Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
31


__ADS_3

Ketiga gadis itu hanya berdiam di tempatnya saat ini karena merasa bingung harus bertindak seperti apa. Ibarat kata, maju kena mundur juga kena. Namun, Zahra menautkan alisnya saat melihat seseorang yang tidak asing baru saja ikut bergabung. Zahra berusaha mengingat siapa lelaki itu.


"Bukankah kamu adalah Dani, anak buah Tuan Arga?" tanya Zahra pada akhirnya.


"Tangkap wanita itu!" hardik Dani sembari menunjuk Sonia yang hendak kabur. Beberapa anak buah Dani ada yang menangkap Sonia ada pula yang menangkap tiga anak buah Sonia.


"Lepasin!" Sonia meronta, tetapi cengkeraman tangan anak buah Dani sangatlah kuat. "Lepasin, Bangs*t!"


"Sudah cukup aku membiarkan kamu berkeliaran! Waktunya kamu menikmati masa bebasmu untuk yang terakhir!" Tangan Dani terkepal erat. Sorot matanya penuh dengan kilatan amarah.


"Aku akan memecatmu setelah menjadi istri Tuan Arga!"


Dani tidak peduli dan justru menyuruh anak buahnya untuk membawa keempat orang itu pergi dan diserahkan kepada pihak yang berwajib. Setelah kepergian mereka, Dani membungkuk hormat di depan ketiga sahabat Rasya.


"Kalian baik-baik saja, 'kan?" tanya Dani memastikan.


"Baik, terima kasih, Tuan."


"Kalian tidak perlu berterima kasih pada saya. Tapi berterima kasihlah pada Tuan Pandu, Tuan Arga, dan Nona Rasya," sahut Dani. Ketiga gadis itu terkejut saat mendengarnya.


"Ma-maksudnya?" tanya Zahra gugup.

__ADS_1


"Tuan Arga tadi menghubungi saya karena melihat Nona Zahra bertemu dengan Nona Sonia."


"Me-melihat? Apa Tuan Arga di sini?" tanya Zahra lagi. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dan tidak melihat siapa pun di sana.


"Saat Anda di sini, Tuan Arga juga berada di sini bahkan beliau yang meminta supaya tempat ini dikosongkan. Tapi, sekarang Tuan Arga sudah pergi," terang Dani.


"Pe-pergi? Ke mana?" Kali ini, Margaretha yang melontarkan pertanyaan.


"Beliau sedang bersiap-siap untuk menjenguk Nona Rasya yang kembali dilarikan ke rumah sakit."


"Apa?" pekik mereka bertiga bersamaan.


"Bagaimana bisa?" tanya Zety, tidak percaya.


"Tuan, bolehkah kita menemui Rasya di kampung?" pinta Margaretha.


"Sebelum kalian menemui Nona Rasya, lebih baik Nona Zahra menyelesaikan urusannya dulu. Jangan sampai membuat beban pikiran untuk Nona Rasya lagi dan itu akan membuat Tuan Pandu kembali murka."


"Tuan, urusan mana yang belum kelar?"


"Tentang Yudha. Kalau begitu saya pamit pulang. Satu hal lagi, Nona ... jangan percaya pada foto yang dikirimkan Sonia kepada Anda, kalau ingin tahu jelasnya, lebih baik Anda melihat CCTV ini."

__ADS_1


Zahra menerima sebuah flashdisk dari Dani. Setelah itu Dani berpamitan pergi begitu saja tanpa peduli pada panggilan Margaretha yang masih ingin bertanya lebih detail lagi. Zahra menatap flashdisk yang berada di tangan. Lalu, dengan langkah lebar dia menuju ke motor. Rasanya sudah tidak sabar Zahra ingin melihat itu.


***


Sementara itu, di ruangan private room yang berada di salah satu kafe ternama, Arga duduk berdua bersama Yudha. Sebenarnya, Arga merasa malas untuk bertemu apalagi dia memiliki urusan yang sangat penting. Akan tetapi, Yudha terus saja memaksa hingga mau tidak mau, Arga pun menyanggupi.


"Ada hal apa yang akan kamu bicarakan? Ingat, waktuku sangat berharga jadi tidak akan aku buang untuk hal yang sia-sia," ucap Arga ketus.


"Tuan, saya ingin bertanya, apakah Anda mencintai Zahra?" Pertanyaan Yudha mampu membuat Arga terdiam. Arga menoleh dan menatap Yudha yang tampak begitu tenang.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu!" Arga balik bertanya dengan nada setengah membentak. "Kamu tidak berhak!"


••••


Selamat pagi guys,


masih menikmati alurnya 'kah?


Othor minta maaf belum bisa balas komen kalian satu per satu.


karena dunia nyata sedang sibuk sekali, tapi Othor usahakan tetep update ya

__ADS_1


terima kasih atas kunjungan dan dukungan kalian semua


lope sekebon cabe 😘😘😘


__ADS_2