
"Zae! Suk! Mar!" Rasya mengetuk pintu rumah kontrakan berkali-kali. Namun, tidak ada sahutan sama sekali bahkan pintunya terkunci rapat.
"Kamu tidak punya kunci cadangan?" tanya Pandu yang sedari tadi setia di belakang Rasya.
"Enggak, Mas. Kuncinya udah kukasih mereka semua." Rasya menjawab lesu.
"Kalau begitu kita tunggu di sini saja. Jangan terus mengetuk pintu. Aku tidak mau tanganmu terluka," ucap Pandu. Rasya tersenyum lebar saat mendengar perhatian Pandu padanya.
Rasya menurut, dia pun hendak duduk di depan rumah. Namun, belum juga pantatnya menyentuh kursi, Rasya sudah kembali berdiri saat melihat kedua sahabatnya yang baru saja pulang.
"Rasya!" pekik Zety dan Margaretha bersamaan. Mereka berlari dan memeluk Rasya erat. Jujur, mereka sangat merindukan sahabatnya itu.
"Kalian dari mana?" tanya Rasya saat pelukan itu baru saja terlepas.
"Habis jalan-jalan. Elu kenapa enggak ngomong kalau mau ke sini," rengek Zety.
"Jangan sok manja!" cebik Margaretha, menonyor kepala Zety hingga membuat Zety berteriak kesal dan Rasya hanya tergelak keras saat melihatnya.
__ADS_1
"Elu jahat banget, Mar," protes Zety, tetapi Margaretha justru menjulurkan lidah untuk mengejek. Zety bersiap hendak membalas Margaretha, tetapi belum juga bergerak, Rasya sudah menahannya.
"Kalian tidak ada yang berniat membukakan pintu untuk ibu hamil ini?" sindir Rasya.
"Astaga, gue lupa! Pantesan aja laki elu dari tadi ngelirik tajem mulu," bisik Zety. Rasya hanya terkekeh dan menatap Pandu yang sedang memasang raut wajah kesal.
Zety pun membuka pintu dan mengajak mereka untuk masuk. "Elu mau minum apa biar gue buatin, Ra?"
"Cendol dawet." Rasya menjawab asal.
"Elu yang bener aja, Ra. Mana ada cendol dawet di daerah sini. Adanya di pasar noh, jauh! Elu 'kan tahu sendiri."
Zety lupa kalau Pandu sudah seperti pengawal untuk Rasya, bahkan lelaki itu akan murka saat ada yang menyakiti Rasya meski hanya sedikit. Margaretha bangkit berdiri dan masuk untuk mengambil jalan aman. Margaretha juga merasa sungkan jika ada Pandu di sekitar mereka.
"Zaenab mana?" tanya Rasya saat tidak melihat keberadaan Zahra sama sekali.
"Lagi pergi sama Mas Yudha." Zety menjawab malas.
__ADS_1
Rasya menghela napas panjang saat mendengarnya. Bahkan, wajah Rasya mendadak muram. Zety yang menyadari raut wajah sahabatnya pun hanya bisa menatap lekat tanpa berkomentar apa-apa.
"Gue bawa teh panas buat penghangat suasana." Margaretha keluar dengan membawa tiga gelas teh panas. Namun, Margaretha merasa heran saat melihat raut wajah Rasya dan Zety.
"Kenapa?" Margaretha memilih duduk di samping Zety.
Rasya pun menceritakan kejadian saat membeli martabak dan dia melihat Yudha yang sedang bersama Sonia. Bahkan, Rasya masih melihat jelas bagaimana dekatnya Yudha dengan wanita itu. Zety dan Margaretha terkejut saat mendengar itu. Mereka masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang diceritakan Rasya.
"Elu yakin enggak salah lihat, Ra?" tanya Zety memastikan.
"Yakinlah. Kalau enggak percaya tanya aja sama Om Panu." Rasya menjawab asal. Pandu yang sedari tadi sibuk bermain ponsel pun, mengalihkan perhatian kepada Rasya. Lalu dengan gemas menciumi pipi Rasya.
"Mas! Malu!" Rasya berusaha menyingkirkan wajah Pandu yang masih menempel padanya.
"Sekali lagi kamu memanggil seperti tadi, aku tidak akan segan-segan mengajakmu bercinta di sini!" ancam Pandu.
"Wow! Luar biasa!" pekik Zety dan Margaretha bersamaan saat mendengar ancaman Pandu. Rasya dengan kesal menonyor kepala kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Dasar kalian! Otak-otak mesum!"