
"Papa sama Om Setya kenapa bisa di sini?" tanya Arga saat baru keluar mobil bersamaan dengan Gerry yang keluar dari mobil di sampingnya.
"Om Setya mau melihat Zahra sekaligus kita akan menjadi donatur panti ini," sahut Gerry. "Kamu sendiri lagi apa di sini? Nganterin Zahra?" tanyanya.
Arga menggeleng cepat. "Bukan ngantar, tapi lebih tepatnya membuntuti," jawab Arga jujur. Gerry dan Setya menggeleng saat mendengar jawaban Arga.
"Kalau begitu lebih baik kita masuk saja." Gerry mengajak. Pada akhirnya, Arga pun tidak jadi membeli steak pesanan sang mama, tetapi dia justru ikut masuk bersama dua kaki paruh baya tersebut.
"Permisi," ujar Arga. Dia terdiam saat mendengar suara Zahra yang menyahut dari dalam rumah.
Senyum Arga mengembang saat melihat Zahra yang tampak terkejut. Bahkan, Zahra terlihat begitu gugup.
"Tu-Tuan." Zahra dengan cepat menyalami tangan Gerry dan tak lupa mencium punggung tangan lelaki itu. Namun, ketika hendak menyalami Setya, Zahra merasa ragu. Apalagi Setya terus saja memusatkan pandangan kepadanya.
__ADS_1
"Ini Om Setya, suami Tante Laras. Kamu sudah bertemu Tante Laras 'kan?" tanya Arga, mengalihkan perhatian. Zahra mengangguk cepat lalu menyalami tangan lelaki itu.
"Mari silakan masuk, Tuan." Zahra berjalan cepat dan menyuruh anak-anak yang sedang asyik makan untuk berpindah ke ruang dalam. Namun, Arga melarang dan meminta anak-anak itu tetap makan di tempatnya.
"Biarkan saja mereka di sini, Za." Arga menatap satu per satu dari mereka yang sedang bersemangat makan daging steak yang barusan dibawa Zahra.
"Saya takut mengganggu, Tuan. Karena mereka sering berisik." Zahra merasa tidak enak hati.
"Sudah biarkan saja. Di mana Ibu Henny?" tanya Arga, menatap ke arah pintu yang menuju ke ruangan dalam. Karena sedari tadi Ibu Henny tidak juga keluar.
"Za, jangan memanggil Arga dengan sebutan Tuan. Dia sekarang adalah calon suami kamu. Bahkan, papa harap kalian akan menikah secepatnya," ujar Gerry.
"Benar kata Papa, kamu cukup panggil aku tuan ketika sedang berada di kantor. Selain itu, panggilah aku dengan panggilan kesayangan," imbuh Arga setengah menggoda. Zahra mendes*hkan napas ke udara. Arga justru tersenyum saat melihat Zahra.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, ada hal penting apa yang akan kalian bicarakan? Kalau buru-buru nanti biar saya sampaikan sama ibu." Zahra menatap ketiga lelaki tersebut secara bergantian.
"Jadi gini, Za ... Om Setya datang ke sini karena dia berencana akan menjadi donatur di panti ini."
"Bapak yakin?" tanya Zahra, menatap penuh harap ke arah Setya yang sedari tadi hanya diam. Senyum di bibir Zahra mengembang sempurna saat Setya mengangguk mengiyakan.
"Syukurlah." Zahra duduk bersimpuh di depan Setya dan menangkup kedua tangan di depan dada. Ketiga lelaki itu tercengang saat melihat apa yang dilakukan Zahra. "Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda, Tuan. Terima kasih."
"Bangunlah. Aku hanya memberi sedikit saja," ujar Setya, tanpa memutus pandangan. Dalam hati Setya merasa yakin kalau Zahra adalah putrinya meskipun besok hasil tes DNA baru akan keluar. Wajah Zahra memang benar-benar sangat mirip dengan Laras.
"Biarpun sedikit, tetapi itu juga sangat berarti untuk kita, Tuan. Terima kasih." Zahra kembali duduk, kali ini gadis itu duduk di samping Arga.
"Maaf, aku tidak pernah membantumu." Arga berbicara sembari menggenggam erat tangan Zahra hingga membuat gadis itu terdiam seketika.
__ADS_1
Zahra menoleh dan tersenyum lebar ke arah Arga. "Tidak papa, Mas. Kamu sudah banyak membantuku."
Jantung Arga berdebar kencang saat Zahra berbicara selembut itu padanya. Panggilan Zahra kepadanya membuat senyum Arga merekah sempurna.