Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Keributan


__ADS_3

Malam itu kami berencana mengajak ibu panti beserta anak-anak untuk makan bersama di rumahku karena memang sebelumnya aku telah meminta mbok Yem untuk mempersiapkan semuanya.


"Nak Adit dan semuanya ibu mengucapkan banyak-banyak terimakasih ya karena kalian sudah begitu baik kepada kami." Ucap ibu panti.


"Oh iya bu, kami dengan senang hati kok melakukannya. Apalagi melihat adik-adik yang tertawa riang hari ini, rasanya itu menjadi kebahagiaan tersendiri buat kami." Jawabku.


"Sayang, sepertinya sekarang sudah waktunya kita mengajak mereka ke rumah untuk makan bersama. Pasti mbok Yem sudah selesai menyiapkan semuanya." Ujar Riri padaku.


"Mari bu kita kerumahku untuk makan bersama." Kataku kepada ibu panti.


Kami pun menuju rumahku, Para wanita termasuk Tiwi, Ibu panti dan beberapa anak perempuan pergi menggunakan mobil, sedang para pria dan anak laki-laki berjalan kaki karena memang jaraknya tak terlalu jauh.


Kami berjalan menyusuri jalanan kampung menuju gerbang perumahaan, di pertengahan jalan tampak beberapa pemuda sedang duduk di pos ronda yang berada di sana.


"Heh orang kaya ngapain lu masuk-masuk kampung kita." Kata salah seorang pemuda itu.


"Kalo mau lewat sini bayar." Kata yang lainnya.


Kami tak menghiraukan kata-kata mereka dan terus berjalan hingga membuat para pemuda itu bangkit dari tempat duduknya dan menghalangi jalan kami.


"Budek lu ye, gw bilang kalo mau lewat sini bayar." Katanya dengan nada tinggi.


"Sorry mas ini kan memang jalan umum, kenapa kami harus bayar." Ucapku.


"Banyak bacot lu, kalo gw bilang bayar ya bayar. Mana dompet lu." Katanya sambil mendorongku.


Melihat aku di dorong oleh pemuda itu Pay yang sedari tadi menahan emosinya langsung mendaratkan pukulannya ke wajah pemuda tersebut hingga membuatnya terjatuh.


"Anj*** lu berani-beraninya mukul temen kita." Kata mereka semua.


Para pemuda itu mengambil senjata tajam yang sepertinya memang sudah di persiapkan di bawah pos ronda tersebut.


"Anak-anak kalian cari tempat sembunyi dulu karena sepertinya kakak akan sedikit sibuk." Ucap Bams.


"Hahaha para pengecut ini beraninya pakai senjata." Kata Pay tertawa tanpa terlihat ketakutan di wajahnya.


"Wah Dit bagaimana ini sepertinya kita kalah jumlah, lagipula mereka pakai senjata." Ucap Wahyu.


"Tenang Yu, kita sudah nggak bisa kemana-mana lagi, jika kita lari pasti akan membahayakan nyawa anak-anak." Jawabku.

__ADS_1


Mereka mendekati kami, ada 10 orang di pihak mereka sedangkan kami hanya berempat, kami sudah tidak bisa mengelak dari situasi ini.


Salah satu dari mereka mencoba memulai perkelahian dengan mengayunkan sebuah besi panjang kearah Pay yang memang berdiri paling depan.


Pay bisa menghindarinya lalu merebut besi panjang milik pemuda itu, kemudian dia memukulkannya ke kepala pemuda tersebut hingga terlihat darah segar mengalir dari kepalanya.


Melihat itu temannya yang lain mencoba menyerang kami dengan cara bersamaan, kami bersiap di posisi kami hingga tiba-tiba.


"Hei siapa kalian bikin ribut disini." Kata seorang bapak.


Ternyata dari kejauhan terlihat ada sekumpulan warga yang datang, ketika melihat mereka ke sepuluh pemuda itupun lari tunggang langgang meninggalkan kami.


Kemudian para warga itu menghampiri rombongan kami.


"Adek siapa? kenapa bikin ribut disini." Kata bapak itu lagi.


Aku pun menceritakan kronologis semua kejadian pada bapak tersebut.


"Oh ade ini dari panti asuhan bu Dar rupanya, saya adalah kepala Rt disini, kebetulan kami baru selesai mengadakan acara lomba kemerdekaan di lapangan kampung sebelah sana." Ucap bapak itu.


"Iya pak para pemuda tadi mengaku anak kampung ini lalu membuat keributan kepada kami." Jawabku.


"Oh seperti itu pak, kalau begitu kami mohon pamit dan terimakasih atas bantuannya tadi."


Kami melanjutkan perjalanan kami setelah berterima kasih pada para warga kampung itu. Sesampainya dirumah Riri dan yang lain sudah menunggu kami semua.


"Lama banget sih sayang jalan nya? padahal kan nggak jauh lho jaraknya." Ucap Riri.


"Macet bos Riri." Ucap Bams menjawab pertanyaan Riri.


"Macet? kalian kan jalan kaki." Ucap Reni.


Bams hanya tersenyum mendengar perkataan Reni itu.


"Bams dasar kamu ini ada-ada saja." Sambung Riri.


Aku tahu mengapa Bams berbohong seperti itu, tentunya ia tak mau membuat mereka semua khawatir terutama ibu panti karena kejadian tadi hampir melibatkan anak-anak asuhnya.


Acara makan malam pun dimulai, ibu panti memimpin doa seraya mengucap syukur untuk hari ini, anak-anak dengan lahap menyantap hidangan yang disediakan, mereka tertawa gembira, hingga ku alihkan pandanganku kepada ibu panti yang terlihat sedih.

__ADS_1


Tampak seperti dia sedang memikirkan sesuatu. Ternyata bukan hanya aku saja yang menyadari kesedihan ibu, Bams pun sama sepertiku, dia terus saja memandangi wajah ibu panti yang terlihat murung.


Setelah selesai acara ibu panti beserta anak-anaknya pamit untuk pulang, aku menawarkan untuk mengantar mereka semua dengan menggunakan mobil, awalnya ibu menolak tapi karena aku terus memaksanya akhirnya ibu menerima tawaranku.


Bukan tanpa alasan aku mengantarkan mereka semua, itu semua karena aku takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi dalam perjalanan pulang mereka.


Aku sedikit curiga bahwa para pemuda yang membuat keributan pada kami sebelumnya dilakukan atas perintah seseorang untuk mengancam para penghuni panti asuhan tersebut.


Malam itu semua orang sudah pamit untuk pulang kecuali Riri, para penghuni rumah pun sudah terbuai dalam mimpinya masing-masing karena kelelahan seharian ini.


"Kamu nggak pulang?" Tanyaku pada Riri sambil kami menonton televisi di ruang tengah rumah.


"Ngusir?" Kata Riri.


"Nggak." Kataku sambil menganggukan kepala.


"Tuh kan, bilang nggak tapi kepalanya ngangguk." Kata Riri sambil menarik hidungku.


"Bercanda sayang, mana mungkin aku sejahat itu sama kamu, lagian kan sekarang kita jarang punya waktu berdua seperti ini."


"Kangen ya mesra-mesraan berdua sama aku?" Tanya Riri.


"Iya." Kataku sambil menggelengkan kepala.


"Bodo ah..Bilang iya tapi geleng-geleng kepala." Kata Riri cemberut.


Akupun mengusap rambutnya hingga akhirnya kami bertatapan mata, Wajah Riri mendekat pada wajahku, semakin lama wajahnya semakin dekat hingga bibir kami hampir bertemu. Sedikit lagi bibir kami saling bersentuhan hingga...


"Ehem." Terdengar suara Pay yang melewati belakang sofa tempat kami duduk menuju dapur.


"Sorry nggak sengaja anggep aja iklan lewat." Lanjut Pay.


Kami hanya tertawa karena ucapan Pay dan melanjutkan menonton televisi.


"Oh iya Ri tadi ada sedikit keributan lho pas aku dan anak-anak menuju kesini." Aku pun menceritakan semua kejadian tadi pada Riri.


"Ih ngeri banget Dit, gimana tuh jadinya kalau nggak ada warga yang datang. Kalian berempat lawan sepuluh orang bersenjata, Riri nggak mau bayangin ah ngeri, tapi kira-kira siapa ya orang-orang itu."


Kemudian aku menceritakan apa yang kurasakan tentang ibu panti kepada Riri hingga akhirnya Riri pamit karena malam sudah semakin larut.

__ADS_1


__ADS_2