
"Bagaimana Anda bisa berada di sini, Tuan? Apa Anda mengikuti saya?" tukas Zahra.
"Untuk apa aku mengikuti kamu? Aku kebetulan lewat jalan ini dan melihat seorang gadis yang menangis seperti seorang gelandangan. Aku tidak menyangka kalau gadis itu adalah kamu," kilah Arga. Dia berusaha berbicara setenang mungkin agar Zahra tidak curiga.
"Sayangnya saya tidak percaya dengan ucapan Anda, Tuan Arga yang terhormat." Ucapan Zahra penuh dengan penekanan. Arga hanya diam dan menatap Zahra.
"Baiklah. Sepertinya kamu memang tidak butuh bantuan. Kalau begitu lebih baik aku pergi. Berhati-hatilah. Berbahaya bagi perempuan apalagi masih gadis sendirian di tempat sesunyi ini."
"Saya tidak takut, Tuan! Anda pikir saya bisa Anda takut-takuti? Tidak akan mempan!" ucap Zahra tegas.
Sudut bibir Arga tertarik. Dia tersenyum sinis melihat Zahra yang berusaha terlihat berani padahal dari sorot matanya, Arga tahu kalau Zahra sedang cemas dan takut saat ini.
Arga tidak lagi berbicara dan lebih memilih untuk berbalik tanpa mengucap sepatah kata. Meninggalkan Zahra sendirian di tempatnya. Namun, saat Arga hendak membuka pintu mobil, terdengar teriakan Zahra yang memanggil namanya. Arga menoleh dan tersenyum penuh ironi saat melihat Zahra sedang berjalan mendekat.
"Tuan ... bolehkah saya menumpang sampai kontrakan? Saya tidak membawa uang karena dompet saya ketinggalan." Zahra berbicara menunduk dengan jari saling merem*as. Zahra tahu ini sangat memalukan, tetapi dia tidak punya pilihan lain karena jujur, dia takut berada di sana sendirian.
"Kamu tidak berbohong?" Arga memajukan wajahnya, tetapi dengan sigap Zahra melangkah mundur.
"Ya-yakin, Tuan," sahut Zahra terbata.
__ADS_1
"Kenapa kamu gugup seperti itu?" tanya Arga meledek.
"Ja-jangan dekat-dekat, Tuan. Kita harus menjaga jarak sepanjang satu meter."
"Kenapa begitu?" tanya Arga. Keningnya terlihat mengerut dalam. Namun, Zahra justru menggeleng cepat. "Kalau begitu aku akan memberi kamu uang dan silakan pulang dengan taksi."
Zahra tercengang. Apalagi saat melihat Arga mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan menyerahkan padanya. Zahra hanya menerima uang tersebut. Lalu menatap Arga yang baru masuk ke mobil dan pergi begitu saja.
Zahra menatap uang di tangan. Lalu berbalik dan menatap mobil Arga yang sudah lenyap dari pandangan.
"Cepat sekali mobilnya pergi? Dasar lelaki enggak punya hati! Sama aja kaya Mas Yudha yang ninggalin aku sendirian di sini. Emang ya, lelaki itu semuanya nyebelin!" gerutu Zahra. Dia menendang udara untuk meluapkan kekesalannya.
Namun, wajah Zahra mendadak pucat saat melihat sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Zahra merem*s uang di genggaman. Dalam hati Zahra menghitung mundur untuk kabur. Akan tetapi, saat Zahra hendak berlari, tangannya justru sudah dicekal oleh lelaki yang baru turun dari motor tersebut.
"Saya mohon, Om, Bapak, Mas, atau siapa pun kamu. Lepasin aku." Zahra masih terus berusaha. Bahkan, dia hampir menangis karena tidak bisa melarikan diri.
"Mau ke mana kamu? Aku hanya ingin mengantar kamu pulang."
Zahra terdiam tidak asing dengan suara lelaki itu. Zahra mendongak dan menatap lelaki yang saat ini sedang melepas helmnya. Mata Zahra membola saat melihat siapa lelaki itu.
__ADS_1
"Tuan Arga? Bagaimana bisa?" seru Zahra tidak percaya. Dia bangkit berdiri dan melihat Arga dengan lekat. Arga tidak menjawab, tetapi seringai tipis tampak terlihat di sudut bibirnya.
"Tuan, bukankah Anda baru saja pergi dari sini? Kenapa sekarang sudah di sini lagi dengan menggunakan motor? Atau Anda memiliki kembaran?" tanya Zahra polos.
"Aku punya kembaran." Arga menjawab asal.
"What!" pekik Zahra. "Saya tidak percaya!" imbuhnya.
"Kalau tidak percaya ya sudah. Aku juga tidak percaya karena aku sadar kalau sedang berbohong sekarang." Arga terkekeh. Zahra merasa sudah dibohongi dengan cepat menendang kaki Arga saking kesalnya. Namun, beberapa detik selanjutnya justru Zahra yang mengerang.
"Kaki Tuan Arga keras sekali." Zahra mengusap kaki untuk mengurangi rasa sakitnya.
β’β’β’
Selamat pagi guys,
maaf ya dua bab ketinggalan π
harusnya sudah update tadi pagi, tapi ternyata bab 38 tanpa sengaja terhapus jadi harus ketik ulang ππ
__ADS_1
jangan lupa dukungan kalian buat Othor Kalem ya,
sayang kalian banyak-banyak πππππ