
Suasana di tempat Arga dan Yudha terasa mencekam. Arga menatap Yudha tajam, sedangkan Yudha justru tampak memelas. Raut wajah Yudha teramat susah dijelaskan.
"Tuan, bolehkah saya berbicara suatu rahasia pada Anda? Tapi saya tidak ingin sampai Zahra tahu semuanya. Saya tidak ingin Zahra akan kepikiran nantinya." Suara Yudha terdengar berat dan diiringi helaan napas panjang.
"Rahasia apa?" Arga mulai penasaran.
"Tuan, sebenarnya saya mencintai Zahra. Gadis kecil yang menjadi cinta pertama saya sejak kita bersama di panti." Yudha menghentikan ucapannya.
"Lalu?" tanya Arga. Menatap Yudha penuh selidik. "Kalau kamu mencintai gadis ceroboh itu. Untuk apa kamu bertanya hal tidak penting itu padaku? Kamu juga justru bercinta dengan seorang jal*ng!"
Amarah, cemburu, dan kekesalan yang menumpuk dalam hati, kini meluap. Bahkan, jika tidak mampu menahan diri saja, Arga sudah memukul Yudha habis-habisan.
"Saya tidak bisa menjaga dia seterusnya, Tuan. Lagi pula, dalam hati dia sudah tertulis nama seseorang dan bukan saya orangnya," papar Yudha.
__ADS_1
"Lalu siapa? Yang kutahu dia sangat mencintaimu bahkan selalu menyebut namamu." Percayalah, Arga berusaha keras untuk menahan rasa cemburu yang bergejolak di dalam dada.
"Mungkin mulutnya bilang mencintai saya, tapi tidak dengan tatapan matanya. Tuan, saya bercinta dengan Sonia hanya untuk menghancurkan wanita sialan itu karena dia berniat akan melukai Zahra."
"Menghancurkan? Dan kamu melakukan hal yang menjijikkan. Kamu bahkan tanpa sadar sudah melukai hati Zahra! Seharusnya kamu sadar itu! Kalau memang kamu akan menghancurkan Sonia, bukan hanya dengan itu, tapi masih bisa dengan cara yang lain!" sergah Arga. Tangannya terkepal erat.
"Tuan, saya hanya ingin menularkan penyakit yang saya derita kepada Sonia."
"AIDS."
"A-AIDS?" Arga tersentak mendengar jawaban Yudha. Dia langsung menoleh dan menatap Yudha dengan penuh menuntut. Yudha mengangguk cepat.
"Saya tidak tahu sampai kapan nyawa saya akan bertahan. Maka dari itu, saya ingin memastikan kalau Zahra benar-benar sudah hidup bahagia dan berada di samping orang yang tepat," ucap Yudha getir. Rasa sakit yang makin lama makin membuat nyawanya berada di ujung tanduk, membuat Yudha akhirnya memilih untuk pasrah.
__ADS_1
Tatapan Arga ke arah Yudha menjadi nanar. Tidak menyangka kalau lelaki yang wajahnya tampak telihat sehat justru bersarang penyakit yang mematikan. "Apa tidak bisa disembuhkan?" Suara Arga terdengar lirih dan penuh iba.
"Tuan, seharusnya Anda tahu kalau penyakit yang saya derita itu belum ada obatnya. Kalaupun diobati hanya makin memperparah, dan cara yang bisa dilakukan hanyalah memperlambat." Yudha mengusap setitik air mata yang mulai membasahi sudut matanya. Dia juga tidak menyangka kalau satu kesalahan yang pernah dilakukan, membawanya lebih dekat pada pintu kematian.
"Bagaimanapun juga Zahra harus tahu semuanya. Setidaknya dia bisa membuat dirimu lebih kuat," ujar Arga. Namun, Yudha menggeleng cepat.
"Tidak, Tuan. Saya tidak tega melihat dia menangis. Saya hanya ingin bersamanya selama tiga hari sebelum saya pergi." Yudha bersandar kursi, tatapannya ke langit-langit ruangan tampak kosong.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Arga tidak sabar.
"Saya ingin pergi jauh di mana Zahra tidak akan pernah bisa menemukan saya. Saya hanya ingin menjemput kematian dengan menjadi pribadi yang lebih baik. Nanti jika saatnya tiba, saya ingin Anda membawa Zahra ke tempat saya. Apa Anda bersedia, Tuan?" Yudha memejamkan mata. Bahkan, air mata yang ditahan pun akhirnya lolos juga.
"Di mana tempatnya?" tanya Arga. Yudha merogoh saku celana dan menyerahkan sebuah kertas. Arga pun tergesa membuka kertas tersebut.
__ADS_1