
Zahra membiarkan Laras cukup lama memeluk dirinya karena jujur Zahra juga merasa sangat nyaman dengan pelukan itu. Sebuah pelukan yang terasa lain, berbeda dengan pelukan Ibu Henny. Ingin sekali Zahra membalas pelukan Laras, tetapi dia tidak memiliki keberanian.
"Tante ...."
Belum juga Zahra selesai berbicara, Laras sudah melerai pelukan itu lalu menangkup kedua pipi Zahra dengan penuh sayang. Zahra bisa melihat wajah Laras yang sudah dipenuhi jejak air mata.
"Shaqueena, mama tidak menyangka kamu sudah sebesar ini. Hampir dua puluh tahun mama dan papa kehilangan kamu. Sekarang mama bisa menemukanmu." Air mata Laras kembali mengalir. Sungguh, wanita itu tidak menyangka kalau dirinya akan dipertemukan dengan putrinya yang sudah menghilang selama puluhan tahun.
Hampir sama dengan Laras, Setya pun tanpa sadar menitikkan air mata. Menatap putri kesayangan yang selama ini selalu dia sebut dalam doa-doanya. Sekarang, kesabaran Laras dan Setya membuahkan hasil. Mereka bisa dipertemukan lagi dengan putri yang telah lama dicarinya.
"Maksud Tante apa?" tanya Zahra memberanikan diri. Meskipun Laras maupun Setya belum menjawab, tetapi dari sorot mata wanita itu, Zahra bisa menangkap sesuatu hal dan jantung Zahra berdegup kencang karenanya.
"Sayang ... kamu adalah putri mama dan papa yang hilang."
"Ini tidak mungkin." Zahra menyingkirkan tangan Laras lalu mundur dan berdiri di belakang Arga.
"Sayang, kemarilah. Papa sangat merindukanmu," perintah Setya, tetapi Zahra menggeleng cepat. Menolak permintaan lelaki itu karena Zahra masih belum percaya.
"Mas ...." Zahra menggandeng lengan Arga erat, lalu menatap lelaki itu untuk meminta penjelasan. Namun, Arga justru tersenyum lebar hingga membuat Zahra makin merasa takut.
__ADS_1
"Za, Tante Laras dan Om Setya ini adalah papa mama kamu. Mereka orang tua kandungmu," ungkap Arga. Namun, tatapan Zahra belum terputus sama sekali dari Arga.
"Jangan bercanda, Mas." Zahra menggeleng berkali-kali. Gadis itu benar-benar tidak percaya sama sekali dengan semua ini.
"Kita tidak sedang bercanda, Za. Mereka memang orang tua kandungmu. Bahkan, kita sudah melakukan tes DNA dua minggu lalu, tepat setelah Om dan Tante sampai di Indonesia," terang Arga.
"Bagaimana kalian bisa melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanku?" Zahra mulai kesal, tetapi Arga dengan erat menggenggam tangan Zahra.
"Maaf, waktu itu ...." Arga pun menceritakan saat di mana dia mengambil rambut Zahra di panti asuhan dengan dibantu oleh Ibu Henny setelah curiga dengan wajah Zahra yang sangat mirip dengan Laras.
"Dan tes DNA itu hasilnya positif." Arga menutup ceritanya.
"Ma-Mama." Zahra terbata. Lidahnya masih terasa kaku untuk mengucapkan panggilan itu.
"Ya ... ini mama, Sayang, dan ini papa." Baik Laras maupun Setya makin mengeratkan pelukan mereka. Seolah meluapkan segala rasa rindu yang selama ini sudah menggunung.
"Pa, aku tidak menyangka kalau Zahra adalah putri Laras." Melda memeluk Gerry. Wanita itu pun menangis haru. Sungguh, ini merupakan sebuah mukjizat untuk Laras, sahabatnya.
"Ya, takdir Tuhan itu luar biasa." Gerry mengusap kedua sudut matanya yang juga telah basah.
__ADS_1
Sementara Arga, menatap tiga orang yang sedang berpelukan erat. Arga pun merasa sangat bahagia dan terharu.
Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata adalah putri Om Setya dan Tante Laras yang sudah menghilang bertahun-tahun, Za. Aku bahagia. Bahkan sangat bahagia. Semoga setelah ini hidupmu juga akan semakin bahagia.
Arga mengusap sudut matanya. Pemandangan di depan itu, sungguh membuat siapa pun yang melihat pasti akan ikut menangis haru.
β’β’β’β’
Ciee, udah pada bisa tidur belum nih?
seneng 'kan? ciee cieee
semangatin Othor ya karena kisah Zahra dan Arga sebentar lagi tamat. π€
Selamat beristirahat guys, nih, Othor kasih kalian buket cabe karena cabe lagi mahal. Terima kasih atas kesetiaan kalian. Lope kalian banyak-banyak ππππ
bab selanjutnya besok, ya
__ADS_1