Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Salah paham


__ADS_3

Yeay akhirnya sampai Bab 100 juga.


Mohon maaf dengan alur cerita yang beberapa Bab ini author buat maju-mundur, semoga nggak ada yang bingung ya 😆


Bukan tanpa sebab author menceritakan perpisahan karakter utama dari dua sisi yang berbeda, dari sudut pandang Riri dan dari sudut pandang Adit, bukan pula author bermaksud bertele-tele untuk menyatukan mereka kembali.


Author hanya ingin memberi porsi lebih kepada karakter lain dengan kisahnya masing-masing sebelum cerita ini Tamat, biar nggak terkesan gantung pas tamat nanti ✌️


Cukup sekian dan terimakasih, thanks untuk teman-teman semua yang masih setia membaca karya author yang ceritanya nggak sempurna ini 🙏 Happy reading.


...Lanjut 🚴🚴🚴...


 


Riri masih saja memandangi wajahku dengan menggenggam sebuah buku di tangannya.


"Ri...Kamu, kenapa ada di sini?" Tanyaku.


"Adit...Aku rindu." Katanya dan kemudian memelukku.


Aku terdiam dalam peluknya, akhirnya dekapannya yang hangat itu bisa kurasakan kembali.


"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" Tanyaku.


"Sudah dua hari Riri nyari Adit, Riri pergi ke rumah Adit tapi ternyata Adit sudah pindah, bahkan ponsel Rai pun tak bisa Riri hubungi." Kata Riri.


"Adit tanya sekali lagi, bagaimana Riri bisa tau Adit ada di sini?" Kataku dengan berlagak dingin padahal hatiku sebenarnya sangat senang.


"Tadi Riri lihat Adit bergandengan tangan dengan seorang wanita menuju cafe ini, jadi Riri ikuti."


"Kamu cemburu?" Kataku masih berlagak dingin.


Riri menganggukan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan Dokter yang jalan bersamamu ke menara Eiffel?" Tanyaku yang masih memendam cemburu.


"Dokter? Eiffel? Bagaimana caranya Adit bisa tau?" Tanya Riri.


"Jawab saja Ri, kamu pacaran dengan Dokter itu?" Kataku yang masih merasa cemburu.


Riri lalu menceritakan kisahnya selama 3 bulan berada di Perancis, tak kuduga Riri mengalami hal yang sangat mengerikan ketika berada di sana, dia bilang kini Papa telah meninggal karena Dokter itu, dan tak lama Riri memberiku sebuah buku jurnal dan memintaku untuk membaca halaman terakhir dari jurnal itu.


Belum sempat aku membaca jurnal itu lalu Kak Sinta keluar dari ruangannya.


"Riri..!!!" Ucap Kak Sinta.


"Kak Sinta, ka..Kamu."


Kebetulan sekali sore itu Kak Sinta memakai kaos dan celana jeans yang berwarna hitam, membuat Riri salah paham dan mengira aku menggandeng tangan Kak Sinta ketika dia melihatku berjalan menuju cafe tadi.


Plak...Riri menampar pipiku.


"Kamu jahat Adit, aku mengira kamu masih mencintaiku tapi nyatanya kamu kini telah bersama Kak Sinta...Aku kecewa." Kata Riri menangis dan berlari keluar dari cafe itu.


"Ri tunggu...kamu salah mengira." Kataku terpaku di tempat itu.

__ADS_1


"Kejar dia Adik bodoh." Kata Kak Sinta memarahiku.


Aku pun mengejar Riri yang menuju jalan raya, tampak Pay yang baru saja datang untuk bekerja ikut berlari bersamaku.


"Ngejar maling Dit?" Tanya Pay.


"Maling palamu, itu Riri Pay." Jawabku.


Tak lama tampak Bams yang ikut mengejar dari arah belakang kami.


"Hai." Katanya.


"Wadidaw si klimis, datang darimana lu." Tanya Pay.


"Gw emang ikut bos Riri kesini untuk nyari kalian, bos Adit kenapa bos Riri lari sambil menangis seperti itu?" Tanya Bams.


"Sudah nanti saja penjelasannya, sekarang kita kejar Riri."


"Lagian Bos Riri mau lari kemana sih, mobilnya kan di sebelah sana, apa mungkin dia mau lari sampai ke Jakarta." Kata Bams dengan ocehan bodohnya.


Kami hampir saja menyusulnya di persimpangan jalan raya itu, dia mencoba menyebrangi jalanan itu hingga tiba-tiba datang sebuah mobil yang hampir saja menabraknya, untunglah aku masih sempat menarik tangan Riri hingga dia bisa terhindar dari kecelakaan yang sangat mengerikan.


"Mobil sialan, masa nggak lihat ada orang nyebrang, padahal tadi dia bisa saja ngerem." Kata Pay yang emosi.


"Untung kabur kalau nggak ku hisap habis bensinnya." Kata Bams.


Riri kini berada dalam dekapanku, terlihat dia tak sadarkan diri, mungkin saja dia pingsan karena terkejut dengan kejadian tadi.


Karena panik kami membawa Riri ke Rumah Sakit tempat Tiwi di rawat dahulu menggunakan mobil Riri yang di bawa oleh Pak Iwan, sesampainya di sana Pak Dokter menghampiri kami dan segera menangani Riri.


Aku membaca halaman itu kata demi kata, ternyata itu adalah tulisan tangan dari Om Suryo.


Hingga pada beberapa kalimat terakhir aku terkejut dengan pernyataan dari Om Suryo yang mengatakan bahwa aku adalah anak kandungnya sedangkan Riri adalah anak angkat.


Oh Tuhan kenyataan apalagi yang harus kuterima ini, apakah semua ini benar? Atau ini hanya karangan Om Suryo agar aku memaafkannya, aku tak mungkin percaya begitu saja kata-katanya dan akan menanyakan hal ini pada Ibu terlebih dahulu.


Baru saja aku hendak menelpon Ibu yang saat ini tengah berada di Bali bersama Bapak tiba-tiba datang seorang Dokter muda masuk ke ruangan tempat Riri di rawat, Dokter itu tak pernah kulihat sebelumnya, tapi mungkin saja dia baru bekerja di sini ketika aku pulang bersama Tiwi, pikirku.


Dokter itu memintaku untuk meninggalkannya bersama Riri karena katanya dia akan memeriksa keadaan Riri, dia khawatir jika Riri mengalami gegar otak karena sampai saat ini masih tak sadarkan diri setelah hampir saja ditabrak mobil tadi.


Aku pun menunggu di luar ruangan sambil menelpon Ibu, Bams dan Pay tak terlihat di sana, tampaknya mereka mencari minum setelah drama pengejaran tadi.


Akhirnya Ibu mengangkat telponku, aku langsung menanyakan hal itu kepada Ibu, awalnya Ibu terdiam, tapi tak lama dia membenarkan semua itu sambil sesekali terdengar isak tangisnya.


Telpon pun berakhir, aku tak menyangka, ternyata orang yang selama ini kubenci adalah Ayah kandungku sendiri, dan ternyata setelah membuat Ayah Sigit bangkrut dia sebenarnya sudah mencoba memperbaiki semuanya, dia sudah bertemu dengan Ayah yang saat itu tengah sakit parah dan mereka telah bermaafan, bahkan hal itu tak diketahui oleh Ibu.


Aku sangat merasa bersalah, kalau saja saat itu aku tak terbakar emosi dan mendengar semua penjelasannya tentu semua ini tak akan terjadi, tentu Ayah kandungku masih hidup saat ini, aku menangis untuknya di luar ruangan itu, aku menyesal...Sangat menyesal karena sampai nafas terakhir Ayah kandungku aku tak berada di sisinya.


Tadi Riri sempat bercerita jika Dokter yang bernama Rezky itu belum tertangkap, Dokter itu telah membunuh Ayah kandungku, jika saja aku bisa bertemu dengannya sudah tentu akan kubalaskan dendam Ayahku.


Tapi tunggu dulu, seketika aku teringat dengan kata-kata Dokter muda tadi, tadi Dokter itu berkata bahwa dia khawatir Riri mengalami gegar otak setelah hampir tertabrak mobil.


Darimana dia bisa tahu jika Riri hampir tertabrak mobil, padahal aku belum menceritakan hal ini pada siapapun ketika tiba di sini tadi.


Aku menoleh ke arah ruangan Riri, kubuka pintu ruangan itu yang ternyata terkunci dari dalam, hingga akhirnya aku mendobrak pintu itu.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kulihat Dokter muda itu sedang membelai tubuh Riri yang masih tak sadarkan diri, seketika itu pula ia menoleh ke arahku hingga mata kami bertemu.


"Lepaskan dia baji****." Kataku Emosi.


"Wah..Wah, jadi kamu yang namanya Adit." Ucapnya.


"Hari ini aku akan buat perhitungan denganmu Rezky." Kataku.


"Buat perhitungan katamu, akulah yang akan membunuhmu, karena kamulah aku dan Riri tak bisa bersatu." Ucapnya.


Tanpa dia duga aku langsung menerjang tubuhnya hingga dia tak sempat mengelak, aku memukulinya bertubi-tubi, kini dia tak bisa bergerak karena kutindih.


Wajahnya bersimbah darah karena pukulanku, tapi anehnya dia malah tertawa, seperti sengaja menerimanya.


"Sudah puas?" Katanya sambil menyeringai.


Orang ini gila, dia bukanlah orang normal pada umumnya yang dengan sengaja menerima pukulanku yang kuarahkan ke wajahnya sekuat tenaga.


Dia mendorongku hingga posisi terbalik dan kini dia menindihku dengan tubuhnya, dia memukuliku wajahku bertubi-tubi tapi untunglah dapat kutahan dengan kedua lenganku, aku berontak, mencoba menjatuhkannya, tapi tenaganya sangatlah kuat.


"Tak kusangka Riri bisa mencintai pria selemah ini, bahkan pukulanmu seperti wanita." Katanya sambil tertawa.


Dia terus memukuliku hingga akhirnya ada seseorang yang menarik rambutnya dan membuatnya terjatuh.


"Kamu nggak apa-apa bos." Tanya orang itu.


Syukurlah Bams dan Pay datang di saat yang tepat hingga kini keadaan berbalik menjadi 3 lawan 1.


Riri yang terbangun karena mendengar suara berisik di dekatnya pun terkejut ketika melihat Rezky ada di sana.


"Pembunuh, bagaimana kamu bisa berada di sini." Kata Riri histeris dan pingsan kembali.


Mendengar kegaduhan di dalam ruangan itu sontak membuat orang-orang di sekitar berkumpul, mereka melihat kami dari luar ruangan hingga akhirnya Pak Dokter yang tak mengetahui apa yang terjadi masuk ke ruangan itu.


"Ada apa ini?" Tanya Pak Dokter.


Melihat Pak Dokter masuk Rezky tak membuang kesempatan dan menodongkan pisau bedah yang dia bawa di sakunya.


Dia menyandera Pak Dokter sambil mundur perlahan dan mencoba untuk kabur.


"Jangan ada yang maju jika tak ingin Dokter ini mati." Kata Rezky.


Kami semua tak berani mendekatinya karena khawatir dengan keselamatan Pak Dokter, Rezky terus mundur hingga kini dia telah berada di depan pintu.


"Dasar orang-orang lemah, beraninya keroyokan lihat saja aku akan membunuhmu nanti." Kata Rezky yang bersiap untuk kabur dan menusuk Pak Dokter.


Tanpa di sadari Rezky ternyata Kak Sinta datang ke tempat itu dan telah berdiri di belakangnya, dia memukul kepala Rezky menggunakan tas tangan yang dibawanya, hal itu membuat Rezky terkejut dan menjatuhkan pisau bedah yang hampir saja menusuk Pak Dokter.


Rezky masih sempat melarikan diri dengan kami bertiga yang mengejarnya, Pay sempat menendangnya hingga terjatuh tapi dia bangkit lagi dan meneruskan pelariannya.


Hingga tiba di sebuah jalan besar Rezky menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah kami yang tertinggal beberapa langkah darinya, dia melambaikan tangannya seraya berkata.


"Adios orang-orang bodoh, aku akan kembali untuk membunuh kalian semua." Kata Rezky sambil menyebrang dan menyeringai.


Tapi karena dia tak melihat sekitar ternyata ada sebuah mobil truk yang melaju kencang ke arahnya, Rezky tertabrak, tubuhnya terpental karena hantaman yang begitu keras, kami berlari menghampirinya, hari itu Rezky tewas di tempat kejadian, sebuah balasan setimpal dengan kejahatan yang dilakukannya selama ini, pikirku sambil meninggalkan tubuhnya tergeletak di jalan raya itu.

__ADS_1


__ADS_2