
Selama dalam perjalanan menuju ke panti, Zahra membonceng dengan tangan melingkar di perut Yudha. Laju motor itu pun terkesan pelan karena memang Yudha sengaja melakukannya supaya bisa lebih lama bersama Zahra. Setibanya di panti, mereka berdua langsung disambut hangat oleh Ibu Henny dan anak-anak.
"Kak Zahra!" Beberapa bocah kecil yang sedang sibuk bermain di halaman rumah, segera meletakkan mainannya secara sembarang lalu berhambur dan memeluk Zahra. Dengan antusias Zahra menyambut mereka.
Zahra mengecupi pipi mereka satu per satu, dan memberi hadiah yang sudah dibelinya tadi ketika dalam perjalanan. Ketika Zahra sedang sibuk bermain bersama anak-anak, Yudha dan Ibu Henny duduk di kursi yang tersedia di dekat pintu utama. Dua orang itu bisa melihat betapa cerianya Zahra dan anak-anak.
"Terima kasih, Yud. Sudah mengajak Zahra ke sini." Ibu Henny mengusap setetes air mata yang membasahi sudut matanya.
"Sama-sama, Bu. Anak-anak panti, Ibu dan Zahra adalah orang yang sangat berarti untuk aku." Yudha merangkul pundak Ibu Henny. Wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu sendiri.
Jika tidak dipungut oleh Ibu Henny, mungkin Yudha sudah mati karena kedinginan berada dalam kardus yang terletak di depan toko sewaktu bayi. Begitu yang diceritakan Ibu Henny pada Yudha dulu. Dia tidak pernah tahu siapa ayah dan ibunya.
"Bu, nanti gaji aku selama di Korea, bisa kita buat renovasi dan makan anak-anak. Tidak banyak sih, tapi cukup untuk beberapa bulan. Lagian, aku sudah bekerja di ADS Group, jadi aku tidak bingung soal uang," ujar Yudha. Ibu Henny menatap Yudha dengan lekat.
__ADS_1
"Bukankah kamu sengaja mengumpulkan uang untuk pernikahan kamu dan Zahra. Kamu bilang akan melamarnya dan menggelar pesta yang megah sesuai keinginan Zahra." Kening Ibu Henny mengerut saat melihat Yudha yang justru tersenyum getir.
"Dulu, tapi sekarang sudah lain lagi ceritanya. Saat ini aku hanya sedang berusaha menjaga Zahra dari orang-orang yang berusaha melukainya." Yudha menghela napas berat dan mengembuskan secara perlahan.
"Melukai Zahra?" tanya Ibu Henny menuntut. Yudha tidak menjawab, dan hanya mengangguk perlahan. "Siapa?" imbuhnya.
"Kalian sedang bahas apa?"
"Yudha bilang, kamu sekarang bekerja di perusahaan yang sama dengan dia. Apa itu benar?" tanya Ibu Henny bersemangat. Dia sengaja bertanya dan berbohong seperti itu supaya Zahra tidak curiga.
"Ya, kemarin. Tapi sekarang sudah enggak lagi." Zahra menjawab lesu.
"Kenapa?" tanya Yudha menuntut. Dia baru tahu kalau Zahra sudah resign.
__ADS_1
"Aku enggak nyaman di sana, Mas. Enggak cocok kerja di kantor. Besok aku mau ngelamar kerja di restoran atau toko aja," sahut Zahra. Dia tidak ingin Yudha tahu alasan sebenarnya kenapa dia berhenti dari perusahaan milik Pandu.
"Kamu yakin sedang tidak berbohong?" tanya Yudha menuntut.
Zahra tidak langsung menjawab, dia hanya memalingkan wajah karena takut Yudha akan mengetahui kebohongannya. Namun, ketika Zahra menatap ke samping, dia terdiam seketika saat melihat seseorang sedang berdiri mengawasi. Ketika tatapan mereka bertemu sesaat, lelaki itu segera pergi dari sana.
"Ra! Zahra!" Yudha memukul bahu Zahra dengan kekuatan sedang untuk menyadarkan gadis itu dari lamunan.
"I-iya, Mas." Zahra tergagap. Dia menatap Yudha sekilas, lalu melirik ke samping dan sudah tidak ada lagi siapa pun di tempat tadi.
"Kamu kenapa?"
"Eng-enggak papa, Mas." Zahra bangkit berdiri dan berpamitan ke toilet saat merasakan debaran jantungnya yang begitu kencang.
__ADS_1