Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
55


__ADS_3

"Terus nabrak!" jawab Zahra asal. "Kalian bayangin aja—"


"Jaga bicaramu!"


Belum juga Zahra selesai berbicara, Arga sudah menyela setengah membentak. Bahkan, saking gemasnya Arga tak kuasa untuk tidak menjewer Zahra. Arga tidak peduli meskipun Zahra sudah menjerit, yang ada justru Arga makin mengencangkan jewerannya.


"Sakit, Tuan." Zahra merengek sembari mengusap bekas jeweran Arga yang mampu membuat telinganya memerah. Bukannya kasihan, Arga justru tersenyum tipis dan raut wajahnya tampak begitu puas.


"Sekali lagi kamu berbicara seperti itu, aku tidak akan segan-segan membuatmu merasakan hal itu!" ancam Arga.


"Wow! Amazing!" teriak keempat sahabat somplak tersebut.

__ADS_1


"Rasain aja, Kak. Enak banget kok, seenggaknya mengurangi pengeluaran sabun." Rasya menutup tawanya sebentar. Karena detik selanjutnya, Pandu juga menjewer telinganya.


Tolet tolet! Tolet tolet!


Perhatian keempat sahabat somplak tersebut teralihkan pada suara telolet khas penjual cilok. Mereka tampak antusias saat melihat penjual cilok yang sedang berjalan mendekat. Bahkan, mereka berempat saling berebutan dan Pandu tak bisa lagi menahan istrinya. Lelaki itu hanya menurut dan mengikut di belakang. Persis seperti seorang ibu yang sedang mengantar anak-anaknya jajan.


***


Pada akhirnya, Rasya pun meminta ikut kembali ke kota. Dalam hati, Pandu merasa sangat bahagia karena sejujurnya dia sudah tidak sabar ingin kembali. Bukannya tidak betah tinggal di kampung, tetapi pekerjaan di kantor sudah sangat menumpuk dan dia tidak mungkin terus meminta bantuan sang Daddy untuk mengurusnya.


Meskipun dengan berat hati, Paijo, Marlina, dan Agus pun merelakan mereka. Memanjatkan berbagai doa supaya mereka selamat sampai di kota, terutama mendoakan kehamilan Rasya. Mereka berjanji akan ke kota saat acara empat bulanan kehamilan Rasya nanti, dan tentu saja Rasya merasa sangat bahagia dengan rencana tersebut.

__ADS_1


Tanpa terasa, satu bulan telah berlalu, Zahra kembali bekerja di perusahaan ADS Group masih sebagai seorang OG. Namun, Zahra terkadang merasa tidak nyaman karena karyawan lain yang bersikap sungkan padanya setelah mereka tahu kalau Zahra adalah sahabat Rasya—istri pemilik ADS Group.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, tetapi Zahra belum pulang karena tanpa sengaja ketiduran di kantor. Bahkan, Zahra tergagap ketika baru saja membuka mata. Dengan gerakan tergesa, dia mengambil tas miliknya lalu pergi keluar ruangan. Zahra khawatir, kalau semua pintu sudah dikunci dan dia harus tidur di kantor bersama dengan penghuni malam di kantor itu. Membayangkan saja sudah membuat Zahra merinding.


Suara derap langkah Zahra terdengar cepat di area kantor yang sudah sangat sepi. Udara dingin di malam itu justru membuat tubuh Zahra memanas karena rasa takut. Karena terlalu cepat berlari, Zahra sampai tidak menyadari ada seseorang di depannya dan pada akhirnya mereka saling bertabrakan.


Pantat Zahra mendarat mulus di atas lantai, dan sesaat kemudian, gadis itu menangkup kedua tangan di atas kepala yang sedang menunduk.


"Tolong aku. Tolong ... jangan makan aku wahai Tuan Setan! Dagingku keras karena tiap hari cuma makan seblak sama nasi urap. Kalau mau makan, kamu makan Tuan Arga aja. Dia makan selalu enak dan mewah. Pasti dagingnya empuk." Zahra berbicara asal. Dia juga tidak tahu kenapa justru nama Arga yang keluar dari bibirnya.


"Apa kamu bilang!" Zahra terkejut saat mengenali suara siapa itu.

__ADS_1


__ADS_2