
Pada keesokan harinya karena gitarku yang rusak membuat aku tidak pergi untuk mengamen. Seperti biasanya pagi itu Riri sudah berada dikontrakanku untuk sarapan bersama.
"Nanti siang ke Kampus ya."
"Males ah aku kan nggak ngamen, hari ini aku mau cari orang yang bisa betulin gitar aku."
"Gitar nanti aku ganti yang baru deh."
"Nggak usah ini masih bisa dibetulin kok."
"Ya udah besok kan aku libur besok aja ya betulin gitar kamu, aku temenin."
"Nah itu baru aku mau, emangnya ada apa sih siang ini kamu nyuruh aku ke kampus?"
"Nggak ada apa-apa cuma mau makan siang bareng aja ditempatnya Bi Eha, ya udah ya waktunya Riri cantik ini pergi kuliah."
Riri pun pergi bersama Pak Iwan.
Pada siang harinya aku menunggu Riri di warung Bi Eha dan kulihat sudah ada pak Iwan di sana, 30 menit telah berlalu semenjak aku datang kesini, tapi Riri belum juga muncul.
"Kemana perginya sih anak ini, jam istirahat kan udah mau selesai."
Tak lama kemudian datanglah Reni dengan berlari tergesa-gesa.
"Adiiiit... Adiiiit cepet tolongin Riri."
"Riri kenapa Ren?"
"Riri dipaksa Roy buat ikut dia sama temen-temennya sebelum jam istirahat tadi."
"Hah, kemana Ren?"
"Ke gedung kontruksi kosong di dekat perempatan itu Dit, aku baru saja mengikuti Roy dan teman-temannya kesana."
"Ok Ren makasih, aku segera kesana, kamu tolong telpon polisi ya Ren."
"Saya ikut Nak Adit." Pak Iwan kemudian mengambil mobil dan kami pun bergegas menuju kesana.
Dalam perjalanan lalu aku menelpon Udin untuk meminta bantuan dan memberitahukan lokasi dimana Riri dibawa oleh Roy.
"Kita sudah sampai pak Iwan."
kami pun masuk dan mencari keberadaan Riri, dan sesampainya di lantai 3 akhirnya disana kulihat Roy yang lagi-lagi bersimpuh dihadapan Riri dan menyatakan cintanya.
Sedangkan teman-teman Roy yang lain sedang duduk di dekat situ sambil menenggak minuman keras.
__ADS_1
"Semuanya ada 7 orang Pak."
"Bagaimana Nak Adit, kita maju sekarang?"
"Jangan Pak saat ini kondisi masih kondusif, kita tunggu bala bantuan datang saja."
Tak lama kemudian kulihat Roy memaksa Riri untuk menciumnya, Riri pun menampar Roy dan itu malah menjadikannya semakin beringas, dia terus saja memaksa Riri, melihat itu tanpa sadar aku pun berdiri dan berteriak pada Roy.
"Lepasin dia Roy."
"Wih, lihat temen-temen siapa yang datang, Jagoan kita. Ayo semuanya beri tepuk tangan."
"Berhenti Roy perbuatanmu ini udah melanggar hukum."
"Banyak bacot lu, ayo teman-teman hajar."
Akhirnya ke 3 teman Roy mengelilingiku, sedangkan 3 lainnya mengelilingi pak Iwan yang sudah memegang balok kayu yang dia temukan di dekat situ.
Kemudian aku pun bertarung dengan 3 orang tersebut, aku kewalahan namun masih bisa mengimbanginya hingga salah satu dari mereka dapat menjatuhkanku, lalu aku pun dikeroyok ketiganya.
Sedangkan Pak Iwan dan balok kayunya bisa menjatuhkan salah seorang dari mereka, tapi karena sudah tua dan di keroyok akhirnya kepala pak Iwan terkena pukulan botol minuman keras salah satu dari mereka.
Riri berteriak histeris melihat kami dikeroyok oleh 6 orang tersebut, hingga pada akhirnya.
Tanpa banyak bicara Udin dan teman-temannya langsung menghajar semua teman-teman Roy hingga sekarang keadaan menjadi berbalik.
Melihat itu aku bangkit berlari menghampiri Roy yang sedang memegangi Riri, tanpa berkata-kata lalu aku pun bergelut 1 lawan 1 dengannya.
Lalu karena merasa kewalahan teman-teman Roy berlari pergi meninggalkannya dengan teman-teman Udin yang terus mengejar mereka.
Sementara itu aku masih melawan Roy sedang Udin melihat keadaan Pak Iwan.
Akhirnya aku bisa menjatuhkan Roy dan membuatnya memohon padaku untuk menghentikan pukulanku yang bertubi-tubi mendarat di wajah nya saat dia terjatuh, tapi aku tak menghentikan pukulanku.
Emosi ini memang sudah tak terbendung melihat dia menyentuh kekasihku, akhirnya aku bisa berhenti menghajarnya setelah Riri memelukku sambil menangis.
"Cukup Dit..Cukup, dia memang jahat dan pantas di hukum, tapi aku nggak mau kamu yang dihukum kalau dia sampai kehilangan nyawanya di tanganmu." Ujar Riri sambil menangis.
Aku terdiam dan menghela nafas panjang, kemudian aku memeluk Riri dan berkata maaf.
Dan yang tak kusadari adalah ternyata Roy bangkit dan mencabut pisau dari pinggangnya dan menghunuskannya ke arahku, sebelum pisaunya mengenai tubuhku tiba-tiba Udin mendorong Aku dan Riri yang saat itu sedang berpelukan.
Akhirnya aku dan Riri bisa terhindar dari tusukan pisaunya, tapi sayangnya Udin tertusuk di bagian perut karena mendorong kami.
Melihat itu Roy panik dan hendak melarikan diri hingga akhirnya terdengar suara tembakan.
__ADS_1
Ternyata Reni datang dengan membawa para Polisi yang membawa semua teman-teman Roy yang kabur tadi.
Akhirnya aku pun menelpon ambulance agar bisa cepat membawa Udin ke Rumah Sakit, setelah ambulance datang lalu aku ikut untuk menemani Udin sedangkan Riri ikut ke kantor polisi ditemani Reni untuk menjadi saksi, sementara Pak Iwan karena luka di kepalanya tidak terlalu parah akhirnya di jemput Bi Eha untuk dibawa ke klinik terdekat.
Di sepanjang jalan menuju rumah sakit aku terus menggenggam tangan Udin.
"Din tahan Din lu pasti kuat."
"Dit...Kalau gw pergi lu gak apa-apa kan sendirian, selama ini kan lu gak bisa apa-apa tanpa gw hehehe."
"Lu ngomong apaan sih Din, lu pasti kuat...Lu pasti kuat Din."
"Kalo gw pergi gw titip barang yang udah gw beli buat Ibu gw ya, barangnya ada di laci lemari kamar gw."
"Nggak Din lu pasti bisa ngasih barang itu sendiri, udah ya lu jangan ngomong yang macem-macem, lu pasti sembuh."
Akhirnya Ambulance tiba dirumah Sakit dan Udin pun langsung dilarikan ke UGD. Sementara aku menunggu dengan cemas di depan pintu UGD itu.
Setelah beberapa lama dokter yang menangani Udin keluar dari Ruangan tersebut.
"Gimana Dok, temen saya nggak apa-apa kan?"
"Maaf Mas karena Lukanya terlalu dalam teman mas tidak bisa tertolong lagi, kami sudah berusaha semampunya, mohon mas segera mengabari keluarganya."
"Dokter bercanda kan Dok...Dokter bercanda kan."
Dokter itu menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkanku.
Dengan Rasa yang masih tidak percaya aku masuk ke ruangan tempat Dokter itu menangani Udin.
Setelah melihat nya mendadak saja kaki ku lemas, Udin Sahabatku telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
Bagai tersambar petir di siang hari rasanya, mendadak dada ini terasa amat sangat sesak, aku pun menangis sejadi-jadinya di depan jenazah sahabatku itu.
Ponselku kemudian berbunyi dan itu dari Riri.
"Dit gimana keadaan Bang Udin?"
Aku hanya terdiam sambil sesekali terisak.
"Dit bang Udin gimana? Baik-baik aja kan?"
"Ri.....Udin sudah nggak ada."
Dan tangis Riri pun pecah, itu sangat jelas terdengar di telingaku.
__ADS_1