Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
75


__ADS_3

Jantung Ibu Henny seperti berhenti berdetak saat itu juga. Wanita itu mendadak bungkam. Bahkan, raut wajahnya mendadak pias. Arga yang melihat itu pun menjadi penasaran.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Arga menyadarkan Ibu Henny dari lamunan.


"Ba-baik, Tuan. Emmm ... bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu, Tuan?" Ibu Henny menatap Arga penuh selidik.


"Jadi gini, Bu, barusan mama saya bilang kalau wajah Zahra sangat mirip dengan Tante Laras, dan Tante Laras ini dulu punya bayi perempuan, tapi diculik dan sampai sekarang belum ketemu. Saya hanya ingin memastikan saja," terang Arga. Wajah Ibu Henny terlihat susah dijelaskan. Pikiran wanita itu mendadak tidak karuan.


"Tuan, mungkinkah Zahra adalah anak mereka?" Embusan napas panjang terdengar keluar dari mulut Ibu Henny. Bahkan, Arga bisa melihat jelas kedua mata wanita paruh baya itu tampak berkaca-kaca.


"Saya juga belum tahu, Bu. Maka dari itu saya meminta rambut Zahra untuk melakukan tes DNA dengan mereka. Saya harap, semoga hasilnya cocok." Mendengar ucapan Arga, air mata Ibu Henny justru mengalir membasahi kedua pipinya.


Arga pun mendadak cemas dan langsung berjongkok di depan wanita itu. "Kenapa Ibu menangis?"


"Kalau memang Zahra anak mereka, sudah pasti ibu akan semakin jauh dengan dia. Zahra pasti sangat bahagia bisa bertemu dengan orang tuanya." Ibu Henny tersenyum getir. Rasa sakit karena kehilangan Yudha sampai saat ini belum juga sembuh, dan kalau memang Zahra adalah anak Laras, sudah pasti Ibu Henny akan merasa makin kehilangan. Jujur, dia belum sanggup untuk itu.

__ADS_1


"Bu, percayalah. Kalaupun Zahra adalah anak dari Tante Laras dan Om Setya, saya yakin kalau Zahra tidak akan pernah melupakan Ibu. Saya yakin kalau Zahra bukanlah orang yang tidak tahu bagaimana cara membalas budi." Arga berusaha menenangkan. Dia tahu betapa khawatirnya Ibu Henny saat ini.


"Saya takut, Tuan." Suara Ibu Henny terdengar bergetar karena tangisan.


"Jangan takut. Ada saya, Bu. Lagi pula, Tante Laras dan Om Setya itu orangnya baik. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir." Arga berbicara selembut mungkin.


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita ke kamar Zahra."


Ibu Henny bangkit berdiri dan disusul Arga di belakang. Ketika masuk ke kamar Zahra, Arga mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Tidak terlalu luas, tetapi kamar itu sangat rapi. Banyak foto Zahra dan ketiga sahabat somplaknya yang terpajang di sana.


"Ini, Tuan." Ibu Henny menunjukkan sehelai rambut yang dipegang. Dengan antusias, Arga mengambil rambut tersebut dan meminta satu plastik kecil sebagai tempatnya.


Setelah mendapat apa yang diinginkan, Arga langsung berpamitan karena malam sudah hampir larut. Ibu Henny hanya mengiyakan dan mengantar sampai depan pintu.


"Aku sangat berharap dugaanku benar, Za." Arga menatap sehelai rambut Zahra, lalu menyimpan di saku jas dalam. Setelahnya, Arga melajukan mobilnya ke apartemen karena Arga yakin kedua orang tuanya sudah menunggu di sana.

__ADS_1


••••••


Hallo haiiii, adakah yang merindukan Othor?


maaf nih kemarin Othor libur karena ada sesuatu hal, dan dari semalam jaringan bermasalah, sinyal baru aja nongol guys.


Gimana nih? Masih mau kelanjutan kisah Zahra? wkwkwk ciee hilal bahagia kayaknya udah di depan mata nih 😅😅


dukungan jangan lupa, Othor tunggu


seblaknya juga 🤣🤣


makan yuk guyss


__ADS_1


__ADS_2