
"Kalau gue bilang enggak mau, berarti enggak, Suk."
"Ikut gue aja, Mar. Elu enggak usah capek-capek nyetir." Zety terus saja merayu.
"Enggak papa capek nyetir, daripada capek hati liatin orang berduaan. Udah gue berangkat dulu. Jangan rayu gue lagi." Margaretha bangkit berdiri dan bersiap untuk mengeluarkan motornya.
"Mar, sayang banget loh. Kalau elu mau berangkat sama gue, elu bisa hemat bensin. Lumayan 'kan hemat sepuluh ribu bisa buat beli cilok punya Mang Asep." Zety terkekeh. Dia yakin kalau sahabatnya pasti tergoda dengan rayuannya kali ini.
"Udah gue bilang kalau gue ...." Margaretha menghentikan ucapannya dan terlihat berpikir keras. "Lumayan ya duit sepuluh ribu dapat cilok dua puluh biji. Kenyang perut gue kalau gitu," gumamnya. Zety yang mendengar itu hanya melipat bibir untuk menahan tawa.
"Makanya, Suk. Ayolah."
Baru saja menutup mulut, terdengar bunyi klakson dari mobil Gatra yang sudah terparkir di halaman. Zety pun menarik tangan Margaretha tanpa aba-aba. Lalu mengunci pintu rapat. Margaretha mendengkus kasar, tetapi akhirnya dia pasrah dan ikut berangkat bersama Gatra.
"Kenapa kamu duduk di belakang?" tanya Gatra kepada Zety yang baru saja duduk di kursi penumpang sebelah Margaretha.
__ADS_1
"Aku mau nemenin Markonah aja, Mas. Kasihan dia di belakang sendirian." Zety beralasan seraya menunjukkan rentetan gigi putihnya. Margaretha berdecak, ternyata dia hanya dijadikan alasan oleh sahabatnya.
"Baiklah. Anggap saja aku saat ini sedang menjadi sopir taksi yang mengantar kalian," keluh Gatra. Melajukan mobil tersebut tanpa berbicara lagi.
Selama dalam perjalanan, suasana di dalam mobil Gatra tampak sunyi. Tidak ada yang membuka suara. Jika Gatra masih kesal karena dirinya seperti supir, berbeda dengan dua gadis somplak yang merasa canggung untuk bercanda.
***
"Kamu masih mau bekerja?" tanya Arga, setengah kesal karena ternyata Zahra memaksa untuk tetap berangkat kerja di perusahaan milik Pandu.
"Kenapa bosan? Kamu bisa pergi dan mengobrol dengan Tante Laras. Aku yakin dia pasti sekarang sangat kesepian." Arga menoleh ke arah Zahra sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Mungkin. Saya akan mengundurkan diri, tapi tidak sekarang."
"Kenapa?" sela Arga, menghentikan ucapan Zahra begitu saja.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin beberapa hari lagi. Saya malu kalau sebentar kerja, sebentar berhenti," ucap Zahra diiringi desah*n kasar.
"Terserah kamu saja." Arga pun memilih diam. Dia juga menyadari kalau dirinya belum memiliki hak sepenuhnya untuk mengatur hidup Zahra.
Arga melajukan mobilnya menuju ke rumah pribadi milik Pandu untuk menjemput lelaki itu. Setibanya di sana, Arga menyuruh Zahra untuk menunggu di mobil karena lelaki itu hanya masuk untuk memanggil Pandu saja. Namun, baru saja Arga masuk ke rumah Pandu, terlihat Rasya berjalan cepat mendekati mobil.
"Kurap!" panggil Zahra heboh saat baru keluar dari mobil.
"Astaga, Zae. Gue kangen banget sama elu." Rasya memeluk Zahra erat dan langsung dibalas oleh gadis itu.
"Kangen-kangen. Bilang aja elu pengen minta sesuatu dari gue." Zahra melerai pelukan mereka lalu menatap Rasya penuh selidik.
"Hehehe. Elu tahu aja, Zae." Rasya menunjukkan rentetan gigi putihnya dan dua jari tanda damai.
"Mau apa elu? Ingat, gue udah mau kerja, jadi jangan macem-macem. Jangan mahal-mahal, gue ini belum gajian." Zahra memberi ancaman, tetapi Rasya justru memukul lengan Zahra hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Kenapa sih, Ra!"
__ADS_1