
Arga membelokkan motor ke arah kiri lalu mengerem mendadak karena terkejut saat berpapasan dengan mobil dari arah depan yang sedang menyalip. Dengan sigap Arga menurunkan kedua kakinya untuk menopang motor agar tidak ambruk. Arga mengumpati mobil hitam yang terus melaju tadi. Hampir saja mereka terlibat kecelakaan.
Namun, jantung Arga tiba-tiba berdetak kencang. Rasanya tidak karuan saat melihat tangan Zahra melingkar di perutnya. Apalagi saat merasakan punggungnya terasa hangat karena Zahra duduk menempel dengan kepala bersandar. Arga yakin kalau Zahra pasti ketakutan karena kejadian tadi.
"Kamu baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan Arga, Zahra menjadi tersadar dan dengan segera melepas tangannya. Zahra meminta maaf dengan canggung, Arga hanya mengiyakan. Rasanya, Arga tidak tega mendengar suara Zahra yang terdengar bergetar.
Ketika Arga melihat Zahra sudah cukup tenang, dia pun kembali melajukan motornya. Namun, kali ini Arga melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa sadar, Arga menarik tangan Zahra dan melingkarkan di perutnya. Zahra tidak menolak karena dirinya masih merasa sedikit takut.
__ADS_1
Setibanya di rumah Pandu, mereka langsung disambut oleh Rasya yang sudah menunggu sedari tadi. Bahkan, Rasya memeluk Zahra dengan erat karena saking bahagianya.
"Gue kangen banget sama elu, Zae." Rasya berbicara dengan antusias saat mereka sedang berjalan menuju ke dapur.
"Astaga, Ra. Kita tadi siang aja udah ketemu." Zahra menggeleng melihat keanehan sahabatnya. Mungkinkah orang ngidam itu selalu bersikap aneh seperti ini. Batin Zahra bertanya-tanya.
"Tapi rasanya gue kangen banget sama elu, Zae. Gue pengen makan bakmi jawa buatan elu." Rasya menelan ludah saat membayangkan betapa nikmatnya makan bakmi jawa buatan Zahra yang tidak ada tandingannya.
Sesampainya di dapur, Zahra menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bakmi jawa dengan dibantu oleh beberapa pelayan di sana. Rasya ingin ikut membantu, tetapi Pandu melarang keras. Bahkan, lelaki itu mengancam akan mengadu kepada sang mommy kalau Rasya masih saja membangkang. Dengan terpaksa, Rasya hanya duduk dan melihat Zahra yang tampak sibuk.
__ADS_1
Arga terdiam dan terus menatap Zahra yang terlihat sibuk memasak. Gadis itu terlihat begitu cantik dan kelihatan dewasa ketika sedang menggunakan apron seperti itu. Dalam hati, Arga mengagumi sosok Zahra. Dibalik sikap ceroboh gadis itu, tetapi ketika sedang serius seperti sekarang, kecantikan dan kedewasaan Zahra benar-benar terpancar.
"Mas," bisik Rasya, menyenggol lengan Pandu untuk mengalihkan perhatian lelaki itu dari ponsel. "Lihatin."
Pandu mengalihkan pandangan sesuai dengan kode yang diberikan Rasya. Sudut bibir Pandu tertarik ketika melihat Arga yang terus saja menatap lekat Zahra bahkan tidak terlepas sedikit pun dari sosok gadis itu. Pandu merasa yakin kalau Arga sudah jatuh cinta kepada Zahra.
"Mas, aku kebelet," rengek Rasya. Mengalihkan perhatian semua orang. Namun, Pandu bisa melihat mata Rasya yang berkedip-kedip.
Pandu menyimpan ponsel di saku, lalu bangkit berdiri dan membopong Rasya. Sebelumnya, Rasya berpamitan ke kamar mandi terlebih dahulu dan Zahra hanya mengiyakan. Selepas kepergian sahabatnya, Zahra kembali melanjutkan kegiatannya. Sementara Arga masih berdiri di tempatnya karena tidak mungkin dirinya mengikuti atasannya tersebut.
__ADS_1
"Auw!"