Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
71


__ADS_3

"Jadi kamu belum pernah makan steak?" tanya Melda tidak percaya. Zahra menggeleng cepat.


"Belum, Nyonya. Paling juga makan daging ayam biasa. Ibu Henny dulu masak daging dua minggu sekali, itu aja paling cuma dibumbu kecap atau opor." Baru saja sekejab, tetapi Zahra hampir menghabiskan satu piring nasi.


"Kalau sama Nona Rasya?" tanya Arga.


"Kalau sama mereka mah, kita lebih suka makan seblak atau bakso. Makan kaya gini, kita mikir-mikir karena harus hemat biaya hidup." Zahra menjelaskan.


"Jadi, kamu bukan berasal dari keluarga kaya?" tanya Gerry, menghentikan kunyahan Zahra seketika.


"Pa! Jangan menghilangkan selera makan orang lain," protes Arga tidak terima.


Zahra tidak langsung menjawab, tetapi dia segera menghabiskan makanannya sebelum selera makannya menghilang. Setelah nasi di piring ludes, Zahra segera meminum segelas air putih hingga tandas. Lalu tak lupa dia mengucap syukur.


"Tuan, Nyonya, saya bukan berasal dari keluarga kaya. Jangankan dari keluarga kaya, orang tua saya saja, saya tidak tahu."


"Kenapa begitu?" sela Melda tidak sabar. Dia ingin meyakinkan perasannya sendiri kalau bisa saja perkiraannya benar.


"Saya sejak kecil tinggal di panti. Jadi, yang saya anggap sebagai orang tua adalah Ibu Henny. Hanya dia wanita hebat yang bisa membesarkan saya. Untuk itu, saya minta maaf atas kelancangan saya," tutur Zahra.


"Lancang?" Gerry sampai mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Iya, Tuan." Zahra bangkit berdiri dan membungkuk di depan mereka. Arga sampai terkejut saat melihat apa yang dilakukan Zahra. "Saya sudah lancang berani masuk ke dalam kehidupan putra Anda, tapi kalian harus tahu kalau saya dan Tuan Arga tidak pernah ada hubungan apa-apa. Kita hanyalah sebatas atasan dan bawahan di kantor."


"Kamu mencintai putraku?" tanya Melda, suaranya sedikit meninggi. Zahra bukannya menjawab, tetapi justru menutup mulutnya rapat. "Kenapa kamu tidak menjawab!"


"Ma-maaf, Nyonya."


"Ma! Sudah! Kalian jangan buat dia takut." Arga sewot. Baginya, kedua orang tuanya sudah sangat keterlaluan.


"Ga! Seharusnya kamu sudah tahu kalau kita ini dari keluarga terpandang meskipun kita tidak sekaya keluarga Andaksa!"


"Benar, Ga." Melda membenarkan ucapan suaminya.


"Seharusnya kamu juga tahu seperti apa kita menginginkan anak menantu." Suara Gerry yang tegas membuat tubuh Zahra gemetar. Zahra merutuki dirinya yang justru takut, padahal semua ini dia yang menginginkan. Supaya orang tua Arga tidak menyukai dirinya.


"Aku sudah tahu yang kalian inginkan, bukankah kalian selalu mengatakan itu setiap kali kita bertemu," ujar Arga, berusaha menahan kekesalan.


"Kalau begitu, papa tanya padamu. Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu?" tanya Gerry menuntut.


"Kenapa Papa masih saja bertanya? Jangan membuat aku berubah pikiran." Arga mulai kehilangan kesabaran.


"Baiklah, papa dan mama percaya. Jadi, rencana kapan kamu akan melamar gadis ini?" Pertanyaan Gerry sontak membuat mata Zahra membola sempurna. Termasuk Arga. Namun, secepat kilat Arga berusaha tetap terlihat tenang.

__ADS_1


"Tuan, apa maksudnya?" tanya Zahra terbata.


"Putraku akan melamar kamu. Jadi, aku harap kamu tidak akan mengecewakan kita," ucap Melda.


"Tapi, Nyonya, saya tidak pantas—"


"Asal kamu tahu, aku dan istriku tidak pernah memandang seseorang dari harta atau jabatan yang dimiliki. Kalau putraku sudah yakin maka kita juga percaya kalau gadis itu yang terbaik," papar Gerry.


Zahra menggerakkan leher, menatap Arga yang saat ini justru sedang tersenyum sinis. Semua terasa sangat mengejutkan untuk Zahra.


"Tuan—"


"Sepertinya aku bukan orang yang mudah menerima penolakan," sela Arga. Membuat Zahra terdiam dan hanya menelan ludahnya secara kasar.


••••


Thor, kapan Arga dan Zahra jadian?


noh, Othor nikahin aja langsung 😅😅 eh, pede banget, 'kan Zahra belum ngasih jawaban. wkwkk


Eh, Thor elu songong amat, buruan gih lanjutin. Kita udah penasaran.

__ADS_1


sabar epribadehhh, Othor mau makan seblak dulu keburu dingin 😅😅


ciee yang enggak bisa tidur karena nungguin kelanjutannya. 😆😆


__ADS_2