Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
77


__ADS_3

"Zae, gue kira elu udah berangkat." Margaretha menatap Zahra yang sedang sibuk memakai sepatu dengan terburu. Dia melihat jam yang sudah hampir menunjuk pukul setengah delapan.


"Gue kesiangan." Zahra menyambar tas lalu pergi begitu saja. Namun, saat sudah naik motor, Zahra menepuk kening karena lupa membawa kunci. Dengan segera Zahra masuk lagi untuk mengambilnya. Margaretha yang melihat itu pun hanya terkekeh.


Butuh waktu sepuluh menit Zahra sampai di kantor. Gadis itu sengaja mengebut, meskipun takut, tetapi dia tetap memberanikan diri. The power of kepepet daripada terlambat. Setibanya di kantor, Zahra langsung absen dan mulai melakukan pekerjaannya.


Ketika baru saja memegang sapu, Zahra terkejut saat melihat Arga yang berjalan mendekat, "Ada apa, Tuan?" tanya Zahra gugup. Meskipun mereka saat ini telah berstatus sebagai tunangan, nyatanya Zahra masih bersikap segan dan berlaku sebagaimana bawahan kepada atasan.


"Kamu tidak terlambat?" tanya Arga, sedikit menekankan nada bicaranya.


"Tidak, Tuan." Zahra menjawab disertai gelengan kepala.

__ADS_1


"Kalau begitu bekerjalah yang rajin. Jangan lupa sarapan." Arga berlalu begitu saja bahkan tanpa menunggu tanggapan dari Zahra.


Selepas kepergian Arga, embusan napas lega terdengar keluar dari mulut Zahra. Jantung gadis itu terus saja merasa berdebar meskipun hanya sesaat berada di samping Arga. Setelahnya, Zahra kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Ketika mobil yang dikendarai Lisa memasuki area kantor ADS Group, jantung Laras merasa berdebar tidak karuan. Walaupun Laras belum pernah melihat wajah Zahra sama sekali, nyatanya batinnya terus saja merasakan sebuah perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Mobil itu berhenti di depan pintu utama kantor dan langsung disambut oleh petugas keamanan yang berjaga di sana. Tiga wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan berjalan dengan anggun, mampu mengalihkan perhatian karyawan di perusahaan itu. Tak terkecuali Zahra.


Ketika Zahra menyalami Laras, wanita itu mendadak seperti patung. Hanya berdiam diri dan tidak sekalipun melepas jabatan tangan Zahra. Air mata Laras seolah menganak di pelupuk mata. Ya, wajah Zahra memang sangat mirip sekali dengan dirinya. Hanya mata dan hidung yang berbeda. Lebih tepatnya, menuruni Setya di dua bagian itu.

__ADS_1


Laras tak mampu lagi mengungkapkan dengan kata-kata akan perasaan lain yang masuk menghinggapi hatinya. Sebuah debaran aneh yang mampu membuat jantungnya berdetak tidak terkendali. Bolehkah Laras berharap kalau Zahra memang putrinya yang diculik sewaktu bayi? Berdosakah Laras jika berharap seperti itu?


"Nyonya?" panggil Zahra menyadarkan Laras yang langsung melepas jabatan tangan mereka.


"Ma-maaf." Laras gugup sendiri.


"Za, kenalin ini Tante Laras. Sahabat Tante Lisa dan mama." Melda memperkenalkan, Zahra menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis. Lalu sedikit membungkuk hormat dan mengenalkan dirinya.


"Oh, jadi kamu yang namanya Zahra? Calon istri Arga?" tanya Laras, berusaha untuk tetap bersikap biasa. Zahra mengangguk cepat meski merasa sedikit canggung. "Cantik sekali. Aku tidak menyangka kalau Arga akan mendapatkan calon istri secantik kamu."


Tanpa memberi aba-aba, Laras menarik tubuh Zahra masuk dalam dekapannya. Memeluk dengan erat seolah meluapkan rasa rindu yang begitu menggelora. Sementara Zahra hanya diam membisu. Gadis itu pun merasakan sebuah getaran lain. Sebuah pelukan yang tiba-tiba membuat air matanya mengalir tanpa sadar.

__ADS_1


Ibu


Namun, beberapa detik kemudian gadis itu terpaku dan merasa heran, kenapa bisa batinnya menyebut panggilan itu.


__ADS_2