Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Candle light dinner


__ADS_3

Esok paginya Riri sudah berada di rumahku lagi untuk menjemput Rai dan mengajaknya keliling kota Jakarta seperti janji yang dia katakan sebelumnya.


Sedang aku menunggu Bams karena hendak berangkat ke kantor bersama.


"Si Bams mana ya, tumben jam segini belum dateng?" Tanyaku pada Pay.


"Minyak rambutnya habis kali Dit, makanya dia telat." Jawab Pay sambil tertawa.


Tak berapa lama Bams datang dengan tergesa-gesa.


"Maaf bos telat." Katanya dengan terengah-engah.


"Tumben Bams, biasanya kamu datang paling pertama." Tanyaku.


"Anu bos, tadi Adiknya Ibu Panti dan temannya datang lagi." Kata Bams lagi.


"Lalu gimana Bams? Aku merasa ke dua orang itu mencurigakan."


"Aku juga merasa seperti itu bos, makanya sebelum berangkat tadi aku menguping pembicaraan mereka."


"Oh, jadi karena itu kamu telat? Lalu apa yang kamu dengar?"


"Aku nggak terlalu dengar jelas obrolan mereka bos, tapi yang aku dengar mereka membahas mengenai surat tanah."


Setelah mendengar perkataan Bams tak lama kami berangkat ke kantor, sedangkan Riri pergi dengan Rai dan Tiwi untuk berkeliling kota Jakarta.


Pada jam makan siang kami bertiga makan bersama lagi, aku pun melanjutkan pembahasan tadi pagi dengan Bams dan Pay.


"Semalam aku lihat wajah Ibu murung sekali Bams, kamu nggak coba tanya ada apa." Kataku.


"Iya bos, aku juga menyadarinya. Sepulang dari rumah bos semalam aku sudah bertanya pada Ibu, tapi Beliau bilang tidak ada apa-apa sambil tersenyum." Jawab Bams.


"Aku curiga Bams, sepertinya Ibu Panti menyembunyikan sesuatu."


Sore harinya kami bertiga tiba di rumahku selepas bekerja, tampak Riri dan Rai sudah berada di sana.


"Baru pulang Dit." Tanya Riri.


"Iya nih, kalian gimana tadi jalan-jalannya, menyenangkan?"


"Seru A, tadi Rai diajak Kak Riri ke Monas, Dufan dan Kebun Binatang Ragunan." Ucap Rai.


"Ngapain ke Ragunan? nyamain muka ya hahaha. Eh ngomong-ngomong Tiwi mana?"


"Jahat banget sih kamu. Tiwi lagi tidur, sepertinya dia kelelahan." Jawab Riri.


Tak lama Bams pamit undur diri untuk pulang, tak seperti biasanya hari ini dia terburu untuk pulang. Aku mengerti, pasti karena perasaannya sedang tidak enak.

__ADS_1


"Dit malam ini kita makan di luar yuk." Ajak Riri.


"Nggak ah, banyak nyamuk."


"Lho, di restoran mana yang banyak nyamuknya sayangku."


"Tadi katanya makan di luar, emang nggak bisa di dalem?"


"Bomat deh...Garing." Ucap Riri kesal.


"Jangan ketawa gitu ah, seneng banget keliatannya."


"Adit aku serius, mau nggak? Nyebelin banget sih."


"Iya mau, kamu mau ikut De?" Tanyaku pada Rai.


"Nggak deh A aku cape banget, bungkusin aja ya." Ucap Rai.


"Ya udah kalau begitu kamu di rumah aja ya jagain Tiwi." Kataku lagi.


Malam harinya aku bersama Riri menuju ke restoran yang berada di dalam salah satu Pusat Perbelanjaan terbesar di Jakarta.


Setibanya kami di restoran itu kami pun menuju rooftop gedung tersebut karena memang sebelumnya Riri sudah memesan tempat untuk kami.


"Wah keren ya Ri makan malam di atas gedung gini, jadi tambah romantis." Ucapku.


"Iya dong, siapa dulu yang pesen...Riri."


"Dit kita pesen steak aja ya, untuk minumnya kamu mau pesen apa?" Kata Riri sambil menyodorkan buku menu.


"Teh manis anget."


"Ya ampun, lupa aku nanya kamu mau minum apa, pasti jawabannya teh manis anget."


"Nggak pake es." Kataku lagi.


Riri pun lalu memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan.


"Mbak aku mau pesen 2 steak medium rare ya, minumnya 1 es lemon tea 1 lagi teh manis hangat nggak pake es." Kata Riri.


"Lho mbak teh manis hangat kan memang nggak pake es." Kata pelayan itu.


Aku menahan tawaku karenanya, sedang Riri menatapku sambil mengerutkan dahinya.


"Makanya Mbak kalo denger orang ngomong itu fokus, mana ada teh manis hangat pake es, kalau pake es namanya jadi teh manis hangatsss hahahahaha." Kataku menggodanya.


"Udah deh jangan dibahas, nggak lucu!!!"

__ADS_1


Kami pun melanjutkan makan malam romantis, dengan lilin yang berada di tengah meja. Riri berkata makan malam menggunakan lilin dinamakan dengan candle light dinner.


Selesai makan Riri menawarkan untuk memesan makanan penutup untuk kami, tapi kutolak karena perutku sudah terasa kenyang.


Kami pun melanjutkan malam itu dengan berjalan-jalan mengitari Pusat Perbelanjaan, sesampainya di depan bioskop Riri menghentikan langkahnya.


"Dit nonton yuk, lihat nih ada film seru." Katanya sambil menunjuk poster film.


"Kisah cinta pria miskin dan gadis kaya." Kataku membaca judul film dalam poster tersebut.


"Iya, aku udah nonton trailer nya, seru lho." Ucap Riri.


"Wah mirip seperti kisah kita ya Ri." Kataku lagi.


Akhirnya kami memutuskan untuk menonton film sebelum pulang, selesai menonton kami beranjak dari Pusat Perbelanjaan itu menuju rumah.


"Dit sesampainya di rumah kamu aku langsung pulang ya, tadi Papa ngabarin aku katanya dia sudah di rumah." Ucap Riri.


"Lho memangnya Papa kamu nggak ngabarin sebelumnya, kok kamu malah ngajak aku jalan."


"Iya, kata Papa bisnisnya di tunda soalnya rekan bisnisnya nggak datang karena sakit, jadi Papa pulang dan lupa ngabarin aku."


"Oh ok deh kalau begitu Ri, sampaikan salamku sama Papamu ya."


"Eh ngomong-ngomong film tadi bagus ya Dit, happy ending. Akhirnya pasangan itu bisa bersatu walau sempet terpisah." Ucap Riri membahas film tadi dalam perjalanan pulang.


"Bagus apanya, aku nggak fokus nonton gara-gara ada cewek nangis terus di samping aku." Kataku.


"Iya maaf, habisnya filmnya sedih banget sih hehe."


Dalam perjalanan pulang tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselku yang ternyata dari Rai.


"A gawat." Kata Rai.


"Gawat kenapa Dek?"


"Panti Asuhan."


"Kenapa Panti Asuhan?"


"Tadi salah satu anak panti ke sini minta pertolongan, katanya sekarang terjadi keributan di panti, Bang Bams lagi berkelahi katanya."


"Pay mana?"


"Setelah dapat kabar itu Bang Pay segera lari ke panti asuhan."


Aku pun menutup telpon dari Rai dan dengan segera langsung menuju ke arah panti, ku tancap gas mobilku, aku tak sabar untuk segera sampai ke sana karena khawatir dengan keselamatan para penghuni panti asuhan tersebut.

__ADS_1


Benar saja, sesampainya di sana kulihat telah berkumpul banyak orang dan juga ada sebuah alat berat di depan panti itu, tapi yang membuatku terkejut karena ada seseorang yang sedang berdiri di depan mobil besar itu.


Dia merentangkan kedua tangannya berusaha mencegah laju dari mobil tersebut, ketika kuperjelas pandanganku ternyata orang itu adalah Bams.


__ADS_2