
Aku menuju kesana dengan menggunakan mobil Jessica atas ijin dari Mamahnya, sedangkan Beliau sendiri tidak ikut karena menjaga Jessica di rumah, takut bila anak semata wayangnya itu berbuat yang tidak diinginkan, karena sepertinya dia sangat terpukul dengan kejadian ini.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ponselku berbunyi dan ternyata Iman yang menghubungi, dia berkata bahwa dia telah menangkap Doni dan membawanya ke sebuah pabrik kertas kosong yang sudah tak terpakai dan memberikan alamatnya padaku, aku lalu menghubungi polisi kembali untuk memberitahukan bahwa lokasi si penipu telah berpindah.
Sesampainya di alamat yang Iman kirimkan tampak terparkir mobil dari Mamah Jessica dan beberapa unit sepeda motor, aku berlari kedalam mencari keberadaan mereka.
Akhirnya kutemukan mereka semua di dalam pabrik itu, terlihat Iman tengah berdiri bersama beberapa pemuda mengelilingi seseorang yang sudah terkapar berlumuran darah, setelah kudekati ternyata orang yang bersimbah darah itu adalah Doni.
"Iman, hentikan, kamu bisa membunuhnya." Kataku.
"Aku memang mau membunuh orang ini A, karena dia masa depan gadis yang kucintai hancur." Kata Iman sambil menendang tubuh Doni yang terjatuh.
Melihatku datang Doni mencoba bangkit dan merangkak ke arahku, dia memegang kakiku dan meminta maaf atas semua perbuatannya.
"Ma..Maafkan aku Dit, aku khilaf." Kata Doni.
"Kamu beruntung, jika saja kamu belum babak belur seperti ini pastilah aku yang akan memberikan pelajaran buatmu." Jawabku.
Iman yang masih sangat emosi menarik kaki si penipu itu dan menyeretnya ke sebuah mesin pemotong di pabrik kertas itu, dia menahan kepala si penipu dan bermaksud memotongnya, melihat itu aku berlari mencoba menghentikannya, teman-teman Iman pun membantuku menahannya, karena pasti mereka tak mau terseret dalam sebuah kasus pembunuhan.
"Man, kamu gila." Kataku sambil memeganginya.
"Iya A, aku memang sudah gila dan itu karen perbuatan orang ini pada gadis yang kucinta." Jawabnya.
"Hentikan Man, kamu bisa melibatkan kami juga." Kata teman-teman Iman.
__ADS_1
Akhirnya Iman menyerah karena tubuhnya kami pegangi, tak kusangka ternyata Doni masih sanggup berdiri, dia memukul kepala Iman dari belakang dengan sebuah besi yang tergeletak di dekat mesin pemotong kertas itu, hingga Iman jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.
Setelah itu dia mencoba kabur dengan kami yang mengejarnya dari belakang, hampir saja dia lolos jika tak ada para polisi yang datang tepat waktu, polisi terpaksa melepaskan timah panas ke arah kaki Doni karena mencoba kabur hingga dia terjatuh dan lalu ditangkap.
Aku pun segera menghampiri Iman yang tak sadarkan diri, karena melihat darah yang mengalir dari kepalanya aku lalu menelpon ambulance juga mengabari keluarganya.
Setelahnya aku ikut ke kantor polisi dan Iman diantar oleh teman-temannya ke Rumah Sakit, aku menjadi saksi untuk memenjarakan Doni di kantor polisi, aku meminta bantuan Pay agar dia datang dan membeberkan bukti yang telah diberikan Ibu Panti sebelumnya.
Akhirnya Doni ditahan sementara di kantor polisi itu hingga menunggu persidangan, tapi sebelumnya dia di bawa ke Rumah Sakit untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang di kakinya, mobil Mamah Jessica pun ikut diamankan sementara sebagai bukti.
Malam hari itu aku dan Pay baru selesai setelah di interogasi oleh tim penyidik di kantor polisi, kami sangat kelelahan, tapi sebelum pulang kami berencana menjenguk Iman dahulu di Rumah Sakit.
Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit tiba-tiba terdengar suara dering berbunyi dari ponsel Rai, kulihat nama seorang pria tertulis di sana, Rahmat namanya, tetapi nomor ponsel orang itu tak asing bagiku, kuingat lagi dan ternyata nomornya mirip seperti nomor ponsel Riri, aku mengingat empat nomor terakhirnya dan sama persis dengan nomor si penelpon, kupikir mungkin hanya kebetulan saja empat nomor belakangnya sama, kuangkat telponnya tapi setelah aku mengucapkan kata halo si penelpon mematikan ponselnya.
Mungkin saja itu nomor teman Rai yang kaget karena suara pria yang mengangkat telpon milik Rai lalu mematikannya, aku tak ambil pusing mengenai hal itu karena kami harus bergegas menuju Rumah Sakit dan melihat keadaan Iman.
"Gimana keadaan Iman Bi." Tanyaku pada Bibi.
"Masih belum sadar Dit, kata Dokter dia mengalami gegar otak ringan karena hantaman benda tumpul di kepalanya." Jawab Bibi.
"Nggak usah khawatir Dit, Dokter bilang dia tidak apa-apa kok." Sambung Paman.
"Oh syukurlah kalau begitu Paman, aku sangat khawatir karena tadi Iman terjatuh dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya."
Kemudian aku mengabari Jessica melalui pesan dari ponsel Rai, aku memberitahu kalau mobilnya akan kukembalikan besok dan juga memberi tahu tentang keadaan Iman sekarang karena telah membelanya mati-matian menangkap si penipu, tapi Jessica tak membalas pesan itu, mungkin dia masih terpukul dengan kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Karena sudah semakin malam kami sekeluarga akhirnya berpamitan pada orangtua Iman untuk pulang.
Keesokan paginya aku terbangun karena dikejutkan oleh Rai yang membangunkanku.
"A gawat." Kata Rai.
"Kenapa De?"
"Mamah Jessica mengabari aku katanya tadi Jessica mencoba bunuh diri di dalam kamarnya."
Aku sangat terkejut mendengarnya dan tanpa pikir panjang aku bergegas menuju rumah Jessica dengan ditemani Rai dan Pay, sesampainya di sana kulihat Jessica yang sedang menangis dalam pelukan Mamanya dengan pisau yang tergeletak tak jauh dari mereka berdua.
Melihat kedatangan kami Jessica bangkit dan berlari kearahku lalu kemudian dia memelukku sambil menangis.
"Jess jangan melakukan hal bodoh seperti ini, kenapa kamu mencoba mengakhiri hidupmu." Kataku.
"Aku malu A, aku malu, bagaimana aku bisa hidup dengan anak tanpa ayah ini, aku tak mau membuat Mamahku malu."
"Lalu kamu pikir jika anak semata wayangnya melakukan bunuh diri Mamahmu bisa bahagia." Jawabku.
"Aku harus bagaimana A, aku bingung, aku nggak mau hidup dengan omongan orang yang akan merendahkan keluarga kami, aku aib A, aku kotor." Katanya.
Aku terdiam, aku pun tak tahu harus bagaimana, aku merasa sangat kasihan dengan nasib buruk yang menimpanya, Jessica hanya gadis polos yang memikul beban berat di pundaknya.
"Teruslah hidup.....Aku akan menjadi ayah dari anak itu....Aku yang akan bertanggung jawab." Ucapku membuat semua orang yang ada di sana terdiam termasuk Jessica.
__ADS_1
Setelah itu kami pamit dan sesampainya di rumah aku mengabari hal ini pada Ibu, awalnya Beliau terkejut dan bertanya apakah aku yakin dengan keputusanku, tapi akhirnya dia mengerti dan mengatakan bahwa dia bangga padaku karena rela berkorban untuk wanita yang sama sekali tidak aku cintai.