Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
91


__ADS_3

Mobil milik Gatra baru saja terparkir di depan Restoran Gama. Sebelum Gatra turun dari mobil, Zety dan Margaretha justru sudah turun terlebih dahulu. Kedua gadis itu berebut masuk hingga membuat Gatra yang baru keluar mobil, menggeleng saat melihatnya.


"Kalian kenapa pagi-pagi sudah berisik?" dengkus Andra. Sejak Margaretha bekerja di Restoran Gama, Andra harus bersabar dengan dua gadis satu spesies itu.


"Diamlah, Ndra!" Margaretha melirik Andra tajam lalu menaruh tas miliknya di tempat khusus penyimpanan tas.


"Ditanya gitu aja sewot. Cewek yang suka sewot gitu biasanya susah lakunya," ledek Andra. Sesaat kemudian lelaki itu terkekeh saat Margaretha sedang berkacak pinggang dan menatap kesal kepadanya.


"Elu ngomong apa? Belum pernah merasakan nikmatnya sepatu gue, lu?" Margaretha berpura-pura hendak melepas sepatunya. Namun, Andra sudah terlebih dahulu meninggalkan gadis itu begitu saja.


"Woee!! Jangan kabur!" teriak Margaretha.


"Astaga, Mar. Elu sama Andra perasaan baru kenal beberapa hari, tapi tiap hari ribut mulu. Awas! Jangan-jangan kalian jodoh," goda Zety. Menaik-turunkan alisnya. Namun, Zety mengaduh saat tonyoran tangan Margaretha mendarat bebas di kepalanya hingga membuat gadis itu hampir saja terjengkang.

__ADS_1


"Elu kalau ngomong yang bener aja, Suk. Ogah banget gue harus sama laki-laki judes gitu. Udah galak, gantengnya standar pula. Mendingan gue sama Mas Agus. Oohhh Mas Agus," ujar Margaretha.


Zety terdiam saat mendengarnya. "Mas Agus kakaknya si Kurap?" tanya Zety memastikan. Margaretha mengangguk cepat. "Sejak kapan elu suka sama Mas Agus?" Zety menatap Margaretha penuh selidik.


"Sejak planet bumi dikuasai oleh manusia. Hahahaha. Asem!" Tawa Margaretha meredam saat dirinya terduduk paksa karena didorong oleh Zety. "Untung aja ada kursi."


"Emangnya kenapa kalau ada kursi?" Zety mengangkat sedikit dagu menunjuk ke arah Margaretha.


"Kalau enggak ada kursi, bokong gue nyium lantai. Terus kalau perawan gue ilang gimana?" gerutu Margaretha.


"Kalian ini mau kerja apa mau ngobrol!" Suara Andra dari arah pintu berhasil menghentikan perdebatan di antara dua gadis itu. Mereka pun segera mulai bekerja. Di dalam restoran tersebut, Andra justru lebih disiplin soal waktu daripada Gatra sang pemilik restoran itu sendiri.


***

__ADS_1


Jam sudah menunjuk angka lima lebih, Zety dan Margaretha baru saja sampai di rumah kontrakan, sedangkan mobil Gatra baru saja lenyap dari halaman rumah tersebut. Dengan lesu, Zety hendak membuka pintu itu, tetapi dia terdiam saat baru saja akan memasukkan kunci, tiba-tiba pintu sudah bisa dibuka.


Zety dan Margaretha pun saling berpandangan. "Kok pintunya enggak dikunci, Suk?" tanya Margaretha bingung.


"Mana gue tahu? Tadi pagi udah gue kunci," jawab Zety.


"Jangan-jangan ... ada maling!" pekik dua gadis itu bersamaan. Lalu mereka berlari masuk ke dalam.


"Itu malingnya, Mar!" teriak Zety. Dengan sigap Marwa mengambil sapu yang tergeletak di samping sofa lalu memukul seorang lelaki yang sedang duduk membelakangi pintu masuk.


"Dasar maling!" Margaretha terus saja memukul lelaki itu tanpa peduli pada teriakan minta tolong yang terus saja dilontarkan.


"Terus, Mar! Terus! Ayo, Mar! Terus! Hajar sampai mampus!"

__ADS_1


Bukannya menolong, Zety justru memberi menyoraki dan membuat Margaretha makin kencang memukulkan sapu itu.


"Berhenti!" Suara lelaki itu menggelegar hingga membuat tubuh Zety dan Margaretha meringsut. Tatapan dua gadis itu tidak terlepas dari lelaki yang hendak mengangkat wajahnya. "Kalian emang sialan!"


__ADS_2