Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
45


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju ke kampung, suasana di mobil terasa begitu canggung. Tiga gadis tukang rusuh tersebut tidak berani berbuat ulah karena takut akan kena amarah Arga. Sementara Arga hanya diam dan sibuk bermain dengan ponselnya.


"Mar, gue laper," bisik Zety yang duduk di tengah.


"Sama, gue juga laper banget." Margaretha menjawab lirih karena tidak ingin kalau Arga sampai mendengarnya.


"Suk, elu kagak laper?" tanya Zety, menoleh ke arah Zety yang terlihat sibuk menatap ke luar jendela.


"Ehem! Kalian lapar?" Arga mengalihkan pembicaraan mereka.


"Tidak, Tuan." Tiga gadis itu menjawab bersamaan.


"Kalian yakin? Sepertinya sejak dalam perjalanan empat jam lalu, kita belum mampir ke rumah makan," ucap Arga. Bibirnya tersenyum miring.


"Anda tenang saja, Tuan. Kita ini udah terbiasa menahan lapar. Jadi, kita jamin bisa kuat sampai di kampung si Kurap," tutur Margaretha.


"Baiklah. Kalau begitu jalan terus, Dan. Jangan berhenti di rumah makan meskipun perjalanan masih sekitar tiga jam lagi," suruh Arga.


"Jangan, Tuan!" Zety menginterupsi.

__ADS_1


"Kita bisa pingsan kalau sampai tidak berhenti di rumah makan," imbuh Margaretha.


"Bener banget. Apalagi kita bertiga. Kalau pingsan bersamaan, sudah pasti kalian berdua akan kewalahan." Zahra pun tidak mau kalah.


"Jadi?" Arga berbalik dan menatap tiga gadis tersebut secara bergantian.


"Kita makan!" sahut Zety, Zahra, dan Margaretha bersamaan.


Arga tersenyum sinis, lalu kembali duduk seperti semula dan menyuruh Dani untuk berhenti di salah satu restoran terdekat. Namun, Dani menghentikan mobilnya secara mendadak saat Zahra menyuruh berhenti hingga ketiga gadis itu terhuyung ke depan. Bahkan, Zety sampai membentur belakang jok yang diduduki Arga.


"Zaenab!" pekik Zety.


"Bisakah kamu tidak menyuruh berhenti mendadak?" Arga kesal. Rasanya dia ingin merem*s wajah Zahra yang saat ini tampak memelas.


"Maaf ... gue cuma pengen makan bakso itu." Zahra menunjuk ke tepi jalan di mana ada sebuah warung bakso dengan tulisan "Bakso Beranak" di depannya.


"Yang benar saja! Kita bisa makan di restoran yang lebih bersih dan teruji secara klinis!" tolak Arga. Dia jarang makan di tempat seperti itu.


"Kalau begitu turunkan saya di sini saja, Tuan. Saya nanti naik bus saja ke kampung Rasya." Zahra mengalungkan tas selempang kecil di pundaknya.

__ADS_1


"Zae. Gue ikut elu." Zety menahan Zahra, begitu juga dengan Margaretha.


"Ish! Kenapa kalian selalu membuat aku pusing." Arga mengusap wajah kasar. "Parkirkan mobilnya di depan warung bakso itu, Dan."


Ketiga gadis itu bersorak bahkan ber-tos ria saat mendengar perintah Arga yang menandakan lelaki itu setuju. Arga dibuat menggeleng tidak percaya saat melihat ketiga gadis itu saling berebut turun lalu berlari masuk ke warung makan. Persis seperti emak-emak yang sedang mengejar barang diskonan.


"Astaga, mereka kampungan sekali." Arga memijat pelipis untuk mengurangi rasa pusing yang mulai terasa. Dani yang berdiri di samping Arga pun hanya terkekeh melihat atasannya.


"Yang sabar ya, Bos." Dani dengan berani menepuk pundak Arga.


"Diamlah, Dan!" ketus Arga. Namun, gelakan tawa Dani justru terdengar.


"Bos, kalau Anda sering bersama gadis-gadis mereka, ditambah Nona Muda Rasya, saya yakin baik Anda ataupun Tuan Pandu akan awet muda karena selalu terhibur," ujar Dani setengah meledek.


"Yang ada, wajahku makin cepat kelihatan tua dan juga tensi darahku bisa saja naik setiap hari!"


"Tapi, Bos ...."


"Diamlah! Atau kupotong gajimu bulan ini sebanyak delapan puluh persen!" ancam Arga. Dia menyusul masuk, sedangkan Dani hanya mengusap dada, tetapi senyum di bibir Dani tidak sedikit pun memudar.

__ADS_1


__ADS_2