
Baru saja Zahra berbicara seperti itu, tetapi dia sudah dikejutkan dengan Zety yang begitu histeris dengan kedatangan Arga. Zahra tidak menyangka kalau Arga benar-benar berada di rumah kontrakan saat ini. Dengan segera Zahra menaruh toples di atas meja, lalu bangkit berdiri dan mendekat ke pintu.
"Ada perlu apa Anda ke sini, Tuan?" tanya Zahra gugup. Dalam hati Zahra merutuki dirinya sendiri karena terpesona dengan Arga yang terlihat gagah dan macho saat menggunakan pakaian casual seperti saat ini.
"Aku disuruh menjemputmu." Arga menjawab malas.
"Menjemput?" Kening Zahra mengerut bahkan membuat kedua alisnya saling bertautan.
"Ya. Nona Rasya ingin makan bakmi jawa dan kamu yang membuatnya. Tidak mau yang lain," sahut Arga.
"Astaga, tuh bocah ngerepotin banget, sih."
"Ehem!"
Zahra menutup mulut saat Arga tiba-tiba berdeham keras. Zety yang melihat itu pun, menggigit bibir bawah untuk menahan tawa supaya tidak meledak.
__ADS_1
"Tuan, tapi ini sudah malam. Sudah jam tujuh dan sebentar lagi waktunya saya tidur. Biar saya telepon Rasya saja." Zahra bersiap masuk ke kamar untuk mengambil ponsel. Namun, Arga menahannya.
"Kalau kamu tidak menuruti keinginan Nona Rasya maka jangan kaget kalau kamu besok sudah berhenti bekerja di Perusahaan ADS Group." Nada bicara Arga terdengar penuh ancaman.
Zahra terdiam mendengar ucapan Arga. Bahkan, dia menatap Arga dengan lekat untuk melihat kesungguhan dari ucapan lelaki itu. Namun, saat Zahra melihat senyum samar di sudut bibir Arga, dia pun hanya bisa mendes*h kasar.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan ke sana sekarang." Zahra begitu pasrah. "Suk, elu mau ikut enggak?" tanya Zahra kepada Zety yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Kalau boleh."
"Kenapa tidak boleh, Tuan? Saya malu kalau di sana sendirian." Zahra mulai berbicara ketus.
"Kenapa malu? Kamu memakai baju lengkap, kenapa mesti malu kecuali kamu telanj*ng."
"Tapi, Tuan—"
__ADS_1
"Jangan banyak bicara karena Nona Rasya sudah menunggumu," sela Arga.
Zahra pun hanya mengiyakan dan berpamitan dengan Zety. Sebenarnya, Zahra tidak tega meninggalkan Zety sendirian karena Margaretha sedang kerja sift malam. Akan tetapi, dia juga tidak berani melawan Arga. Setelah siap, Zahra segera keluar rumah bersama Arga. Namun, Zahra terkejut saat tidak melihat mobil di halaman rumah. Yang ada hanya motor sport warna merah menyala yang terparkir tidak jauh dari pohon mangga.
"Ki-kita naik motor, Tuan?" tanya Zahra tidak percaya.
"Ya. Memang kenapa?" Arga justru bertanya balik.
"Ti-tidak apa-apa, Tuan." Zahra menggeleng. Baginya, menolak atau protes seperti apa pun, dirinya tetap akan kalah.
Arga pun naik ke motor dan Zahra duduk membonceng. Jujur, Zahra takut saat membonceng motor sport seperti itu. Dia bingung harus berpegangan di mana. Tidak mungkin dirinya berpegangan Arga, yang ada lelaki itu akan memarahinya habis-habisan.
Ketika motor Arga sudah mulai melaju, Zahra tak henti merapalkan doa-doa dalam hati. Arga yang merasakan ketakutan Zahra, justru tersenyum sinis dan mulai mempercepat laju motornya. Jantung Zahra berdebar kencang karena takut hingga tanpa sadar dia memegang jaket yang dikenakan Arga di kedua sisi pinggangnya. Senyum Arga mulai mengembang karenanya.
"Tuan, awas!"
__ADS_1
Citt!!