Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
88


__ADS_3

Mereka setuju keinginan Setya, tetapi Zahra justru menolaknya. Zahra takut tidak nyaman dengan statusnya yang baru. Dia ingin tetap dikenal orang sebagai Zahra yang dulu. Setya awalnya menolak karena bagaimanapun, Zahra nantinya akan menjadi penerus bisnis milik keluarga Setya.


"Pa, aku enggak akan bisa." Zahra menggeleng. Dirinya hanyalah seorang lulusan SMA, jika harus mengurus bisnis seperti itu sudah pasti Zahra akan kewalahan.


Setya sudah berencana akan memasukkan Zahra ke perguruan tinggi jurusan bisnis. Zahra menolak, tetapi Arga justru memberi keyakinan.


"Bagaimana dengan pernikahan kita?" tanya Zahra kepada Arga yang terus saja menyetujui rencana Setya. "Apa kamu akan menunggu sampai saya lulus kuliah?"


"Kenapa mesti menunggu sampai lulus kuliah? Setelah kita menikah, kamu tetap bisa kuliah. Itu tidak dilarang untuk wanita yang sudah bersuami," ucap Arga.


"Benar, Za. Pernikahan kamu dengan Arga tetap akan dilangsungkan dalam waktu dekat, dan setelah itu kamu akan papa daftarkan di perguruan tinggi negeri." Setya makin meyakinkan. Namun, Zahra masih terlihat ragu.

__ADS_1


"Kalau begitu sudahlah jangan dibahas itu dulu. Untuk sementara masih ada Jimmy yang mengurusi perusahaan." Laras menghentikan pembicaraan itu karena dia takut Zahra akan merasa tidak nyaman. Apalagi, saat mereka baru saja mengetahui kalau Zahra adalah anak mereka yang hilang.


"Ya, aku juga setuju. Lebih baik sekarang kita bahas soal pernikahan mereka saja. Bagaimana kalau bulan depan," cetus Gerry. Langsung disambut tatapan tidak percaya oleh Zahra dan Arga.


"Pa, kenapa cepat sekali? Memangnya bisa mempersiapkan pernikahan dalam waktu satu bulan?" Arga kesal sendiri. Dia menginginkan sebuah pernikahan yang berkesan, dan baginya itu butuh persiapan yang benar-benar matang.


"Kamu tenang saja. Lebih baik kamu fokus saja bekerja dan semua urusan pernikahan, kita yang urus." Melda bersemangat. Begitu juga dengan Laras.


"Tapi ...."


"Ya, kalian jangan khawatir. Meskipun kita ini orang tua, tapi selera kita masih seperti anak muda." Gerry menambahkan dan langsung disambut gelakan tawa dari mereka semua.

__ADS_1


Mereka pun kembali melanjutkan obrolan bahkan hingga larut malam. Zahra memaksa ingin pulang ke kontrakan, tetapi Setya dan Laras menolak. Meminta Zahra untuk menginap di apartemen mereka. Akhirnya, Zahra pun menurut dan mengabari Zety dan Margaretha kalau dia menginap di rumah seseorang.


Zety dan Margaretha terus saja mendesak Zahra di rumah siapa gadis itu menginap, tetapi Zahra hanya menjawab akan menceritakan semuanya esok hari.


Setelah menemukan putri mereka, Setya langsung mencari rumah mewah sebagai tempat tinggal karena dia ataupun Laras berencana akan tinggal di Indonesia lagi. Melihat bagaimana Zahra, mereka sangat yakin kalau gadis itu pasti menolak tinggal di luar negeri.


***


Zety dan Margaretha sudah bersiap hendak berangkat kerja. Dua gadis itu sekarang sama-sama bekerja di restoran milik Gatra. Beruntung saat itu Restoran Gama sedang membutuhkan seorang karyawan, dengan cepat Zety memasukkan sahabatnya ke sana.


"Ayolah, Mar. Berangkat bareng gue aja." Zety merayu, tetapi Margaretha menolak.

__ADS_1


"Enggak mau, Suk. Gue enggak mau jadi obat nyamuk." Margaretha masih menolak.


"Obat nyamuk apaan sih, Mar. Gue cuma berangkat bareng Mas Gatra. Lagian nih, mobilnya masih muat, kita juga sejalan. Satu tujuan yang sama. Indonesia Jaya!" kelakar Zety, disambut gelakan tawa dari sahabatnya.


__ADS_2