
Pagi itu aku terbangun karena di kejutkan oleh suara teriakan Riri yang tertidur di sebelahku, aku membuka mata sedangkan dia berteriak histeris sambil menatapku.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa....!!!"
"Kamu kenapa Ri?" Tanyaku panik.
"Kamu berani-beraninya tidur di sebelahku Dit, aku kira kamu lelaki yang baik." Katanya sambil menangis.
"Lho....Kemarin kan kita sudah nikah." Jawabku.
Riri terdiam sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya lalu menoleh ke arahku.
"Hehehe...Maaf Riri lupa." Katanya dengan wajah memerah.
"Yeeeee dodol, masa lupa, kan baru kemarin."
"Maklum sayang, aku kaget, belum terbiasa aja bangun tidur ada kamu di sebelahku."
"Hahahaha lucu kamu Ri, aku sampe kaget tadi, kirain ada apa."
"Maaf ya suamiku." Katanya mencium tanganku.
"Iya nggak apa-apa." Kataku seraya mencium keningnya.
"Eh kalau gitu aku bikin sarapan dulu ya, kamu mandi dulu sana, nanti kalau sudah selesai aku tunggu di meja makan." Kata Riri.
"Lho, kan ada Bibi, kenapa kamu yang harus masak."
"Iiih Adit, aku kan sekarang istri kamu, kewajiban aku nyiapin kamu sarapan, masa seumur hidup mau makan masakan buatan Bibi sih." Ucap Riri.
"Wah kamu emang isteri yang baik, kalau gitu aku mandi dulu ya, setelahnya kita temui keluargaku, karena mereka akan pulang pagi ini ke Bandung."
Setelah mandi aku menuju meja makan dan di sana Riri telah menunggu bersama nasi goreng buatannya.
"Wah kayaknya enak." Kataku.
"Ya udah, kamu makan dulu ya suamiku, sekarang gantian, aku yang mandi." Jawab Riri.
Riri menuju ke kamar atas untuk mandi, sementara aku tetap di meja makan dan sarapan dengan nasi goreng buatan Riri yang terlihat sangat lezat. Aku memakan suapan pertama nasi goreng itu, seketika mataku terbelalak karena rasanya yang tak karuan, tapi karena menghormati jerih payah Isteriku, aku memakannya hingga habis, walau sambil menangis tentunya.
"Gimana sayang, enak?" Kata Riri yang turun dari kamar atas.
__ADS_1
"Enak kok...Makasih ya sayang, kamu nggak mau sarapan dulu?" Tanyaku.
"Nggak sayang, nanti keluargamu nunggu, kan kasihan, lagian tadi aku udah coba sedikit, nggak enak gitu masakan aku." Kata Riri tertawa.
"What? Jadi kamu tau masakanmu nggak enak?"
"Iya hehehe...Makasih ya sayang kamu memakan habis nasi goreng yang nggak enak itu, aku tau kok kamu cuma mau menghargaiku." Kata Riri sambil tersenyum.
Lalu kami pun menemui keluargaku yang saat itu baru saja selesai sarapan.
"Widih pengantin baru, gimana semalam? berapa ronde?" Tanya Bapak.
"Menang W.O Pak, lawannya nggak dateng." Jawabku.
"Hehe maaf sayang, habis aku kelelahan." Kata Riri di sambut tawa seluruh keluargaku.
Mereka semua bersiap untuk pulang, kecuali Pay dan Tiwi yang memang sengaja kuajak tinggal bersamaku dan Riri di rumah yang sangat besar itu, lagipula kami berencana akan menyekolahkan Tiwi di Jakarta, yang kemarin sempat tertunda karena perpisahanku dan Riri, aku juga sudah menawari Rai untuk melanjutkan kuliahnya di sini, tapi Rai menolak, sayang dengan beasiswanya, katanya.
"Wah lumahnya lebih besal dali lumah yang dulu, ada kolam lenangnya juga." Ucap Tiwi ketika sampai di rumah.
"Tiwi suka berenang?" Tanya Riri.
"Suka sekali Kak, walau Tiwi nggak bisa belenang." Jawabnya.
"Asyiiik, sungguh Kak." Ucap Tiwi.
"Tiwi senang?" Tanyaku.
"Senang sekali, telimakasih Kak Adit, Kak Lili." Kata Tiwi.
Sesaat perbincangan kami itu terganggu karena beberapa tamu yang datang, tampak mereka berpakaian rapi, menggunakan jas dan juga dasi, ternyata mereka semua adalah orang-orang kepercayaan Papa yang selama beliau sakit mengurusi bisnis-bisnisnya, mereka datang karena menyerahkan setumpuk berkas untuk kubaca dan tandatangani, berkas itu begitu banyak, karena merupakan bisnis Papa yang ada di banyak kota bahkan sampai Perancis.
Mereka menanyakan kapan aku siap mengurusi semuanya, karena mereka bilang beberapa investor besar dan klien sudah menunggu calon pengganti Papa.
Malam itu aku membaca semua berkas dan menandatanganinya, aku bekerja hingga larut di kamar, namun setengahnya pun belum kuselesaikan.
"Istirahat dulu sayang, jangan di paksakan, ini aku buatkan teh manis hangat kesukaanmu." Kata Riri memberikan minuman.
"Iya sayang, tanggung." Jawabku.
"Ya sudah, aku pijat ya." Kata Isteriku itu yang kemudian memijatku.
__ADS_1
Sungguh terasa nikmat pijatan Riri malam ini, aku menoleh ke arah Riri yang tersenyum padaku, hingga akhirnya aku menggendongnya ke atas kasur, akhirnya malam pertama kami sebagai pengantin baru terjadi di malam kedua itu.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali untuk melanjutkan pekerjaanku, tak lama Riri pamit padaku untuk mengantarkan Tiwi daftar sekolah.
Beberapa menit sekali ponselku berbunyi dari para klien yang mencoba membuat janji bertemu. Jadi seperti ini kehidupan Papa setiap hari, pantas saja dulu Beliau tak pernah ada waktu untuk Puterinya.
Aku berpikir sejenak, aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tak mau menjadi seperti Papa dahulu, aku tak mau selalu tak punya waktu untuk Isteriku, juga anak-anaku nanti, aku mencari cara bagaimana agar aku tak menjadi seperti Papa, hingga akhirnya aku mendapatkan sebuah ide.
Tak lama aku menelpon Kak Sinta dan menyuruhnya untuk datang 3 hari kemudian, aku juga menghubungi semua orang kepercayaan Papa, yang selama Papa sakit mengurusi bisnisnya yang tersebar di banyak kota itu. 3 hari kemudian Kak Sinta datang langsung dari Bandung dengan di temani oleh Pak Dokter.
"Ada apa Dit sampai menyuruh Kakak datang?" Katanya.
"Kak aku butuh bantuan Kakak."
"Bantuanku? Bantuan apa?"
"Kakak mau kembali bekerja?"
"Bekerja? seperti dulu?"
"Bukan Kak, sepertinya aku membutuhkan tangan kanan untuk mengurusi semuanya, Kakak mau jadi tangan kananku?"
"Tangan kanan? maksudmu bagaimana? Kakak belum terlalu mengerti."
"Nanti saja aku jelaskan ketika para tamu yang ku undang sudah datang."
Beberapa jam kemudian semua orang kepercayaan Papa dari berbagai kota datang, aku mengumpulkan mereka di ruang kerja Papa yang ada di rumah ini. Aku menjelaskan bahwa aku mempunyai sistem kerja baru kepada mereka, aku berkata bahwa sekarang Kak Sinta adalah tangan kananku yang akan memegang semua perusahaan Papa, namun begitu aku tetap membutuhkan satu orang dari masing-masing perusahaan untuk memimpin di sana.
Kak Sinta hanya akan turun tangan jika ada proyek yang sangat besar dan membutuhkannya, sedangkan jika hanya proyek biasa itu akan menjadi tanggung jawab dari masing-masing orang, sedangkan aku akan memantau dari perusahaan tempatku bekerja dahulu, dan bekerja hanya jika ada berkas penting yang perlu kutandatangani.
Ini semua kulakukan hanya demi Isteriku, karena aku tak mau jika seumur hidupku hanya sibuk untuk bekerja dan tak ada waktu untuknya, aku rela membayar mereka semua lebih besar hanya demi Riri.
Akhirnya rapat itu selesai, semua sudah menyetujui dengan sistem kerja baru yang kubuat, dan akhirnya mereka pulang ke Kotanya masing-masing.
"Cerdas kamu Dit, dengan begitu kamu nggak perlu keliling untuk mengurusi semua bisnismu kan." Ucap Kak Sinta.
"Iya Kak, semua ini kulakukan untuk Riri." Kataku tersenyum.
"Jadi kapan Kakak mulai bekerja?" Tanya Kakak.
"Minggu depan Kak, karena rencananya aku ingin mengajak kalian semua untuk ikut bulan madu denganku dan Riri selama tiga hari."
__ADS_1
"Serius kamu? kemana?" Tanya Kak Sinta senang.
"Belitung." Kataku menyebutkan tujuan bulan madu kami.