Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
27


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja?" tanya Pandu. Mendaratkan ciuman di kening Rasya cukup lama supaya kekhawatiran yang tadi memenuhi hatinya bisa memudar.


"Aku baik, Mas." Rasya menjawab lemah. Entah mengapa, dia merasa tidak bertenaga.


"Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu banyak pikiran. Kamu tahu, kita hampir saja kehilangan calon buah hati kita." Pandu mendadak sendu. Rasya yang melihat itu pun menjadi merasa bersalah.


"Maafin aku, Mas." Suara Rasya terdengar lirih. Pandu berusaha tersenyum dan mengusap puncak kepala istrinya penuh kelembutan. "Mas, apa Zaenab di sini?"


Senyum Pandu memudar, "Untuk apa kamu bertanya tentang dia? Dengar, Ra ... biarkan sahabatmu itu memilih yang terbaik untuknya. Jangan lagi ikut campur urusan dia. Fokus saja pada keluarga kecil kita." Pandu masih berbicara lembut. Dia tidak mau jika istrinya akan kembali kepikiran.


Rasya menghela napas panjangnya lalu mengembuskan dengan perlahan. "Mas, aku kangen sama bapak, ibu, dan Mas Agus."


"Kalau begitu, setelah tubuhmu benar-benar pulih, aku akan mengajak kamu ke kampung. Bahkan, kalau kamu mau tinggal di sana beberapa hari, aku akan bilang Daddy dan biar dia menggantikanku di kantor," ucap Pandu.


"Mas, kasihan Daddy." Rasya merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Daddy pasti akan senang. Semua demi cucu mereka supaya baik-baik saja. Mereka saja sedang dalam perjalanan ke sini saat aku bilang kamu pingsan," ujar Pandu.


"Mas, terima kasih."


Pandu tidak menjawab dan hanya mencium pipi Rasya lembut.


••••


Tiga hari setelahnya, Rasya dan Pandu pulang ke kampung, sedangkan Arga harus menetap di kantor selama kepergian Pandu, sebagai hukuman untuk Arga karena lelaki itu tidak mengangkat panggilan Pandu di saat sedang genting waktu itu.


Malam ini Zahra pergi bersama Zety menggunakan motor. Zahra duduk membonceng. Selama dalam perjalanan, mereka berdua mengobrol seperti biasa. Meskipun Zety kecewa dengan sahabatnya, tetapi dia tidak akan memusuhi apalagi mendiamkan. Zety tidak ingin Zahra akan makin terpuruk.


"Baca Bismillah biar enggak ada setan yang lewat, Suk," ucap Zahra saat mereka melewati jalan yang sepi.


"Gue mending ketemu setan daripada orang jahat." Zety menimpali.

__ADS_1


Tiba-tiba, Zahra menajamkan penglihatan saat melihat motor dan mobil yang terparkir berjejeran. Zahra merasa tidak asing dengan motor tersebut.


"Berhenti, Suk!" Tubuh mereka terhuyung ke depan karena Zety mengerem mendadak.


"Elu jangan ngagetin sih, Zae!" omel Zety, tetapi Zahra tidak peduli dan justru turun dari motor.


"Seperti motor Mas Yudha." Zahra diam dan mengamati. Zety pun ikut diam.


Ketika Zahra hendak melangkah mendekat, langkahnya terhenti tiba-tiba saat melihat Yudha keluar dari sana bersama dengan Sonia. Bahkan, Zahra melihat Sonia yang membenarkan baju yang dikenakan juga rambut yang sedikit berantakan. Zety yang melihat itu pun, segera turun dari motor dan memastikan penglihatannya tidaklah salah.


"Zae, apa pikiran elu sama seperti apa yang ada di pikiran gue?" tanya Zety, masih belum percaya.


Zahra tidak menjawab dan justru melangkah lebar mendekati Yudha. Bagaimanapun juga, dia harus memastikan semuanya.


"Mas Yudha!" panggil Zahra berteriak. Yudha yang hendak naik ke motor pun menjadi terkejut. Bahkan, wajahnya memucat tatkala melihat kedatangan Zahra.

__ADS_1


"Za-Zahra," panggil Yudha terbata. Zahra hanya diam, tetapi tatapannya begitu menuntut jawaban.


__ADS_2