
Arga terdiam sesaat untuk mencerna ucapan Zahra. Namun, beberapa detik selanjutnya terdengar tepuk tangan yang begitu riuh di restoran tersebut. Senyum Arga pun mengembang sempurna. Dengan antusias, Arga membuka kembali kotak itu dan memasukkan cincin tersebut ke dalam jari manis Zahra, lalu memeluk gadis itu dengan sangat erat.
"Terima kasih," ucap Arga penuh haru.
Zahra hanya diam karena belum percaya dengan apa yang dilakukan Arga. Namun, dalam hati Zahra tidak memungkiri kalau pelukan Arga terasa begitu nyaman bahkan membuat Zahra merasa terhanyut karenanya. Tanpa sadar, Zahra melingkarkan tangan dan membalas pelukan itu.
"Uuhhh, so sweet banget," gumam Zety, memeluk Margaretha yang berdiri di sampingnya.
"Kita kapan bisa kaya Zaenab sama Kurap ya?" ujar Margaretha, berlagak sedih.
"Nasib jomlo gini amat yak!" ucap Zety lagi.
"Kasihan kasihan kasihan," timpal Rasya, menirukan cara bicara salah satu serial anak, dan langsung disambut gelakan tawa dari mereka semua.
"Jangan ngeledek deh, Ra. Sumpahin kita dong, Ra." Zety berbicara setengah merengek.
__ADS_1
"Sumpahin apa? Jadi perawan tua?" seloroh Rasya, disertai senyum meledek.
"Amit-amit, kejam amat elu, Ra." Zety mengerucutkan bibir. "Sumpahin kita kek biar bisa nikah sama CEO, yang ganteng, gagah, macho, kaya raya."
"Enggak sombong, rajin nabung juga, Suk, jangan lupa tambahin," imbuh Margaretha.
"Ah, iya. Gue hampir lupa." Zety menepuk keningnya.
"Astaga, kalian berdua ini." Rasya menggeleng. "Mendingan kita makan deh, gue udah laper banget."
Di sela makan, sesekali mereka mengobrol dan bercanda. Tak jarang gelakan tawa terdengar menggema di sana. Jika Pandu dengan posesifnya menyuapi Rasya, berbeda dengan pasangan dimabuk asmara yang saat ini terus saja bergandengan tangan.
"Ga, jangan lupa nanti kenalin Zahra kepada Om Setya dan Tante Laras. Mereka bilang dua hari lagi akan berkunjung ke Indonesia," ucap Melda.
"Wah, kabar bagus. Aku udah kangen banget sama mereka. Tiga tahun lebih tidak ketemu." Arga menjawab antusias. Bagi Arga, kedua orang itu sudah seperti orang tuanya sendiri karena mereka sangat menyayangi Arga.
__ADS_1
"Tante Laras pasti sangat senang bertemu Zahra, apalagi Zahra sangat mirip dengan Tante Laras," ujar Melda. Mengalihkan perhatian mereka semua.
"Astaga, Mel. Kenapa aku baru sadar kalau wajah Zahra dan Laras sangat mirip. Cuman, kalau di Zahra ini mata sama hidungnya mirip banget Setya." Lisa mengamati wajah Zahra dengan seksama. Begitu juga dengan Arga.
"Laras pasti senang banget kalau lihat Zahra, Lis. Apalagi dia pernah kehilangan putri mereka satu-satunya." Wajah Melda mendadak muram saat teringat betapa terpuruknya Laras dulu ketika kehilangan buah hatinya.
"Hilang, Tante?" tanya Rasya. Entah mengapa dia mendadak curiga. Sementara Zahra hanya diam dan merasakan jantungnya berdebar kencang saat mendengar mereka terus saja menyebut nama Laras.
"Ya, dulu putri Laras diculik, dan sampai sekarang belum ketemu. Kalau masih hidup mungkin sekarang sudah sekitar dua puluh tahunan," papar Melda.
Deh!
Ada apa dengan hatiku. Kenapa tiba-tiba berdebar sangat kencang.
Zahra memegang dada dan berusaha untuk menetralkan debaran itu. Melihat perubahan raut wajah Zahra, dengan erat Arga menggenggam tangan gadis itu. Seolah memberi kekuatan, dan dalam hati Arga berdoa semoga saja ada kabar baik setelah ini.
__ADS_1