
Zahra menuruti keinginan Yudha untuk pergi bersamanya selama tiga hari. Walaupun zahra tidak ingin, dan justru berniat untuk menghindar, tetapi entah mengapa hatinya merasa tidak tega. Zahra pun menuruti apa keinginan Yudha. Makan bersama, jalan-jalan berdua meski Zahra merasa semua telah berbeda. Rasanya, ada sekat yang tercipta di antara mereka bahkan Yudha sedikit menghindar dari Zahra.
"Lihatlah bintang-bintang di langit sana, Ra." Yudha tidur telentang di atas rumput tepi danau dengan dua tangan sebagai bantalan, sedangkan Zahra hanya duduk diam di samping Yudha.
"Bintangnya cantik, Mas." Zahra mendongak, menatap ratusan bintang yang berkerlip membuat malam itu terasa indah.
"Ya, secantik dirimu." Ucapan Yudha mampu membuat pipi Zahra bersemu merah.
"Mulutmu manis sekali, Mas. Aku enggak nyangka kalau kamu bisa bicara semanis itu." Zahra menoleh, dan menatap Yudha yang sedang memejamkan mata.
Zahra masih merasa kagum dengan Yudha meski lelaki itu sudah membuatnya kecewa. Apalagi, berada dalam cahaya temaram, membuat wajah Yudha makin terlihat tampan.
__ADS_1
"Ra ... di antara ratusan bintang di langit. Kamu seperti bintang itu." Telunjuk Yudha mengarah ke satu bintang yang paling terang di antara yang lainnya. "Paling bersinar."
Zahra menutup mulut rapat. Tidak tahu lagi harus menanggapi yang bagaimana. Namun, dalam hati Zahra bersorak kegirangan. Seperti seorang ABG yang sedang dimabuk cinta. Yudha tersenyum melihat wajah Zahra yang cantik jelita.
"Ra, kalau boleh jujur. Sebenarnya aku sayang sama kamu. Lebih dari rasa sayang seorang kakak untuk adiknya."
Deg!
"Mas, jangan bercanda!" Zahra mencoba berkilah untuk menutupi kegugupannya.
"Aku tidak bercanda, Ra. Aku sayang sama kamu. Bahkan lebih dari segalanya, tapi aku sadar, Ra ... kalau kita tidak akan pernah berjodoh." Yudha memejamkan mata saat merasakan hatinya terasa berdenyut sakit.
__ADS_1
Yudha tahu, ini sangat berat. Akan tetapi, dia pun tidak memiliki daya apa pun karena semua sudah menjadi garis takdirnya. Sekuat apa pun, sekeras apa pun dia berjuang dan berusaha untuk tetap bertahan. Nyatanya, dia tetap berada di ujung kematian dan hanya menunggu saat itu tiba.
"Mas ... aku juga memiliki perasaan yang lebih dari seorang adik untuk kakaknya, kepadamu. Bahkan aku sangat mengagumi kamu karena kamu benar-benar menjagaku." Suara Zahra terdengar lirih meski ada nada kegugupan di dalamnya.
Bukannya tidak tahu malu, tetapi Zahra pun ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya. Rasa kagum, bangga, sayang, dan cinta kepada Yudha. Zahra ingin lelaki itu tahu kalau dirinya juga mencintai Yudha dan berharap bisa hidup bahagia dengan lelaki itu.
"Terima kasih sudah mencintaiku, Ra. Aku tidak menyangka kalau perasaanku ternyata bersambut padamu. Tapi—" Yudha merasa ragu saat akan melanjutkan ucapannya. Dia takut akan sangat melukai hati Zahra. Namun, mau tidak mau Yudha tetap harus melakukannya.
"Tapi apa, Mas?" tanya Zahra tidak sabar. Setelah menunggu cukup lama, lelaki itu hanya diam saja padahal Zahra sudah sangat menunggu.
Yudha menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan perlahan. "Maukah kamu menghapus perasaanmu itu dan berjanji akan hidup bahagia dengan lelaki lain. Aku sadar, Ra. Sangat sadar kalau sampai kapan pun bahkan hingga aku mati. Kita tidak akan pernah berjodoh."
__ADS_1
Zahra meremas ujung baju yang dikenakan saat mendengar ucapan Yudha yang mampu memporak-porandakan hatinya.