Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
95


__ADS_3

Setelah menceritakan semuanya kepada sahabatnya, Zahra akhirnya tinggal di rumah baru yang dibeli oleh Setya. Rumah yang sangat mewah dan berjarak tidak jauh dari rumah Rasya. Zahra pun akhirnya berhenti bekerja di perusahaan Andaksa, dan hanya di rumah menemani Laras, sesekali dia pergi ke Restoran Gama untuk menemui sahabatnya.


Pernikahan Arga dan Zahra benar-benar akan digelar bulan depan sesuai keinginan kedua orang tua mereka. Siap tidak siap, baik Zahra maupun Arga tetap harus siap. Seluruh urusan yang berkaitan dengan pernikahan, Zahra dan Arga sama sekali tidak turun tangan. Justru Melda dan Laras yang terlihat bersemangat menyiapkan semuanya.


"Kamu sudah siap mencoba gaunnya?" tanya Arga, saat sedang dalam perjalanan menuju ke butik. Saat ini, mereka akan mencoba gaun pernikahan yang akan dipakai satu minggu lagi.


"Sudah, Mas. Tapi aku gugup." Zahra menghela napas panjang. Arga yang melihat itu hanya menarik sudut bibirnya, tersenyum simpul.


"Kenapa mesti gugup? Jangan-jangan kamu sudah tidak sabar," ledek Arga disertai kekehan.


Zahra melirik sekilas lalu kembali menatap ke arah depan. "Tidak sabar untuk apa? Aku cuma takut melakukan kesalahan saat sedang pesta."


"Tidak akan. Percaya saja semua akan baik-baik saja. Aku harap kamu tidak seperti Nona Rasya dulu. Berpura-pura pingsan." Arga menggeleng, saat teringat betapa Rasya kelewat somplak dulu.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak segila Kurap." Bibir Zahra mengerucut, dan itu membuat Arga tidak tahan untuk tidak mencubitnya. "Mas ...." Zahra merengek manja.


Arga hanya tertawa lalu mengusap belakang kepala Zahra penuh cinta. Setelahnya, dia pun kembali fokus pada laju kendaraannya. Melihat Arga yang terdiam, Zahra memainkan ponselnya dan sibuk berkirim pesan dengan para sahabatnya di grup.


Setibanya di butik, Arga langsung mengajak Zahra masuk dan mencoba gaun pengantin yang sudah siap dipakai. Arga terpesona saat melihat Zahra yang tampak begitu cantik dengan gaun pengantin warna putih. Terlihat sangat pas di tubuh gadis itu. Membuat Arga makin tidak sabar ingin segera memiliki Zahra seutuhnya.


"Aku kelihatan seperti banci tidak sih, Mas, pakai kaya gini." Zahra menatap sangat lekat pantulan dirinya di cermin. Merasa tidak percaya diri karena selama ini jarang sekali dirinya menggunakan gaun maupun rok.


"Tapi ...."


"Percayalah kalau kamu cantik. Kamu yakin gaun ini sudah pas, tidak kekecilan ataupun kebesaran?" tanya Arga memastikan.


Zahra menggeleng cepat, "Sudah sangat pas. Bahkan sangat mewah untukku."

__ADS_1


"Kalau begitu, sekarang kamu ganti baju lagi dan setelah ini kita cari makan," suruh Arga. Zahra menurut dan kembali mengganti pakaiannya. Sembari menunggu Zahra berganti pakaian, Arga pun mencoba tuxedo berwarna senada dengan gaun Zahra. Arga menatap puas, dan berharap semua acaranya akan berjalan lancar.


***


Seusai mencoba gaun, mereka berdua mencari makan siang di sebuah restoran. Arga memesan makanan kesukaan Zahra. Bukan lagi seafood karna Arga tidak ingin Zahra kembali terkena alergi.


"Mas, kamu jadi cuti?" tanya Zahra di sela kunyahannya.


"Ya, mungkin dua minggu. Rencananya, setelah kita mengadakan pesta pernikahan, aku akan mengajakmu bulan madu," ucap Arga santai. Zahra membulatkan penuh kedua bola matanya.


"Bulan madu ke mana?" tanya Zahra antusias.


"Mungkin ke Amerika supaya aku bisa kembali ingat dengan tragedi kaos kaki bolong kala itu," ledek Arga. Zahra mendecakkan lidah lalu memukul lengan Arga karena sebal.

__ADS_1


__ADS_2