Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
30


__ADS_3

Keesokan paginya, Zahra begitu terburu keluar dari kamar padahal gadis itu semalaman tidak bisa tertidur. Zety dan Margaretha yang sedang duduk di depan televisi pun menjadi terheran.


"Elu mau ke mana, Zae?" tanya Margaretha.


"Gue harus pergi. Ada urusan." Zahra menjawab singkat dan pergi begitu saja. Dua gadis itu menjadi makin curiga dan diam-diam mengikut di belakang.


Motor yang dikendarai Zahra terus melaju membelah jalanan kota yang cukup padat. Hampir lima belas menit berada dalam perjalanan, Zahra menghentikan motornya di tepi sebuah danau buatan yang terletak cukup di pinggiran. Zety dan Margaretha yang mengikuti pun makin penasaran.


"Zaenab mau ngapain di sini?" tanya Zety, tetapi Margaretha hanya menyuruh diam dan mengawasi. Selang beberapa saat, dua gadis itu terkejut melihat Sonia datang mendekati Zahra.


"Berani juga kamu mengajak bertemu di sini." Sonia menatap sinis ke arah Zahra.


"Katakan apa maksudmu!" seru Zahra. Tatapan Zahra penuh benci kepada Sonia.


"Aku hanya ingin menegaskan padamu untuk jangan dekat-dekat dengan Tuan Arga. Kamu harus tahu kalau dia adalah milikku!" Suara Sonia tidak kalah keras.

__ADS_1


"Milikmu? Kamu gila!"


"Hahaha aku memang gila!"


Zahra bergidik ngeri saat mendengar suara tawa Sonia yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Zahra merasa yakin kalau Sonia memanglah tidak waras.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan wanita lain menjadi milik Tuan Arga. Hanya aku! Hanya aku yang boleh memilikinya!"


"Betapa murahannya dirimu! Kamu bilang mencintai Tuan Arga, tetapi kamu justru bercinta dengan Mas Yudha. Cih!" Zahra meludah. Sonia menjadi meradang saat melihatnya.


Sebuah tamparan mendarat di pipi Zahra. Bahkan, kuatnya tamparan itu membuat kepala Zahra tertarik ke samping. Zahra mengusap pipinya yang terasa memanas. Melihat Zahra disakiti, Zety dan Margaretha pun akhirnya keluar dari persembunyian mereka.


"Berani sekali elu nyakitin sahabat kita!" bentak Zety, tak terima. Zahra tertegun saat melihat kedatangan kedua sahabatnya.


"Wah, luar biasa!" Sonia bertepuk tangan, tetapi bibirnya tersenyum sinis. "Aku tidak menyangka kalau kamu membawa pasukan ke sini. Pantas saja kamu berani."

__ADS_1


"Heh! Nenek Lampir! Sekali aja elu nyakitin sahabat kita, maka kita enggak akan segan-segan buat hidup elu menderita!"


"Bener! Berasa kaya di neraka!" Zety menyambung ucapan Margaretha.


"Aku tidak takut dengan kalian!" Sonia tidak gentar. Dia justru menghubungi beberapa orang untuk datang ke lokasi. Wajah ketiga gadis itu memucat saat melihat senyum licik dari sebelah sudut bibir Sonia.


Tubuh mereka makin menegang saat tiga orang bertubuh kekar datang dan berdiri di belakang Sonia. Menatap tubuh ketiga lelaki itu saja sudah membuat nyali mereka menciut, dan itu mampu menciptakan senyum licik makin terlihat jelas di bibir Sonia.


"Kalian lakukan apa saja pada mereka. Bahkan, kalau kalian ingin bercinta sampai mereka mati pun aku tidak peduli. Aku justru akan membayar kalian mahal!" titah Sonia.


Perlahan, tapi pasti. Ketiga gadis itu melangkah mundur dan bersiap untuk kabur. Mereka menatap sekitar, dan berniat akan meminta tolong, tetapi danau tersebut seperti sudah dibooking oleh wanita iblis itu hingga tidak ada siapa pun yang berada di sana.


"Jangan berniat untuk kabur! Kalian harus memuaskan kita!" teriak salah seorang dari ketiga pria itu.


"Kita harus lari seperti kelinci!" bisik Zahra. Zety dan Margaretha mengangguk lalu berbalik dan hendak kabur, tetapi tubuh mereka langsung jatuh di rumput saat bertabrakan dengan beberapa pria yang baru saja datang.

__ADS_1


"Matilah kita harus menjadi makanan banyak pria kekar gini. Bisa mati lemes gue," gumam Zety. Namun, gadis itu mencebik saat Zahra dan Margaretha menonyor kepalanya secara bersamaan.


__ADS_2