Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Kenangan


__ADS_3

Sore harinya Kak Sinta telah sampai di rumah bersama Pay setelah selesai bekerja. tanpa banyak bicara dia hendak menuju ke kamarnya.


"Kak, tunggu...!!!" Kataku.


"Ada apa Dit, maaf Kakak lelah." Jawabnya.


"Sebentar Kak, ada yang mau bertemu." Kataku lagi yang kemudian meminta Bibi memanggil Pak Dokter yang sedang beristirahat di kamar.


"Kamu...Kenapa kamu di sini?" Tanya Kak Sinta ketika melihat Pak Dokter turun.


"Sin maaf ya soal semalam, aku memang terlalu memaksamu untuk menikah denganku." Katanya.


Kak Sinta hanya terdiam sambil memandangi wajah Pak Dokter.


"Aku ke sini mau memberitahumu bahwa sebentar lagi aku akan pindah ke Jakarta agar bisa lebih dekat lagi denganmu." Kata Pak Dokter lagi.


"Maaf bukan maksudku semalam menolakmu, aku hanya belum memikirkan tentang pernikahan saat ini, lagipula kita baru setengah tahun berpacaran, belum saling mengenal lebih jauh." Kata Kak Sinta.


"Iya, aku mengerti, aku ke sini untuk meminta maaf dan memberitahu kepindahanku saja, aku tak akan lagi melamarmu hingga kamu siap." Jawab Pak Dokter.


"Terus siapnya kapan Kak? Inget umur, lagian kapan lagi dapat pacar sebaik Pak Dokter." Kataku menggoda Kak Sinta.


".....1 tahun.....Lamar aku lagi setelah 1 tahun kedepan." Ucap Kak Sinta.


"Tuh Dok denger kan, 1 tahun lagi, Dokter sabar ya." Kataku membuat Pak Dokter tersenyum.


Akhirnya masalah antara Kak Sinta dan Pak Dokter selesai sore itu juga, aku senang mendengar Kakakku akan menikah, walau masih tahun depan. Pada malam harinya setelah makan bersama aku berbincang dengan Isteriku di dalam kamar.


"Sayang, sepertinya aku ngidam lagi deh." Kata Riri.


"Ngidam apa, nyiksa Pay dan Bams lagi?" Kataku menahan tawa.


"Nggak kok, aku cuma mau pecel lele." Jawabnya.


"Oh syukurlah, kamu nggak ngidam yang aneh-aneh lagi, tapi kan kamu baru makan." Kataku.

__ADS_1


"Pokoknya aku mau, tapi pecel lele deket kontrakan kamu dulu, nggak mau yang lain." Katanya.


"Lho di dekat sini kan ada pecel lele juga." Kataku.


"Nggak mau...Aku maunya yang di sana, tempat kita dulu sering makan."


"Iya...Iya, kalau begitu aku minta tolong Pak Iwan dulu ya."


"Kok Pak Iwan siiih sayaaaaang, aku mau suamiku yang beli dan berkorban buat aku, aku mau kamu pergi kesana jalan kaki." Katanya manja.


"Waduuh...Ri yang bener aja, jarak dari sini kesana kan puluhan kilo, kamu bercanda kan?" Tanyaku.


"Nggak bercanda kok, ya udah sana kamu berangkat." Ucap Riri.


Riri mengantarku sampai depan rumah sehingga aku tidak bisa membohonginya pergi kesana dengan menggunakan mobil, bahkan dia hanya memperbolehkanku membawa uang yang hanya cukup untuk membeli 1 porsi pecel lele itu.


"Ri ini serius?" Tanyaku memastikan kembali.


"Serius lah sayang, ini permintaan Dede bayi lho." Jawabnya membuatku tak bisa berkutik.


"Aduh...Untung ngidam, kalo nggak males juga jalan kaki kesana, untung dulu waktu masih aktif ngamen sering jalan kaki dari kontrakan ke rumah Riri, jadi sudah biasa." Kataku bergumam dalam perjalanan.


Aku terus berjalan menyusuri trotoar, hingga akhirnya aku tiba di depan kampus Riri dahulu.


"Wah udah lama juga nggak ke sini, tempat pertama kali aku dan Riri bertemu, nggak sangka sekarang gw udah nikah sama dia." Kataku sambil tersenyum melihat Kampus dan kantin yang ada di seberangnya.


Aku berlalu menuju tempat penjual pecel lele itu berada, Bapak penjual dan isterinya yang sudah tua itu masih mengenaliku, karena dulu aku memang salah satu pelanggan di warung mereka, tampak di seberang jalan adalah gang menuju kontrakanku dahulu, setelah pesananku selesai aku memasuki gang itu, aku menuju kontrakanku dahulu, hanya untuk sekedar mengenang masa lalu.


Tampak di depan kontrakanku dahulu beberapa orang sedang berbincang, tampaknya mereka adalah penghuni di sana, aku melihat kontrakan sebelahnya dan mengingat kembali memory bersama sahabatku dahulu.


"Tenang di sana ya Bor, sekarang gw sudah tinggal di rumah besar, lu adalah saksi perjalanan gw selama ini, lu juga pasti ikut seneng kan...Gw kangen lu Bor." Kataku dalam hati.


Aku melanjutkan perjalananku untuk kembali pulang, aku sama sekali tak merasa lelah, justru aku berterimakasih pada Riri karena memintaku kembali ke tempat ini, tempat penuh kenangan...Tempat penuh perjuangan.


Sesampainya di rumah aku lalu menemui Riri yang sedang berkumpul dengan penghuni rumah lainnya di ruang tengah.

__ADS_1


"Sayang makasih lho, Karena kamu aku bisa ke tempat itu lagi." Kataku tersenyum.


"Iya sayang sama-sama." Riri membalas senyumanku.


"Ini pecel lelenya, aku ambilkan piring dulu ya." Kataku memanjakannya.


"Nggak usah sayang, Dede bayinya udah nggak kepingin kok." Katanya dengan santai membuat dahiku mengerut.


Semua orang sedang menahan tawanya di samping Riri, lagi-lagi Pay tak bisa menahan tawanya, dia menertawaiku sangat puas malam itu, sedangkan Riri malah acuh meononton televisi.


"Mau kemana Dit?" Tanya Pay yang melihat aku meninggalkan mereka.


"Berenang...Panas." Jawabku.


"Hahahaha badan apa hati yang panas." Kata Pay menggodaku.


Malam itu ketika telah larut aku bermimpi, dalam mimpiku itu aku dan Riri sedang menimang seorang Bayi mungil, aku dan Riri sangat bahagia, kami saling melemparkan senyuman, hingga akhirnya Riri pergi meninggalkanku bersama bayi itu sambil melambaikan tangannya.


Aku terbangun dengan keringat membasahi seluruh tubuhku, apa arti mimpiku semalam, aku termenung di atas tempat tidurku.


"Sudah bangun sayang, ayo mandi kita sarapan bersama yang lain, oh iya ini kan hari Minggu, kita jalan yuk mumpung kamu libur." Ucap Riri.


Tanpa berkata apapun aku memeluknya dengan erat pagi itu, sambil sesekali menciumi rambutnya.


"Aku sayaaang banget sama kamu." Kataku sambil memeluknya.


"Tumben kamu pagi-pagi langsung meluk aku, mandi sana, bau tau." kata Riri.


Setelah itu kami bergabung dengan yang lain untuk sarapan bersama, pagi itu Pak Dokter berpamitan pada kami bahwa dia akan kembali ke Bandung untuk mengurus kepindahannya.


Hari itu aku mengajak Riri untuk berjalan-jalan di taman, karena menurut Pak Dokter orang yang sedang hamil harus banyak berjalan.


"Sayang kamu hari ini kenapa sih, daritadi mandangin wajah aku terus." Ucap Riri.


"Ah nggak kok sayang, perasaan kamu aja kayaknya." Jawabku.

__ADS_1


Riri menggenggam tanganku dan hari itu kami berjalan bersama menyusuri taman itu.


__ADS_2