
Pagi ini, Zahra tampak cantik dengan seragam OG yang dikenakan. Wajahnya tampak cantik dengan polesan make-up tipis juga lipstik warna merah muda. Rambut yang biasa diikat kini digerai.
Zety yang juga sedang bersiap, menatap heran ke arah Zahra. Penampilan sahabatnya benar-benar terlihat berbeda, apalagi wajah sahabatnya itu terlihat jelas memancarkan rona bahagia.
"Cantik bener elu, Zae. Udah dapat gebetan baru di kantor?" tanya Zety setengah meledek.
"Lu pikir gue kerja kantoran buat nyari gebetan?" Zahra tiba-tiba sewot sendiri.
"Astaga, gue nanya balik kenapa elu jawabnya sewot? Kesambet setan apa elu?" Zety mengembuskan napas kasar. Zahra yang menyadari nada bicaranya salah, dengan segera duduk di samping Zety dan memeluk erat sahabatnya.
"Ish! Jangan bikin gue jijik!" Zety berusaha melepas tangan Zahra yang melingkar di lehernya saat ini.
"Enggak akan. Gue tuh lagi bahagia. Mas Yudha mau jemput gue sekarang. Mau ngajak sarapan juga." Zahra berbicara antusias, sedangkan Zety mendengkus kasar.
"Pantesan jam segini elu udah wangi. Biasanya masih bau iler," ledek Zety.
"Ish! Elu mah nyebelin. Jangan ngerusak mood gue sih, Suk. Gue tuh lagi bahagia. Ba-ha-gi-a!"
__ADS_1
"Ya, ya, ya. Gue tahu itu. Moga aja elu sama Mas Yudha-mu itu berjodoh."
"Aamiin, makasih banyak, Suk. Elu emang sahabat terbaik gue." Zahra makin memeluk erat tubuh Zety. Saking bahagianya dengan doa Zety, Zahra hendak mendaratkan ciuman di pipi sahabatnya sebagai tanda terima kasih.
"Astaga!" pekikan Margaretha dari arah depan mampu menghentikan gerakan Zahra, sedangkan Zety langsung menyingkirkan tubuh Zahra begitu saja. "Ini bahaya! Bener-bener bahaya!"
"Apanya yang bahaya?" tanya Zety ketus, melihat Margaretha yang terus saja menggeleng.
"Gue tahu kalian berdua itu jomlo kesepian, tapi bukan berarti apem makan apem. Meskipun enggak ada timun, masih ada terong dan juga pisang," ucap Maragretha. Namun, gadis itu kembali memekik saat sepatu Zety mendarat tepat di wajahnya.
"Suketi! Elu jahat banget!" Margaretha mengusap wajahnya dengan kasar, lalu melangkah lebar mendekati Zety, tetapi dia malah mengacak-acak rambut Zahra.
"Elu sama Suketi sama aja!" Maragretaha memilih pergi sembari terkekeh sebelum Zahra ikut melempar sepatu ke arahnya.
Zahra menghentakkan kaki sambil membenahi rambutnya. Bibirnya terus saja menggerutu, mengumpati sahabatnya. Zety yang mendengar umpatan Zahra, hanya bisa terkekeh dan kembali memakai sepatunya.
Bunyi klakson dari arah depan berhasil mengejutkan Zahra dan Zety. Dua gadis itu berlari dan saling berebut keluar rumah untuk melihat siapa yang datang. Bahkan, mereka saling bersenggolan ketika hampir sampai di pintu.
__ADS_1
"Gue dulu, Suk! Itu Mas Yudha!" Zahra menyingkirkan tangan Zety, lalu hendak melangkah maju. Namun, Zety justru menarik kerah seragam Zahra hingga langkah Zahra terhenti seketika.
"Elu mau ngebunuh gue?" Zahra kesal. Dia membenarkan kerah seragam yang hampir mencekiknya.
"Itu Mas Gatra. Jangan kepedean deh lu. Itu suara mobil. Lah, Mas Yudha-mu itu 'kan pakai motor," ucap Zety tak mau kalah.
"Ya udah sana!" Zahra memilih mengalah, tetapi ketika Zety berjalan di depannya, Zahra dengan jahil mendorong tubuh Zety hingga gadis itu hampir saja jatuh tersungkur.
"Zaenab!!"
"Apa, Sayang?" Zahra berusaha menahan tawa.
"Sayang! Sayang! Pala lu peyang!" timpal Zety ketus.
"Mending pala peyang daripada elu—"
"Apa? Daripada gue apa!" Zety berkacak pinggang dan melotot ke arah Zahra.
__ADS_1
"Kuyang!" Sembari menjawab, Zahra mendorong tubuh Zety dan berlari cepat membuka pintu. Zety yang bersandar tembok menggeram marah kepada sahabatnya.
"Dasar sahabat laknat!"