
"Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Setya lembut.
"Pa, kenapa aku bermimpi kalau Baby Shaqueena datang pada kita, dan hatiku sekarang merasa kalau dia sangat dekat. Bahkan sangat dekat sekali," sahut Laras. Suara wanita itu terdengar bergetar.
"Mungkin memang dia saat ini sudah berada di dekat kita." Setya berbicara lembut. Laras melerai pelukannya dan menatap suaminya lekat. Sementara Setya mengusap wajah istrinya untuk menghapus air mata wanita itu.
"Pa, apa menurut Papa, Zahra adalah putri kita yang hilang?" tanya Laras lembut. Dari nada bicara wanita itu penuh dengan harapan. Setya tidak menjawab, hanya menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang tidak bisa dijelaskan.
"Pa ...."
"Semoga saja, Ma." Setya pun merasa yakin kalau Zahra adalah putri mereka yang hilang, tetapi Setya tidak mau berharap terlalu jauh dulu sebelum mengetahui hasil tes DNA yang akan diambil pagi nanti.
"Aku sangat berharap Zahra adalah putri kita, Pa. Aku tidak tahu kenapa saya melihat dan berada di samping Zahra, aku merasakan getaran aneh. Seperti ada desiran di sini." Laras menyentuh dada. Setya yang melihat itu pun langsung mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.
"Lebih baik sekarang kamu tidur. Dua minggu sudah kita menunggu, dan besok pagi kita akan mengambil hasil tes DNA itu dan semoga saja hasilnya sesuai dengan harapan kita." Setya berusaha menenangkan lalu mengajak Laras supaya kembali tidur karena jam baru menunjukkan pukul satu dini hari.
__ADS_1
***
Laras dan Setya yang akhirnya menginap di sebelah apartemen Arga, sudah bersiap sejak pagi. Begitu juga dengan Gerry dan Melda yang akan mengantar dua orang itu ke rumah sakit. Arga ingin sekali ikut, tetapi dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Bagaimanapun juga, dia memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan.
"Jangan lupa nanti kabari aku tentang hasilnya, Om," pinta Arga saat dia hendak berangkat ke kantor.
"Tentu saja." Setya menjawab santai. Arga tahu, kalau lelaki itu sedang merasa gelisah saat ini.
Setelah Arga berangkat ke kantor, keempat orang itu pun ikut pergi ke rumah sakit. Laras terus saja memanjatkan doa supaya hasil tes DNA itu sesuai dengan harapan mereka.
"Bagaimana hasilnya, Set?" tanya Gerry tidak sabar.
Setya mematung sesaat menatap tulisan demi tulisan yang tercetak jelas di selembar kertas itu. Lalu tanpa sadar air mata lelaki itu mengalir dari kedua sudut matanya. Laras yang melihat hasilnya pun langsung menutup mulut dan menangis terisak setelahnya.
"Pa ...." Laras tidak mampu lagi berkata-kata. Hanya air mata yang menjelaskan semuanya. Gerry dan Melda pun tidak sabar, dan mereka tampak cemas saat melihat Laras dan Setya yang terus saja menangis.
__ADS_1
"Ma ... aku sangat tidak menyangka." Setya memeluk tubuh Laras erat, bahkan sangat erat. Gerry dan Melda yang penasaran pun mengambil kertas itu dari tangan Setya. Mereka berdua pun sontak terkejut saat melihat hasil tes itu.
•••••
Bab selanjutnya besok 🤭🤭
Readers said : Astaghfirullah, Thor!!!!!!! Suka banget bikin orang penasaran.
Othor : wkkwk sabar ya guys, orang sabar pasti kesel 😂😂
Oke, Othor kasih tahu ada sedikit revisi, karena ada sedikit kesalahan dan hasil tes DNA baru keluar dua Minggu setelah melakukan tes. Jadi, ada bagian yang Othor buat cepet ya guys. Mohon maaf atas kesalahan di bab sebelumnya 🙏🙏
Sambil nungguin update besok, biar enggak ngantuk kita makan yang enak-enak yuk 😅😅
__ADS_1