
"Mas, aku pengen."
Rasya merengek sembari menggoyangkan tubuh suaminya. Beberapa saat kemudian, mata Pandu terbuka dengan berat. Lelaki itu baru tidur setengah jam lalu dan Rasya sudah membangunkan lagi. Melihat bibir Rasya yang maju beberapa centi, Pandu dengan gemas menarik tubuh Rasya supaya masuk dalam dekapannya.
"Kamu mau apa, hm?" Pandu mencium puncak kepala Rasya penuh cinta.
"Pengen martabak," jawab Rasya. Menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Martabak?" Pandu mengulangi dan Rasya mengangguk cepat. "Kalau begitu aku telepon Arga biar membelikan untukmu."
"Aku enggak mau Kak Arga yang nyari. Aku pengennya kamu." Rasya kembali merengek seperti anak kecil.
"Ra ...." Ucapan Pandu terhenti di tenggorokan. Dia yakin jika menolak saat ini, pasti Rasya akan menangis kencang. Pandu melirik jam dinding yang hampir menunjuk pukul sepuluh malam.
"Kamu tidak kasihan padaku?" tanya Pandu lembut agar Rasya tidak tersinggung. Rasya tidak menjawab dan justru terdiam saat Pandu mengusap kedua pipinya yang mulai terlihat sedikit lebih berisi.
"Maafin aku, Mas. Kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja," ujar Rasya. Menurunkan tangan Pandu lalu mendorong tubuh lelaki itu supaya kembali tiduran. Pandu hanya menurut, tetapi tatapannya tidak sedikit pun terlepas dari gerak-gerik Rasya.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" tanya Pandu saat melihat Rasya turun dari tempat tidur.
"Aku pengen susu hangat." Rasya berlalu begitu saja tanpa menoleh kepada Pandu.
Pandu beranjak bangun dan merasa curiga dengan tingkah istrinya. Dengan terburu Pandu turun dari tempat tidur dan menyusul Rasya yang sedang menuruni tangga.
"Ra, tunggu!" teriak Pandu, tetapi Rasya seolah menulikan telinganya dan tetap berjalan dengan tenang.
"Kumala Rasya Putri!" Suara Pandu meninggi, tetapi Rasya masih tetap tidak peduli.
Ketika Rasya sampai di tangga terbawah, di saat itu pula Pandu mencekal tangan Rasya hingga langkah wanita itu tertahan. Menyadari sikap Rasya yang menunjukkan kemarahan, Pandu menarik tubuh Rasya masuk dalam dekapannya. Namun, Rasya justru meronta.
"Aku enggak mau dibuatin kamu. Enggak enak," ujar Rasya sembari bersidekap.
"Aku yakin kali ini pasti enak," ucap Pandu, tetapi Rasya justru mendengkus kasar.
"Aku ngambek sama kamu, Mas." Rasya memalingkan wajahnya. Pandu yang melihat itu justru menjadi gemas sendiri.
__ADS_1
"Kenapa mesti ngambek? Kamu mau apa?"
"Martabak spesial seperti kamu yang sangat spesial di hatiku," sahut Rasya asal. Pandu tergelak keras saat mendengarnya.
"Kamu juga spesial untukku." Pandu menangkup wajah Rasya lalu mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.
"Aku enggak percaya." Rasya menyingkirkan tangan Pandu lalu berjalan cepat menuju ke dapur. Pandu yang melihat itu dengan tergesa menyusul di belakang.
"Jangan berjalan terlalu cepat. Ingat, kasihan anak kita," ucap Pandu setengah berteriak.
"Kamu enggak kasihan padaku, Mas?" Rasya merengek. Pandu mengacak rambutnya kasar. Jika Rasya sudah bersikap seperti ini maka kesabarannya mulai di uji.
"Aku tidak kasihan padamu, tapi aku sangat mencintaimu."
"Sekarang aja bilang cinta, dulu kamu kegedean gengsi." Bibir Rasya mengomel, sedangkan tangannya sibuk membuat susu hangat.
Pandu berjalan mendekat lalu memeluk Rasya dari belakang. Pandu mengecup tengkuk Rasya hingga menciptakan gelayar aneh yang mampu membuat tubuh Rasya meremang. Sementara tangan Pandu mengusap perut Rasya dengan perlahan. Lelaki itu merasa sangat bahagia dan tidak sabar ingin segera memeluk buah cinta mereka.
__ADS_1
"Mas, geli."