
Arga yang berada di klub malam, tidak peduli pada ponsel yang terus berdering. Pikirannya melayang. Dia seperti kehilangan akal karena terlalu banyak minum. Bahkan, sesekali Arga meracau menyebut nama Zahra. Terkadang dia mengumpati gadis itu, tetapi sesaat kemudian tanpa sadar mengucapkan cinta.
"Anda mabuk, Tuan?" tanya seorang wanita yang mendekati Arga.
"Siapa kamu!" bentak Arga, menyingkirkan tangan wanita itu. Namun, seolah tidak gentar, wanita tersebut justru dengan berani mengusap dagu dan leher Arga.
Arga yang baru pertama kali disentuh wanita, merasakan gelayar aneh hingga membuat seluruh tubuhnya terasa meremang. Arga merasakan sesuatu hal yang mampu membuat dirinya gelisah. Melihat reaksi Arga, wanita itu dengan berani mencium bibir Arga dengan lembut.
"Sial!" Arga mendorong tubuh wanita itu hingga terduduk di atas lantai, di sela dirinya mengembalikan kesadarannya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Dani, anak buah Arga datang cepat. Dengan dibantu dua temannya, Dani memapah Arga untuk pergi dari sana. Tubuh wanita itu menciut saat melihat sorot mata Dani yang tampak tajam seperti seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.
"Beruntung kamu ini wanita, kalau bukan ... sudah pasti aku akan menghajarmu dan bahkan membunuhmu!" Dani menunjuk wajah wanita itu dengan geram. Tidak peduli saat tatapan matanya melihat tubuh wanita tersebut yang terlihat gemetar.
__ADS_1
Setelahnya, Dani memilih pergi dan membawa Arga pulang ke apartemen. Ketika mobil Dani sudah meninggalkan klub malam tersebut, senyum wanita itu tersungging. Dia bertepuk tangan dan beberapa saat kemudian, seorang pria muda datang dengan membawa kamera yang berada dalam genggaman.
"Kamu dapatkan hasilnya?" tanya wanita itu begitu menuntut.
"Sudah." Pria itu mengangguk lalu menunjukkan hasil bidikan kamera miliknya. Senyum wanita itu tampak puas setelah melihatnya.
"Jangan lupa, kirimkan foto itu pada gadis sialan itu," suruh wanita tadi. Pria itu hanya mengangguk mengiyakan. Lalu mereka pun pulang bersama dan akan melewati malam panas bersama.
***
Ketika pintu ruangan terbuka, dengan tergesa Pandu berjalan mendekati dokter yang baru selesai memeriksa Rasya. Bahkan, terlihat jelas gurat kekhawatiran memenuhi seluruh wajah Pandu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Pandu tidak sabar.
__ADS_1
"Tuan ...." Dokter itu menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Pandu yang melihat itu menjadi makin tak karuan rasanya.
"Jangan sampai terjadi apa-apa dengan istriku, Dok! Atau aku akan menutup rumah sakit ini!" seru Pandu. Dia tidak menyadari ucapannya karena rasa khawatir yang begitu memenuhi hatinya.
"Istri Anda sedang istirahat, Tuan. Beruntung sekali Anda membawa ke sini dengan cepat. Kandungan istri Anda masih sangat rawan. Usahakan jangan sampai kelelahan apalagi memiliki beban pikiran yang berat," terang dokter tersebut.
Pandu tidak menjawab dan justru berbalik menatap Zahra penuh dengan kilatan amarah. Zahra menunduk dalam. Tubuhnya gemetaran bahkan keringat dingin sudah membasahi dahinya.
"Pergilah dari kehidupan istriku sebelum kamu bisa menyadari kesalahanmu!"
Zety dan Maragretha berdiri di sisi kanan dan kiri Zahra saat mendengar bentakan Pandu, sedangkan Yudha berdiri di belakang gadis itu. Zahra meremas ujung baju yang dikenakan. Dia memang salah, tapi Zahra tidak mau jika harus pergi dari kehidupan Rasya. Bagaimana juga mereka adalah sahabat baik.
"Ma-maafkan saya, Tuan." Zahra terbata. Dia berusaha keras menahan air mata agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Pandu tidak menjawab, dan justru menghubungi anak buahnya untuk membawa Zahra pergi dari rumah sakit dan memastikan kalau gadis itu tidak akan pernah dekat dengan Rasya lagi. Yudha tidak bisa melakukan apa pun selain menenangkan Zahra karena bagaimanapun juga, Pandu adalah bosnya di kantor.