habis nih nasi. Gue masih laper." Rasya ikut-ikutan berbisik seraya terus mengunyah makanan yang berada di dalam mulut.
"Astaga, Ra. Jangan dihabisin. Gue masih laper." Zahra setengah merengek. Dia memelas pada Rasya supaya tidak menghabiskan makanan itu.
"Ini enak, Zae." Rasya tanpa dosa terus saja memakan nasi tersebut.
__ADS_1
"Gue tahu." Zahra memasang wajah malas. Rasanya dia kesal dengan sahabatnya, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Arga yang melihat itu, hanya berusaha menahan tawa.
Setelah nasi dalam tempat bekal tersebut sudah habis, dan Rasya sudah meminum segelas air putih, Arga lalu mengajak Rasya kembali ke ruangan atas perintah Pandu.
"Aku masih mau di sini, Kak." Rasya menolak. Dia masih ingin bersama sahabatnya.
"Nona, kalau Anda tidak mau kembali maka sahabat Anda terpaksa saya pecat. Di sini dia adalah seorang karyawan, bukan sahabat pemilik perusahaan yang bekerja semaunya," ucap Arga tegas.
Mau tidak mau, Rasya bangkit berdiri lalu meninggalkan Zahra begitu saja. Setelah kepergian dua orang itu, Zahra langsung melihat tempat bekal yang telah kosong. Dia mendes*h kasar saat tidak ada apa pun di sana meskipun hanya sebutir nasi.
"Sabar ya anak-anak, sebentar lagi makan siang dan aku akan kasih kalian makan lagi," celoteh Zahra, terus saja mengusap perutnya.
"Apa kamu hamil?"
"Astaghfirullah, Allahu Akbar!" Zahra terlonjak saat mendengar suara dari belakang. Dia berbalik dan terkejut melihat Arga yang sedang berjalan mendekat. "Ke-kenapa Anda di sini lagi, Tuan?"
"Memangnya kenapa? Kantor ini masih wilayahku karena aku asisten pribadi Tuan Pandu." Arga duduk di depan Zahra, dengan kaki saling menindih.
__ADS_1
"Saya tahu itu, Tuan." Zahra menunduk. Jari-jemarinya terlihat saling merem*s.
"Katakan. Apa kamu benar sedang hamil?" tanya Arga penuh penekanan.
"Kata siapa, Tuan?" Zahra mulai bisa menormalkan debaran jantungnya.
"Aku bertanya! Jangan menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan!" Arga kesal sendiri. Dia membatin, seperti inikah yang dirasakan Pandu dulu saat menghadapi Rasya. Pantas saja tensi darah lelaki itu selalu naik.
"Maaf, jangan marah-marah terus, Tuan. Kata Ibu Henny, kalau kita suka ngomel nanti bisa cepat tua. Bisa jadi umur dua puluh dikira umur lima puluh tahun, Tuan." Zahra menimpali dengan berani.
"Mana ada!" Arga masih sewot, meski dia mulai menurunkan bicaranya. "Sekarang kamu jawab saja! Apa kamu sedang hamil atau tidak!"
Brak!
"I-iya, Tuan."
Mata Arga membola sempurna mendengar jawaban Zahra. Sementara Zahra justru menutup mulutnya rapat.
__ADS_1