
Untukmu : Az-Zahra Shakila—adik kecil kesayanganku.
Apa kabarmu, Ra?
Ketika surat ini sudah sampai di tanganmu, itu artinya kita sudah berada di alam berbeda. Maafkan aku, Ra. Aku terlalu pecundang karena tidak memiliki keberanian untuk mengatakan semuanya secara langsung ketika aku masih bisa bernapas.
Ra, aku mencintaimu, bahkan sangat. Bagiku, kamu lebih dari sekedar adik yang aku sayangi. Tapi kamu lebih dari segalanya. Bahkan, kamu adalah separuh napasku. Tapi, waktu seolah menyadarkanku kalau kita tidak akan pernah berjodoh, Ra.
Aku pernah melakukan satu kesalahan besar yang membuat aku sangat menyesal. Aku telah menodai rasa cintaku padamu. Aku bercinta dengan seorang wanita malam tanpa sadar. Bukan hanya itu yang membuat aku menjadi benci dengan diriku sendiri. Tapi karena perbuatan setan itu, aku harus mengidap penyakit mematikan.
Sakit, aku sakit, Ra. Saat semua hal indah yang sudah kurancang denganmu harus musnah. Bahkan, aku harus belajar menghapus perasaanku padamu. Aku sayang kamu melebihi diriku sendiri, Ra.
Seiring berjalannya waktu, aku yakin kalau kamu tetap bisa hidup bahagia dengan seseorang yang saat ini berada di sampingmu. Aku yakin, lelaki itu bisa menjagamu dengan sangat baik. Bahkan, aku bisa melihat cinta dari tatapan matanya padamu.
Ra, aku mohon. Ikhlaskan kepergianku dan berjanjilah akan tetap hidup bahagia. Dan aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dari atas sana. Bukalah hatimu untuk orang lain, dan temukan cinta yang tulus dari seseorang.
Aku mencintaimu, Ra.
Maaf aku harus pergi.
Tertanda
Yudha.
__ADS_1
Air mata Zahra mengalir deras saat baru saja selesai membaca tulisan tersebut. Dia sudah berusaha menyeka, tetapi cairan bening itu tetap saja memaksa keluar.
"Yudha terkena AIDS karena bercinta sekali dengan wanita malam. Aku yakin kamu pasti tahu kalau penyakit AIDS itu tidak akan pernah bisa disembuhkan. Hanya kematian yang menjadi jalan satu-satunya. Tapi aku salut, aku tidak menyangka kalau Yudha sangat sayang padamu. Dia rela mengorbankan nyawanya demi untuk melindungimu."
"Tuan, Anda sudah tahu semuanya, tapi kenapa Anda tidak bilang pada saya?" tanya Zahra di sela isak tangisnya.
"Aku hanya menjalankan perintah Yudha. Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Kuharap kamu bisa ikhlas dengan kepergian Yudha."
"Pergilah, Tuan. Saya sedang ingin sendiri dan jangan pernah lagi Anda mendekati saya. Jujur, saya kecewa dengan kalian yang selama ini menyembunyikan semuanya dari saya," usir Zahra.
Arga hendak menolak, tetapi melihat tatapan memohon dari Zahra, membuat Arga memilih pergi dan memberi waktu untuk gadis itu menenangkan diri. Selepas kepergian Arga, tubuh Zahra luruh ke lantai dan menangis terisak. Sungguh, Zahra tidak tahu lagi harus bagaimana menjalani semua ini. Semuanya terasa sangat berat untuknya.
Kehilangan dan sebuah fakta yang mampu meremuk-redamkan hati Zahra menjadi hancur lebur tak bersisa.
"Zae ... masih ada kita di sini."
"Jangan bersedih lagi, dan ikhlaskan kepergian Mas Yudha, Zae."
"Elu pasti kuat, Zae."
"Dan kita tidak akan pernah tinggalin elu sendirian."
Tangisan Zahra makin kencang. Dia tidak menyangka akan memiliki sahabat yang luar biasa seperti mereka. Pelukan mereka berempat pun mengerat.
__ADS_1
"Eh jangan erat-erat. Kasihan calon jabang bayi gue nanti," ucap Rasya. Mereka pun sadar dan melonggarkan pelukan itu.
"Gue lupa kalau ada baby Bisul di sana," seloroh Zety. Membuat mereka semua tertawa termasuk Zahra.
"Iya, dong. Biar pun bisul, tapi ini Bisul kualitas super." Rasya menepuk dada tanda bangga.
"Astaga, Kurap!" Zety dan Margaretha menggeleng, sedangkan Zahra tersenyum lebar.
Dia merasa bahagia memilik sahabat yang bisa mengobati luka hatinya. Mereka berempat pun berpindah ke kamar dan mengobrol banyak hal.
•••
Jangan sedih terus ya, Zae.
Masih ada tiga sahabat somplak yang akan membuat hidupmu berwarna.
Kalau kamu sedih terus, itu berat.
Othor enggak akan kuat 😭😭
Selamat pagi guys,
Ciee yang pagi-pagi udah nangis terus ketawa 😅
__ADS_1
Salam sayang dari Othor Kalem Fenomenal 😘😘
adakah yang menanti baby Bisul? 😅