Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
58


__ADS_3

Setelah memastikan Zahra dalam keadaan aman, Yudha pun mulai maju menyerang kedua lelaki tadi tanpa rasa takut. Satu pukulan mendarat di pipi Yudha dan membuat darah mengalir dari sudut bibirnya. Zahra hendak maju, tetapi kedua anak buah Arga menahan dan meminta Zahra untuk tetap tenang.


Ketika sebuah pukulan hendak mendarat lagi, dengan gerakan gesit Yudha menendang kaki musuh hingga lelaki itu jatuh terjerembab dan mencium aspal. Yudha tersenyum puas sembari mengusap sudut bibir. Sebenarnya, Yudha sudah cukup lemas, tetapi dia berusaha mengumpulkan segala kekuatan yang tersisa untuk membalas dendam kepada orang yang telah membuat Zahra ketakutan.


"Kamu yakin bisa mengalahkan kita? Cih!" Orang bertubuh kekar tersebut kembali meludah sembari menghina Yudha.


"Aku tidak akan pernah takut! Kalian harus mendapat balasan karena sudah membuat Zahra ketakutan!" Suara Yudha masih terdengar sangat tegas.


"Hentikan, Mas! Aku baik-baik saja! Jangan diteruskan!" Zahra berteriak untuk menghentikan perkelahian itu. Namun, lagi-lagi Yudha tidak peduli dan kembali beradu kekuatan dengan pria tadi.

__ADS_1


Zahra tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia hendak menolong, tetapi ditahan. Yang bisa dilakukan Zahra saat ini hanyalah menangis dan berdoa untuk Yudha.


Tiba-tiba, Zahra mengusap air mata yang sudah membasahi hampir di seluruh wajahnya dengan cepat saat melihat sebuah mobil yang tidak asing berhenti di sampingnya. Zahra berlari mendekat saat Arga dan Pandu baru keluar dari mobil tersebut.


"Tuan, tolong saya." Zahra menggoyangkan lengan Arga dengan cepat. Sementara Arga menatap iba wajah Zahra yang sudah penuh jejak air mata.


"Aaggghhhh!!!"


"Mas Yudha!" teriak Zahra. Berlari kencang mendekati Yudha yang sudah tidak sadarkan diri. Arga pun langsung menyuruh anak buahnya untuk mengejar dua orang yang sudah kabur tadi.

__ADS_1


"Mas!" Zahra menggoyangkan tubuh Yudha cepat. Bahkan, air mata sudah membanjiri wajahnya dan Zahra tidak berniat sedikit pun untuk mengusapnya. "Bangun, Mas! Bangun!"


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Arga menyingkirkan tubuh Zahra dengan pelan lalu membopong Yudha menuju ke rumah sakit. Tanpa banyak bicara Pandu dan Zahra pun ikut masuk ke dalam mobil yang saat ini sedang dikendarai oleh Pandu dengan kecepatan tinggi.


Setibanya di rumah sakit, Yudha langsung ditidurkan di atas brankar dan dimasukkan ke ruang gawat darurat, sedangkan Zahra menunggu di depan ruangan dengan ditemani Arga dan juga Pandu.


Air mata Zahra tidak berhenti mengalir sama sekali meskipun sudah coba untuk diusap. Zahra merasa rapuh dan tidak tahu lagi harus ke mana mencari tempat meluapkan segala perasaan yang sedang campur aduk saat ini. Hanya ketiga sahabatnya yang dia miliki, tetapi saat ini mereka tidak berada di sana. Zahra pun menutup wajah untuk meredam tangisannya.


Akan tetapi, Zahra tiba-tiba terdiam saat merasakan sebuah pelukan yang terasa hangat. Kepala Zahra sedikit ditarik hingga bersandar pada dada bidang yang terasa begitu nyaman. Zahra tidak berani memberontak. Hanya menghirup aroma parfum maskulin yang masuk ke indera penciumannya.

__ADS_1


"Tenanglah. Yakinlah kalau Yudha akan baik-baik saja. Dia hanya sedikit terluka." Suara Arga mampu memberi sedikit ketenangan di hati Zahra yang saat ini sedang sangat gelisah.


__ADS_2