
Setibanya di panti asuhan, jenazah Yudha disambut dengan isak tangis dari para penghuni panti. Bahkan, Ibu Henny beberapa kali tidak sadarkan diri. Bagi wanita paruh baya itu, Yudha sudah seperti anaknya sendiri apalagi Yudha selalu berjuang demi anak-anak panti.
Baru turun dari mobil, Arga langsung membopong Zahra menuju ke kamar. Dia juga berpesan kepada Zety dan Margaretha yang sudah tiba di panti untuk membersihkan tubuh Zahra, sedangkan Arga meminta Dani untuk mencarikan baju ganti untuknya karena dia juga akan membersihkan diri.
Kedua mata Zahra mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya di kamar. Namun, beberapa detik selanjutnya, terdengar tangisan Zahra yang begitu memilukan. Bahkan, membuat kedua sahabat Zahra ikut tak kuasa menahan tangis.
"Elu harus sabar, Zae." Zety mengusap bahu Zahra dan merangkul gadis itu dengan erat.
"Mas Yudha, Suk. Mas Yudha jahat." Zahra tergugu. Dia berusaha turun dari tempat tidur, tetapi segera ditahan oleh kedua sahabatnya.
"Gue harus lihat Mas Yudha!" Zahra berontak, tetapi Zety dan Margaretha menahan tangan gadis itu.
"Elu bersihin diri dulu. Gue janji, setelah ini bakal antar elu lihat Mas Yudha."
__ADS_1
"Gue enggak mau, Mar! Gue pengen ketemu Mas Yudha!" Zahra kembali meronta.
"Plis, Zae. Semua demi kebaikan elu." Zety begitu memohon. Melihat tatapan mata kedua sahabatnya, Zahra pun akhirnya menurut.
Baru lima menit berlalu, Zahra sudah keluar dengan wajah yang sedikit lebih segar. Setelah berganti baju, mereka pun kembali ke ruang depan untuk melihat jenazah Yudha yang terbaring di sana. Tangisan Zahra kembali pecah. Begitu juga dengan Ibu Henny. Dua wanita itu saling berpelukan erat dan berusaha untuk saling menguatkan.
"Jangan terlalu larut, Ra. Kamu juga harus memikirkan anak kita." Pandu memeluk Rasya dari belakang dan membantu mengusap air mata Rasya. Sejak masuk ke panti, Rasya tak henti-hentinya menangis karena sakit melihat keadaan Zahra.
"Cepat atau lambat, Yudha juga akan pergi. Bukan hanya Yudha, tapi semua manusia pasti akan merasakan hal ini. Kehilangan orang yang dicintai. Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan," ujar Pandu.
Rasya melingkarkan tangan di perut Pandu dan memeluk lelaki itu erat. Semua ucapan Pandu memang benar dan dia pun harus bersiap jika suatu saat akan mengalami apa yang Zahra alami.
"Aku yakin kalau kalian bisa saling menguatkan. Hanya kalian bertiga yang menjadi sandaran Zahra sekarang. Tapi kamu harus ingat kalau ada janin yang harus kamu jaga di rahimmu. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa."
__ADS_1
Pandu perlahan memberi nasehat. Dia hanya merasa khawatir dengan istrinya dan kandungannya. Rasya mengangguk cepat lalu perlahan melerai pelukan suaminya. Setelah pelukan tersebut terlepas, Pandu menangkup wajah Rasya lalu membantu menghapuskan air mata wanita itu.
Sementara itu, Arga yang berdiri di samping mereka hanya menatap iba ke arah Zahra. Sejak selesai membersihkan diri, Arga hanya berdiri di sana. Menatap Zahra yang masih saja menangis. Padahal, ingin sekali Arga memeluk Zahra dan memberikan kekuatan, tetapi Arga tidak memiliki keberanian untuk itu. Dia takut, Zahra justru akan merasa tidak nyaman.
"Kak Arga," panggil Rasya lemah.
"Iya, Nona." Arga menjawab. Suara lelaki itu terdengar parau.
"Maukah Kak Arga berjanji akan menjaga dan membahagiakan Zaenab?" pinta Rasya penuh mohon. Arga tidak langsung menjawab. Hanya diam, tetapi dalam hati menimang-nimang. "Hanya Kak Arga lelaki yang aku percaya buat jaga Zaenab," imbuhnya.
"Saya akan berusaha, Nona."
Mendengar jawaban Arga, akhirnya Rasya mengembuskan napas lega dan dalam hati dia sangat berharap semoga Zahra bisa menghapus sosok Yudha dari dalam hati maupun ingatannya.
__ADS_1