
Dua piring nasi berdampingan dengan piring berisi gulai sapi tersaji di depan Zahra dan Yudha. Cacing di perut Zahra sudah meronta dan tidak sabar untuk segera diberi asupan makanan. Seusai berdoa, Zahra langsung melahap makanan tersebut. Yudha yang melihatnya pun hanya tersenyum dan ikut memakan sarapannya.
"Ra," panggil Yudha di sela kunyahannya.
"Apa, Mas?" tanya Zahra.
"Kamu sudah lama sekali tidak bermain ke panti. Apa kamu tidak rindu?" tanya Yudha. Meminum segelas air putih lalu menangkup sendok karena nasinya telah habis.
Zahra terdiam dan merasa bersalah. Memang sudah lama sekali dia tidak bermain ke panti. Dia merindukan Ibu Hanny dan anak-anak yang tinggal di sana. Zahra menatap Yudha dengan sayu.
"Aku akan ke panti setelah mendapat gaji bulan ini, Mas. Aku enggak bisa ke sana tanpa bawa apa-apa." Zahra menaruh sendok. Lalu menghela napas panjang yang terasa berat.
"Kamu tidak perlu membawa apa pun. Kehadiranmu saja sudah cukup. Berkali-kali Ibu Hanny bertanya padaku, apalagi saat kubilang kalau sekarang kamu bekerja satu kantor denganku."
"Tapi, Mas—"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian. Akhir pekan besok aku akan menjemputmu dan kita ke panti bersama-sama. Pokoknya tidak ada koma apalagi titik!" ucap Yudha tegas. Zahra hanya mengangguk lalu menghabiskan makanannya meski tidak lagi berselera. Zahra tidak ingin membuang makanan meski hanya sebutir nasi.
"Ra, satu hal lagi yang akan aku bicarakan denganmu." Suara Yudha terdengar ragu. Zahra pun menatap curiga kepada Yudha.
"Ketika di kantor nanti, kita hanya akan bersama sampai di parkiran. Maukah kamu bersikap seolah kita tidak saling mengenal saat berada di kantor?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Yudha mampu membuat jantung Zahra berhenti berdetak saat itu juga. Hati Zahra mencelos sakit mendengar permintaan tersebut.
"Me-memang kenapa, Mas?" tanya Zahra terbata. Bahkan suaranya terdengar bergetar karena menahan tangis.
Namun, Zahra hanya diam dan wajahnya tampak sendu. Dengan lembut, Yudha menangkup wajah Zahra lalu menghadapkan ke arahnya. Tatapan mereka berdua pun bertemu bahkan Zahra sama sekali tidak berpaling.
Walaupun tidak rela, tetapi Zahra tetap mengangguk paksa. Yudha tersenyum tipis saat melihatnya lalu mengajak segera pergi karena sebentar lagi jam masuk kantor. Zahra hanya diam, tetapi gurat sendu tampak memenuhi wajahnya.
***
__ADS_1
"Az-Zahra!" panggil Arga.
Zahra menoleh, lalu menatap Arga yang sudah berjalan mendekat. Tiga hari setelah ucapan Yudha di warung makan kala itu, Zahra mendadak kehilangan semangat hidup. Bahkan, selama bekerja pun, dia merasa sangat enggan. Dia tidak tahu kalau Arga selama ini diam-diam mengawasi.
"Ada apa, Tuan?" Zahra menjawab malas. Jam kantor baru saja usai, dan dia tidak mau berhubungan dengan siapa pun apalagi Arga.
"Kamu berniat kerja di sini atau tidak? Kulihat kamu sangat bermalas-malasan." Arga begitu menuntut, tetapi Zahra justru mengembuskan napas kasar.
"Maafkan saya, Tuan. Besok-besok saya tidak akan bermalas-malasan lagi." Zahra masih bersikap sopan. Bagaimanapun juga, Arga adalah orang yang sangat berpengaruh di perusahaan itu.
"Kalau dalam waktu satu Minggu kamu masih seperti ini. Jangan salahkan aku kalau kamu harus berhenti kerja dari sini dengan cara tidak terhormat!" Arga berkata tegas lalu pergi meninggalkan Zahra begitu saja.
Zahra hanya terpaku di tempatnya dan menatap punggung Arga yang perlahan menjauh darinya. Zahra menghirup napas dalam lalu melangkah lesu meninggalkan area kantor.
Mungkinkah berhenti kerja di perusahaan ini bisa membuatku bahagia karena tidak harus berpura-pura tidak mengenali Mas Yudha.
__ADS_1