Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
70


__ADS_3

Zahra mendecakkan lidah saat baru saja selesai dari toilet, dan langsung disambut oleh Arga yang sedang berdiri di depan dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Melihat Zahra yang sudah keluar, Arga segera mendekati gadis itu.


"Kamu sudah selesai?" tanya Arga.


"Sudah, Tuan. Saya pikir Anda sudah kembali ke depan lagi," sahut Zahra. Memasang wajah malas.


"Aku takut kamu tidak tahu jalan kembali," ucap Arga setengah meledek.


"Anda pikir saya seperti anak tiga tahun yang—"


"Jangan banyak bicara." Zahra terdiam saat Arga tiba-tiba menarik dirinya dan mengajak pergi dari toilet itu. Zahra hendak mendebat, tetapi Arga justru memasang sikap tidak acuh.


Setibanya di depan, Arga langsung menyuruh Zahra untuk duduk dan menikmati makanannya. Namun, bukannya makan, Zahra justru hanya menatap makanan tersebut. Arga pun tidak lepas mengawasi Zahra.


"Kamu tidak suka dengan makannnya?" tanya Arga, menatap Zahra penuh selidik. Sementara kedua orang tua Arga hanya diam dan terus menelisik wajah Zahra.

__ADS_1


"Su-suka, Tuan." Zahra menjawab gugup. Dia melihat daging steak yang terlihat begitu menggugah selera.


"Kalau begitu makanlah," suruh Arga. Kembali melanjutkan makan.


"Tuan," bisik Zahra. Dia berkedip untuk memberi kode. Arga yang paham akan hal itu pun segera mendekatkan telinganya. "Saya tidak bisa dan tidak terbiasa makan pakai pisau dan garpu, Tuan."


Arga melongo sesaat, lalu menoleh ke arah Zahra yang sedang menunjukkan rentetan gigi putihnya. Ingin sekali Arga tertawa, tetapi dia tidak mau membuat Zahra malu di depan orang tuanya.


"Kalau begitu makanlah sebisamu! Jangan memakai pisau atau garpu!" perintah Arga.


"Kenapa kalian makan bisik-bisik?" tanya Gerry. Mengejutkan Arga dan juga Zahra.


"Tuan, bolehkah saya makan di belakang atau sendirian saja? Saya tidak mau membuat kalian malu," pinta Zahra ragu. Arga langsung mendelik ke arah Zahra yang saat ini sedang menunduk dalam.


"Memangnya kenapa? Jangan lupa, kita di sini untuk makan malam bersama." Arga mulai kesal.

__ADS_1


"Saya hanya tidak mau membuat kalian malu." Zahra menjawab lirih.


"Kenapa kita mesti malu?" Kali ini, Melda yang membuka suara.


"Maaf, Nyonya. Karena saya hanya gadis kampung yang tidak bisa bersikap anggun seperti gadis dari kalangan konglomerat. Saya hanya bisa menjadi diri saya sendiri, Tuan dan Nyonya," papar Zahra.


Gerry dan Melda tersenyum tipis, sedangkan Arga hanya mengembuskan napas panjangnya.


"Bersikaplah seperti biasa dan jadilah dirimu sendiri. Itu lebih baik daripada kamu harus berpura-pura menjadi orang lain," ujar Arga.


Zahra menatap lelaki itu sekilas. Ketika melihat sorot mata Arga yang meyakinkan, Zahra pun mengangguk. Dia bangkit berdiri dan menuju ke tempat biasa untuk mencuci tangan. Arga dan orang tuanya hanya menatap apa yang dilakukan Zahra.


Setelahnya, mereka terkejut ketika melihat Zahra dengan lahap makan nasi beserta daging steak tersebut menggunakan tangan. Bahkan, mereka sampai menelan ludah saat melihat Zahra. Seolah makanan tersebut sangatlah enak.


"Ini sangat enak, Tuan." Zahra berbicara antusias di sela kunyahannya.

__ADS_1


"Bisakah kamu makan dengan pelan? Kamu seperti orang yang sedang kelaparan," cebik Arga. Dia bahkan berhenti makan hanya untuk melihat Zahra.


"Bukan sedang kelaparan, Tuan. Tapi kampungan. Heheh maaf, saya baru pertama kali makan daging seenak ini setelah usia saya dua puluh tahun lebih," terang Zahra. Mereka semua pun terkejut mendengar ucapan Zahra.


__ADS_2