Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
33


__ADS_3

Arga menatap kertas yang berisi alamat lengkap. Yang Arga tahu, alamat tersebut adalah sebuah desa yang cukup terpencil bahkan jalan akses menuju ke desa tersebut masih sangat susah.


"Tinggallah di sini. Setidaknya kamu memiliki banyak orang yang mampu membuatmu tetap kuat. Bukankah kamu sayang dengan anak-anak panti?"


"Bagi saya mereka adalah nyawa, Tuan. Itulah yang saya takutkan. Kepergian saya nanti akan menjadi luka terdalam untuk mereka, sedangkan saya tidak bisa lagi memeluk mereka."


Hati Arga berdesir hebat mendengar ucapan Yudha yang mampu membuat batinnya terkoyak. Jika mendengar ucapan Yudha saja, Arga sudah sesakit itu apalagi jika Zahra sendiri yang tahu? Arga tidak mampu meski sekedar untuk membayangkan.


"Biarkan dua orang pengawalku ikut bersamamu," tawar Arga. Yudha kembali menggeleng.


"Saya tidak akan merepotkan Anda, Tuan," tolak Yudha sopan.


"Tidak. Kamu tidak pernah merepotkan. Kalau kamu tidak setuju dengan tawaranku maka jangan salahkan aku kalau Zahra tahu semuanya." Arga mengancam. Yudha pun menutup mulutnya rapat.


"Tuan ...."


"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak setuju maka aku tidak main-main dengan ucapanku." Arga berkata tegas. Mau tidak mau, Yudha pun akhirnya menyetujui.


Mereka pun lanjut mengobrol berbagai hal. Bahkan, Arga menjadi kagum dengan sosok Yudha yang begitu mengayomi. Namun, hati Arga berdenyut sakit saat teringat jika Yudha saat ini sedang bertarung nyawa.

__ADS_1


***


Zety, Zahra, dan Maragretha, tertegun saat melihat video di mana Sonia hendak mencoba merayu Arga. Ternyata, semua tidak seperti yang Zahra kira. Jika hanya dengan melihat foto yang dikirim Sonia, sudah pasti otak Zahra akan berpikir kalau dua manusia itu melakukan hubungan anu.


"Emang kek pelac*r tuh cewek!" Zety mengumpat kesal. Sementara Zahra hanya diam dan merasa bersalah karena sudah berburuk sangka kepada Arga.


"Cewek kaya gitu mah, enakan buat makanan hiu," ujar Margaretha.


"Itu aja kalau si hiu doyan. Hiu makan juga milih-milih keles," timpal Zety.


"Ya, gue percaya aja daripada ribet ngomong ama elu. Kenapa elu diem aja, Zae?" Margaretha mendudukkan tubuhnya di samping Zahra.


"Besok kita ke kampung. Kata anak buah Tuan Arga, Rasya sekarang lagi di rumah sakit, jadi ya itung-itung kita ngejenguk dia," saran Zety. Dua gadis itu diam untuk memikirkan.


"Baiklah. Mendingan sekarang kita siap-siap sekalian nyari tiket bus." Margaretha bangkit berdiri dan hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara ponsel Zahra yang berdering keras. Margaretha penasaran siapa yang menghubungi Zahra saat ini.


"Siapa, Zae?" tanya Zety. Duduk di samping Zahra dan mengintip.


"Mas Yudha." Zahra menjawab singkat. Zety hanya terdiam saat melihat raut wajah Zahra yang tidak semringah seperti biasanya jika Yudha menghubungi.

__ADS_1


"Hallo, Mas," sapa Zahra saat panggilan itu sudah terhubung.


"Ra, kamu lagi apa?" tanya Yudha berbasa-basi.


"Duduk. Ada perlu apa, Mas?" Suara Zahra terdengar penuh kecewa apalagi saat teringat Yudha bersama Sonia.


"Ra, aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu selama tiga hari sebelum aku kembali pergi."


"Kamu mau pergi ke mana, Mas?" sela Zahra cemas.


"Aku ingin menenangkan diri. Aku menyesal sudah sangat melukaimu. Jadi, maukah kamu menghabiskan waktu bersamaku sebelum aku ... pergi?"


β€’β€’β€’


Adakah yang menanti Othor Kalem yang paling cantik ini buat menyapa kalian πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


selamat pagi yang udah kesiangan guys 😘


rekomendasi novel tamat nih guys

__ADS_1



__ADS_2