Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
85


__ADS_3

"Aku maafkan, tapi dengan satu syarat." Sudut bibir Arga tertarik sebelah membentuk senyuman licik.


"Apa syaratnya, Tuan?" tanya Zahra terbata.


"Panggil aku Mas, jangan Tuan. Aku ini tunanganmu, bukan bosmu," suruh Arga. Zahra tidak menahan dan hanya mengangguk cepat. "Coba panggil!"


"Mas," panggil Zahra datar.


"Lebih mesra!" titah Arga lagi.


"Mas." Kali ini suara Zahra lebih lembut dari sebelumnya.


"Kurang mesra!" Arga seolah tidak puas mengerjai Zahra yang saat ini mulai tampak kesal.

__ADS_1


"Kenapa Anda sangat menyebalkan, Mas Arga." Suara Zahra yang awalnya sedikit ketus dan berakhir mesra mampu membuat Arga mendadak salah tingkah. Senyum lelaki itu tampak mengembang sempurna bahkan pipinya sudah bersemu merah.


"Kenapa Anda senyum-senyum, Tuan?" Pertanyaan Zahra membuat kebahagiaan Arga memudar seketika. Senyum lelaki itu berubah menjadi dengkusan kasar yang membuat Zahra terheran-heran.


Apalagi, saat Arga kembali duduk tegak dan melajukan mobilnya begitu saja. Tanpa berbicara apa pun.


"Anda mau mengajak saya ke mana, Tuan?" tanya Zahra, belum sadar.


"Kalau kamu masih memanggilku tuan maka lebih baik diamlah! Telingaku panas saat mendengarnya," suruh Arga ketus. Secara refleks, Zahra menutup mulutnya karena takut akan salah bicara.


Setibanya di apartemen, Zahra hanya menurut saat Arga mengajak masuk ke lift untuk menuju ke apartemen miliknya. Meskipun bingung, tetapi Zahra tetap saja menurut pada lelaki itu. Ketika pintu apartemen dibuka, Zahra terkejut saat melihat orang tua Arga dan Setya juga Laras.


Melihat kedatangan Zahra, Laras ingin sekali memeluk gadis itu, tetapi Setya menahan agar Zahra tidak takut. Laras pun menurut dan memilih untuk memendam keinginannya untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Saya malu, Mas." Zahra bersembunyi di belakang Arga. Melihat tatapan keempat orang itu yang intens kepadanya, membuat Zahra takut sendiri. Bayangan pertunangan yang digagalkan karena mereka tidak sederajat begitu mengganggu pikiran Zahra.


Ah! Sepertinya gue kebanyakan nonton sinetron. Batin Zahra merutuki dirinya sendiri.


Arga mendekat lalu menyalami kedua orang tuanya, Zahra pun ikut melakukan itu. Ketika Arga bersalaman dengan Laras dan Setya, Zahra justru terlihat ragu-ragu.


"Kamu tidak mau bersalaman dengan Om Setya dan Tante Laras?" bisik Arga. Zahra tidak menjawab apa pun, tetapi gadis itu memberi kode dengan gerakan tubuhnya. Zahra sedikit membungkuk, untuk menyalami kedua orang yang sejak kemarin terus saja mengamati dirinya.


Baru saja meraih tangan Laras dan hendak mencium punggung tangan wanita itu, Zahra dikejutkan dengan pelukan Laras yang begitu tiba-tiba. Bahkan, Zahra merasakan pelukan tersebut sangat erat. Zahra membisu saat merasakan hatinya berdenyut-denyut. Ada perasaan lain yang susah dijelaskan dengan kata-kata.


"Shaqueena." Bibir Laras bergetar saat mengucapkan nama itu. Bahkan, sepersekian detik berikutnya, cairan bening mengalir dari kedua sudut mata wanita itu tanpa bisa ditahan lagi.


Zahra mematung. Belum sepenuhnya sadar akan semua yang terjadi. Ketika Zahra ingin melepaskan pelukan itu, Laras justru makin mengeratkannya.

__ADS_1


"Ma-maaf, bisa tolong dilepaskan, Tante?" Zahra mulai gemetar karena gugup dan takut.


"Biarkan mama memelukmu sebentar saja, Shaqueena. Mama sangat merindukanmu."


__ADS_2