
Tak lama polisi datang dan membawa jenazah Rezky untuk di autopsi, sedangkan Bams ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dengan di temani Pak Iwan.
Aku dan Pay kembali ke ruangan tempat Riri di rawat, di luar ruangan itu kulihat Kak Sinta yang tengah berbincang dengan Pak Dokter.
Aku menghampiri tubuh Riri yang masih terbaring di sana, aku mencoba membangunkannya tapi dia masih tak bergerak.
"Luka dalem kali Dit." Kata Pay.
"Nggak tau gw Pay, gw kan bukan Dokter." Jawabku.
"Wah gawat Dit, gimana kalau sampe Riri nggak ada umur." Kata Pay lagi.
"Sembarangan lu kalo ngomong, tampol nih." Kataku.
Walau begitu aku terpikir dengan kata-kata Pay, bagaimana jika Riri memang mengalami luka dalam, aku tak mau kehilangan orang yang kucintai lagi.
"Ri bangun Ri...Adit nggak mau kehilangan kamu lagi, Adit cinta sama Riri, cuma Riri yang ada di hati Adit...Selamanya, Adit nggak bisa hidup tanpa Riri, Adit nggak bisa Ri....Sebenarnya Adit sudah memaafkan Riri sejak lama." Kataku bersedih di hadapan Riri.
"Sungguh?" Kata Riri dengan mata yang masih terpejam.
"Riri...jadi kamu daritadi sudah sadar?" Kataku.
Pak Dokter dan Kak Sinta yang sedari tadi berbincang di luar pun akhirnya masuk sambil menertawaiku.
"Adik bodoh..Riri sudah sadar sejak kamu ngejar orang tadi." Kata Kak Sinta.
"Jadi kamu dengar semua kata-kataku tadi." Kataku dengan wajah memerah.
Riri bangun dari tempat tidur dan kemudian memelukku.
"Riri juga sayang bangeeeet sama Adit, Riri selama ini masih jaga hati Adit kok, Riri selalu percaya bahwa Adit juga akan jaga hati untuk Riri." Kata Riri yang memelukku.
Aku pun melepaskan pelukan Riri.
"Oh jadi kamu selalu percaya sama aku, tapi kenapa ya tadi di cafe aku di tampar setelah kamu lihat Kak Sinta keluar." Kataku sambil memegangi pipiku.
"Hehe maaf, Riri cemburu banget tadi, Riri kira gadis yang Adit gandeng di luar cafe tadi Kak Sinta, tapi semua sudah jelas sekarang karena Kak Sinta sudah menjelaskannya, emang sesakit itu ya Dit tamparanku." Kata Riri.
"Nggak kok nggak sakit cuma bunyi plak gitu." Kataku.
__ADS_1
Riri kemudian mencium pipiku yang tadi di tampar olehnya.
"Udah nggak sakit kan?" Tanya Riri.
"Wah tau gitu tadi kamu tampar aja berkali-kali biar dapat ciuman banyak." Kataku sambil tertawa.
"Ya udah sini." Kata Pay yang dari tadi hanya memperhatikan tingkah kami berdua membuat kami semua tertawa.
Akhirnya hari itu juga aku mengajak Riri pulang kerumah bersama Kak Sinta dan Pay, sesampainya di sana tampak Rai yang tengah duduk bersama Tiwi di teras rumah.
"De aku ada kejutan buat kalian." Kataku pada Rai dan Tiwi.
"Kejutan apa A?" Tanya Rai penasaran.
"Coba pejamkan mata kalian berdua." Kataku.
Rai dan Tiwi pun memejamkan kedua matanya lalu aku memanggil Riri yang sedari tadi bersembunyi di depan rumah.
"Nah sekarang buka mata kalian."
Rai dan Tiwi membuka mata mereka dan terkejut melihat Riri yang telah berdiri di hadapannya.
"Kak Riri...kamu ada di sini?" Ucap Rai terlihat senang.
"Iya De, Kakak sedari 3 bulan lalu menghubungimu tapi ponsel kamu nggak aktif." Ujar Riri kepada Rai.
"Maaf Kak, aku menjual ponselku untuk tambahan biaya perawatan Tiwi." Kata Rai.
"Wah berarti Tiwi sekarang sudah sembuh ya, Tiwi juga sudah bertambah tinggi ya." Kata Riri yang menciumi Tiwi dalam gendongannya.
"Iya Kak, Tiwi sudah sembuh dong." Jawab Tiwi.
"Oh jadi selama ini kamu selalu menghubungi Riri De?" Kataku pada Rai.
"Iya A, kan aku pernah bilang akan menyatukan satu pasangan lagi setelah A Iman dan Jessica, ya pasangan itu adalah kalian." Kata Rai tersenyum.
Malam itu aku dan Pay meminta izin pada Kak Sinta untuk tak bekerja karena kejadian yang kami alami, untunglah Kak Sinta mengerti dan dia kembali ke cafe untuk memberitahukan pada para pengunjung bahwa malam ini tak ada pertunjukan live musik.
"Halo, iya Bams, tadi aku sudah kirim lokasinya ke ponselmu." Kata Riri yang menerima telpon dari Bams.
__ADS_1
"Bams dan Pak Iwan masih di kantor polisi Ri?" Tanyaku yang malam itu duduk di teras bersama Riri.
"Iya baru selesai katanya, tapi mereka sedang menuju kemari kok." Kata Riri.
"Ri, aku minta maaf ya soal semuanya." Kataku.
"Adit nggak salah kok, ini semua pasti sudah digariskan Tuhan, oh iya Dit aku datang kesini bukan cuma untuk memperbaiki hubungan kita lho."
"Terus untuk apa lagi Ri?"
"Aku kesini untuk memberikan semua harta warisan Papa sama kamu." Kata Riri.
"Warisan? Maaf Ri aku merasa nggak berhak menerimanya." Jawabku.
"Adit...Kamu itu anak kandung Papa, aku yang merasa nggak berhak menerima semua itu karena ternyata aku ini hanya Anak angkat."
"Terlepas kandung atau angkat kamu itu seumur hidup sudah bersama Papa, Papa juga sayang sama kamu dan selalu menganggapmu anak semata wayangnya, aku ini adalah anak sulung dari Pak Sigit dan Bu Yanti, walau kenyataannya aku anak kandung dari Papamu, jadi kamu simpan saja semua harta Papa untukmu, toh itu semua akan menjadi milik kita bersama jika menikah nanti." Jawabku detail.
"Nikah? kamu ajak aku Nikah? emang kita udah resmi balikan, perasaan aku belum denger kamu nembak aku." Kata Riri.
"Dor...Tuh udah, sakit nggak?"
"Iiih aku kira beberapa bulan pisah sifat konyolnya ilang tapi ternyata nggak." Kata Riri memandang wajahku.
Aku mengusap Pipinya, dan Riri memejamkan matanya, wajah kami berdekatan hingga bibir kami hampir bertemu, tapi lagi-lagi Pay keluar menggagalkan ciuman itu.
"Nah emang udah gw tungguin daritadi, gw masih dendam karena lu pernah gagalin ciuman pertama gw sama Neng Rai hahahaha." Kata Pay yang meloncat dari dalam rumah dan berdiri di hadapan kami
"Oh jadi daritadi nongkrong di situ sengaja mau ganggu ciuman A Adit toh." Kata Rai yang keluar rumah dan menjewer Pay lalu membawanya kembali ke dalam rumah.
Aku dan Riri tertawa karena melihat tingkah mereka, hingga tak lama tampak mobil terparkir di halaman rumah, ternyata itu adalah Bams dan Pak Iwan yang baru saja pulang dari kantor polisi.
"Bos, Pak Iwan kacau nih, tadi kan aku kasih alamat yang bos kirim ke Pak Iwan, masa dia malah bawa aku ke kuburan sana." Kata Bams kesal.
"Maaf Non, saya ngantuk jadi salah baca maps nya." Kata Pak Iwan.
"Udah Bams jangan marah, kasian tuh Pak Iwan kelelahan, seharian dia kan nemenin kamu di kantor polisi." Jawab Riri.
"Oh iya Pak Iwan, tadi kita belum sempat ngobrol, kabar Bi Eha bagaimana, beliau sehat?" Tanyaku.
__ADS_1
"Sehat Nak, tadi Bapak sudah menghubunginya, dia titip salam untuk Nak Adit dan keluarga." Jawab Pak Iwan.
Akhirnya malam itu berakhir dengan kami semua yang berkumpul kembali di rumah Kak Sinta.