
Suasana hening di gedung tersebut makin menambah kegugupan Arga. Keringat dingin sudah membasahi dahi juga telapak tangannya. Setya tersenyum simpul saat merasakan telapak tangan Arga yang basah. Setya mengucap doa terlebih dahulu dengan dibimbing penghulu. Begitu juga dengan mereka semua.
"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Arga Pradaya Aziel, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Az-Zahra Shakila binti Setya Aditama dengan maskawin seperangkat alat sholat, uang sebesar dua puluh dua juta enam ratus dua puluh dua ribu rupiah, dan perhiasan emas seberat dua puluh dua gram, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Az-Zahra Shakila binti Setya Aditama dengan maskawin tersebut, tunai!" sahut Arga yakin.
"Bagaimana, Saksi? Sah?"
__ADS_1
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur menggema di ruangan tersebut. Mereka merasa bahagia karena ijab kabul berjalan lancar. Begitu juga dengan pengantin baru yang tampak semringah. Jika Zahra mencium punggung tangan Arga yang baru saja resmi menjadi suaminya maka Arga tidak lupa mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Zahra, sebagai bentuk rasa sayang Arga untuk Zahra.
Setelah acara ijab kabul terlaksana, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Zahra tampak cantik dalam balutan gaun warna merah muda. Terlihat sangat feminim. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Beberapa kali para sahabat Zahra berpose dengan berbagai gaya yang terkadang mengundang tawa.
__ADS_1
"Di sini saya ingin memberi tahu satu hal. Mungkin di antara kalian sudah ada yang tahu, ada pula yang bertanya-tanya kenapa saya yang mengijabkan Zahra. Ya ... sesuai yang kalian dengar tadi saat ijab bahwa Zahra adalah putri kandung saya. Putri saya yang bernama Shaqueena Elnara. Seorang bayi kecil yang dulu diculik dan menghilang. Mungkin masih ada yang ingat dengan kisah itu dulu." Setya menghentikan ucapannya. Menyuruh Zahra untuk berdiri di sampingnya begitu juga dengan Laras.
"Bagi saya saat ini, tiada kebahagiaan yang lebih indah selain bisa bertemu dengan putri kandung saya yang sudah lama sekali terpisahkan. Putri kecil yang setiap malam namanya selalu saya sebut dalam doa-doa, juga seorang putri kecil yang mampu membuat dunia saya sempat hancur rasanya karena kehilangan dirinya." Setya terdiam, berusaha keras menahan air mata yang hendak memaksa keluar dari peraduan. Sementara Laras dan Zahra, sudah terisak sejak tadi.
"Saya bersyukur, saya merasa bahagia bisa dipertemukan kembali dengan buah hati yang selama ini saya rindukan. Bahkan, kebahagiaan saya terasa sangat sempurna setelah melihat putri saya tumbuh menjadi gadis yang cantik, baik, dan tangguh. Sungguh, saya tidak menyangka jika putri saya seluar biasa ini. Papa sayang kamu, Nak. Bahkan, melebihi cinta papa untuk diri sendiri."
Zahra memeluk erat Setya dan menangis terisak di dada bidang lelaki itu. Bahagia? Tentu saja ini adalah kebahagiaan yang luar biasa untuk Zahra juga. Berpuluh tahun hidup dalam kesederhanaan, tanpa orang tua. Hanya Ibu Henny dan para sahabatnya yang selalu setia menemani dirinya bahkan ketika dia sedang berada di titik terendah sekalipun.
__ADS_1
Zahra pun dulu selalu membayangkan betapa hangatnya pelukan orang tua. Sekarang, dia bahagia bisa merasakan dipeluk mereka dengan penuh cinta.
"Aku juga sayang Papa dan Mama." Zahra menangis terisak. Suasana di ruangan tersebut pun penuh dengan tangisan haru.