Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
59


__ADS_3

"Tuan, saya takut." Suara Zahra terdengar lirih. Bahkan, nyaris tidak terdengar. Arga pun tidak menjawab dan hanya mengeratkan pelukan tersebut.


"Tenanglah." Tanpa sadar, Arga mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Zahra yang langsung memejamkan mata. Sungguh, Zahra merasa nyaman dengan apa yang Arga lakukan.


Ketika pintu ruangan terbuka. Pelukan mereka pun akhirnya terlepas, Zahra melangkah lebar mendekati dokter yang baru keluar dari ruangan itu. Perasaan Zahra mendadak tidak nyaman saat melihat raut sendu dari dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?" tanya Zahra tidak sabar.


"Maaf, Nona. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kakak Anda tidak bisa tertolong karena mengalami pendarahan hebat juga keadaan dia yang sedang drop."


Bak tersambar petir, tubuh Zahra hampir luruh ke lantai saat mendengar ucapan dokter tersebut. Beruntung, Arga dengan sigap menahan tubuh Zahra.


"Tidak mungkin!" Zahra berbicara lemas. Air mata makin mengalir deras membasahi wajahnya.


"Anda harus sabar, Nona."

__ADS_1


Zahra memaksa masuk dan berjalan cepat dengan tenaga yang tersisa. Arga pun mengikut di belakang karena khawatir dengan keadaan Zahra, sedangkan Pandu langsung menghubungi sahabat Zahra termasuk istrinya meski dengan pelan-pelan.


"Mas ...." Lidah Zahra mendadak kelu saat melihat tubuh Yudha yang sudah mulai kaku. Wajah Yudha yang sudah memucat seolah mampu membuat hati Zahra seperti tercabik rasanya.


Zahra merebahkan kepala di samping jasad Yudha, dan tangannya tak henti menggoyangkan tubuh lelaki itu supaya bangun. Meskipun Zahra tahu kalau semua hanyalah sia-sia.


"Bangun, Mas! Bangun! Jangan tinggalin aku, Mas!" Suara isakan Zahra terdengar memilukan dan mampu membuat miris siapa saja yang mendengarnya. Termasuk Arga yang merasakan hatinya sakit seolah tertusuk sembilu saat melihat Zahra yang sedang rapuh saat ini.


"Bangun, Mas! Jangan tinggalin aku! Aku mohon! Jangan tinggalkan aku sendirian!" Kedua bahu Zahra terlihat naik turun dengan cepat, menandakan betapa hebatnya tangisan gadis itu.


"Ra ... kamu harus belajar ikhlas walau berat." Arga berusaha menenangkan, tetapi tangisan Zahra sama sekali tidak meredam.


Sekeras apa pun tangisan Zahra, sekuat apa pun gerakan Zahra yang mencoba membangunkan Yudha. Namun, semua sia-sia. Yudha sama sekali tidak terusik dalam tidur panjangnya. Tanpa kasihan membiarkan tangisan Zahra memenuhi ruangan tersebut.


"Ra! Zahra!" Arga menepuk pipi Zahra yang tiba-tiba terdiam. Dengan bergegas Arga mengangkat tubuh Zahra dan menidurkan di brankar sebelah. Dokter dan perawat yang berjaga di sana pun segera memeriksa. Mereka sedikit takut dengan Arga yang terus membentak karena saking khawatirnya.

__ADS_1


Setelah diolesi minyak kayu putih, kedua mata Zahra mengerjap perlahan. Gadis itu menatap siapa pun yang berada di ruangan satu-persatu. Namun, tangisnya kembali pecah saat mengingat kalau Yudha sudah pergi meninggalkan dirinya selamanya.


Arga pun tak pernah lelah menenangkan Zahra. Bahkan, pelukan Arga sama sekali tidak terlepas dari tubuh gadis yang saat ini sedang rapuh itu. Sementara Pandu membantu mengurus kepulangan jenazah Yudha yang akan dibawa ke panti asuhan.


Bunyi sirine ambulan menggelegar di jalan yang dilalui. Zahra duduk lemas dalam mobil Pandu yang mengiring di belakang. Dekapan Arga sama sekali tidak terlepas, dan tangisan Zahra pun belum juga berhenti.


"Ikhlaskan Yudha agar dia bisa pergi dengan tenang." Arga mengeratkan pelukannya. Zahra tidak menjawab, hanya tangisannya yang masih menggema di dalam mobil.


"Saya sakit, Tuan." Ucapan Zahra terdengar melirih karena detik selanjutnya, gadis itu kembali tidak sadarkan diri.


β€’β€’β€’β€’


Yang sabar ya, Ra.


Setiap manusia pasti akan mengalami perpisahan.

__ADS_1


😭😭😭


selamat pagi guys, jangan lupa ngopi πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


__ADS_2