
"Tu-Tuan Arga?" Kening Zahra mengerut saat melihat Arga sudah berdiri tepat di depannya saat ini. "Ada perlu apa?"
"Aku disuruh Nona Rasya untuk menjemputmu," ujar Arga. Raut wajahnya tampak begitu datar, tanpa ekspresi.
"Menjemput? Tapi saya tidak bisa, Tuan."
"Kenapa?" Arga menyela dengan tidak sabar.
Baru saja Zahra hendak menjawab, terdengar suara motor yang mampu mengalihkan perhatian mereka berdua. Tangan Arga terkepal erat saat melihat Yudha sedang turun dari motor tanpa melepas helm yang dikenakan. Senyum di bibir Zahra tampak terlihat jelas.
"Kamu sudah siap?" tanya Yudha lembut. Zahra mengangguk cepat. Yudha membungkuk hormat saat melihat keberadaan Arga di sana.
"Tuan, katakan pada Rasya kalau saya sudah berangkat dengan Mas Yudha." Zahra menarik Yudha untuk bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
Yudha hanya menurut, sedangkan Arga berdiri terpaku di tempatnya dengan tatapan yang tidak terlepas sedikit pun dari mereka berdua. Bahkan, ketika motor Yudha sudah melaju, pandangan Arga masih tetap sama. Namun, beberapa detik selanjutnya, tubuh Arga terjengkit karena terkejut saat Zety menepuk bahunya untuk menyadarkan dari lamunan.
"Jangan kurang ajar!" ketus Arga. Zety menunjukkan rentetan gigi dan dua dari tanda damai.
"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak mau kalau Anda kerasukan setan penunggu pohon mangga karena melamun. Lagian, kalau cinta itu jangan cuma dipendem, tapi ungkapin biar enggak ngganjel." Zety mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara seperti itu.
Tanpa menjawab atau merespon apa pun, Arga berlalu begitu saja. Masuk ke mobil lalu melajukannya meninggalkan rumah kontrakan. Zety yang melihat itu hanya menggeleng, dan bibirnya tersenyum lebar saat melihat kedatangan Gatra yang menjemputnya seperti biasa.
Zety mendekat ke mobil ketika Gatra turun dari sana. "Maaf, aku jadi selalu merepotkanmu terus."
"Mas!" Zety menyadarkan Gatra yang justru terdiam.
"Ah, iya! Apa barusan mobil Rasya?" tanya Gatra, membuat senyum di bibir Zety memudar seketika.
__ADS_1
"Iya. Memang kenapa?" Zety menatap Gatra dengan begitu menuntut.
"Tidak papa." Gatra menjawab cepat. "Seharusnya, aku datang lebih pagi jadi bisa melihat wajah Rasya. Aku sangat merindukannya," gumam Gatra.
Namun, Zety masih mendengar dengan baik meski samar. Hati Zety terasa berdesir dan sakit. Dia memang belum memiliki hubungan apa pun dengan Gatra. Bahkan, dia tidak tahu perasaannya sendiri. Akan tetapi, kenapa hatinya sakit saat Gatra bergumam seperti itu.
"Mas, jangan sampai kita terlambat." Zety mengingatkan. Wajahnya mendadak lesu dan tidak ada sedikit pun senyum yang menghiasi wajahnya.
Gatra pun mengiyakan dan masuk kembali ke mobil. Setelah Zety duduk dengan tenang, Gatra segera melajukan mobilnya menuju ke Restoran Gama. Selama dalam perjalanan, hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Zety membungkam mulut karena perasaan sakit yang masih menjalar, sedangkan Gatra terlihat fokus pada stir kemudinya.
Tidak berbeda jauh dengan mereka, Arga terlihat fokus dengan kemudi, dan melaju di belakang Zahra. Arga merasa sangat kesal. Dia sudah bersusah payah meminta izin kepada Pandu untuk menjemput Zahra terlebih dahulu, tetapi gadis itu justru sudah dijemput Yudha. Rasanya, Arga tidak rela jika Zahra menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Yudha, meskipun mereka sudah layaknya kakak-adik.
"Oh, ****!" Arga mengerem mendadak saat melihat motor Yudha yang berhenti di depan warung makan. Suara klakson dari mobil dari arah belakang, mengharuskan Arga untuk kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Biarlah, mereka sedang dimabuk asmara." Arga memilih pergi dan tidak lagi membututi dua sejoli tersebut.