
"Semuanya sudah selesai dan hasilnya cocok." Kata Dokter yang siang itu langsung mengikuti permintaan Tegar untuk mendonorkan ginjalnya.
Kami semua merasakan kesedihan dan gembira pada saat yang bersamaan, Dokter berkata bahwa besok pagi operasi Tiwi akan langsung di laksanakan, karena Beliau sudah menjadwalkannya.
Kami pun memberitahukan hal ini kepada Tiwi, memberitahukan bahwa esok setelah operasi dia akan sembuh dari penyakit yang selama ini di deritanya, tapi kami tidak memberitahukan bahwa tegar telah berpulang, tak tega rasanya jika Tiwi harus tahu kebenarannya.
"Kak Adit, Kak Pay, Tegal kemana sih? Kok hali ini dia nggak kelihatan." Tanya Tiwi.
"Tiwi sayang, Tegar tadi sudah pulang." Jawabku.
"Jadi Tegal sudah di jemput sama Mama-Papanya? Wah Tegal beluntung, ja..Jadi Tiwi nggak akan beltemu Tegal lagi?" Kata Tiwi dengan wajah sedih.
"Iya sayang, Tegar sekarang sudah pergi jauh." Jawabku.
"Tegal jahat...Kenapa dia nggak pamit sama aku, padahal kemalin dia bilang akan telus belsamaku, menemaniku." Tangis Tiwi pun pecah.
"Tegar memang pergi jauh, tapi percayalah bahwa dia akan selalu hidup dalam dirimu, dalam kenanganmu." Kataku sambil memeluk Tiwi.
Malam itu setelah pulang dari bekerja aku kembali pulang ke Rumah Sakit, aku duduk di kursi yang biasanya di pakai Tegar untuk menunggu kedua orangtuanya datang.
"Baru pulang kerja Dit?" Tanya Pak Dokter yang kebetulan melintas.
"Eh iya Dok, baru saja sampai." Jawabku.
"Malam ini terasa berbeda ya Dit, biasanya ada Tegar yang terduduk di sini menunggu kepulanganmu." Kata Dokter.
"Iya Dok, bahkan aku tadi hampir mencarinya, aku benar-benar lupa bahwa Tegar telah tiada." Kataku. "Dok, aku boleh tidur di ruangan Tegar untuk terakhir kalinya?" Tanyaku.
"Silahkan Dit, selama belum ada pasien baru kamu bisa tidur di sana." Kata Pak Dokter yang kemudian berlalu.
Malam itu aku tertidur di ranjang yang biasa di pakai oleh Tegar hingga aku pun bermimpi tentangnya, dalam mimpiku Tegar tersenyum dan melambaikan tangannya, tampak rambutnya telah tumbuh lebat, dia berkata dia akan merindukanku lalu pergi meninggalkanku, aku pun tersenyum sambil melambaikan tanganku.
Pagi harinya aku di bangunkan oleh Pay yang berkata bahwa sebentar lagi Tiwi akan masuk ke ruang operasi, di sana tampak keluargaku yang sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Kamu di sini juga Man, Jess." Kataku ketika melihat Iman dan Jessica.
"Iya A, aku mau menunggu sampai Tiwi selesai operasi." Jawab Iman.
Tak lama Tiwi di bawa masuk ke dalam ruangan operasi, Ketika Pak Dokter melewati kami, aku pun bertanya kepadanya.
"Berapa lama proses operasinya Dok?" Tanyaku.
__ADS_1
"4 jam Dit, sekarang kalian bantu kami dengan do'a ya, semoga semuanya lancar." Kata Dokter yang kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
Kami semua terus berdoa di depan ruangan operasi, tampak ketegangan di wajah kami semua, terutama Pay yang tak berhenti mondar-mandir di depan ruangan itu.
"Pay lu bisa diem nggak sih, gw tambah tegang liat lu mondar-mandir gitu." Kataku.
"Sorry Dit, gw tegang banget, belum tenang rasanya kalau proses operasinya belum selesai." Jawab Pay.
Akhirnya 4 jam telah berlalu, tampak Tiwi yang belum tersadar di bawa ke ruangannya, hingga akhirnya Pak Dokter keluar dari ruangan itu.
"Gimana Dok?" Kata Pay yang terlihat panik.
"Syukurlah, semuanya berjalan lancar, sekarang Tiwi harus di rawat di sini dahulu selama dua Minggu sampai dia benar-benar pulih." Jawab Pak Dokter.
Kami semua menarik nafas panjang karena lega mendengar kata-kata Pak Dokter, Pay bersorak mendengar kabar baik itu, lalu dia pun di marahi karena berisik di depan ruang operasi tersebut.
Syukurlah Jika memang Tiwi bisa keluar dari Rumah Sakit ini dua Minggu kemudian, dengan waktu sebanyak itu aku bisa mengumpulkan uang dari hasil saweranku dan melunasi sisa biaya perawatannya
Malam itu seperti biasa aku menuju cafe untuk bekerja, aku datang lebih awal karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Sinta.
"Sin, bisa kita bicara?" Kataku.
"Ada apa Dit?"
"Untuk Siapa Dit? Sebetulnya sih sudah cukup dengan jumlah karyawan yang bekerja saat ini."
"Untuk sahabatku, Paijo namanya, dia orang yang rajin lho Sin." Kataku.
Sinta berpikir sejenak mendengar permintaanku.
"Baiklah kalau begitu, suruh dia besok pagi datang kesini bertemu denganku." Kata Sinta.
"Siap Bos, terimakasih ya." Kataku.
"Ini karena permintaan darimu lho Dit, kalau yang lain belum tentu aku menerimanya, karena berkat kamu juga sekarang cafe ini bertambah ramai setiap malam." Kata Sinta tersenyum.
Sepulang bekerja aku lalu mengajak Pay berbincang di luar ruangan Tiwi.
"Pay lu mau kan kerja?" Tanyaku.
"Mau banget Dit, gw malu kalau cuma jadi benalu di dalem keluarga lu." Jawab Pay.
__ADS_1
"Ya udah besok pagi lu ikut gw, biar Tiwi di jaga Ibu dulu, lagian besok Rai juga udah mulai kuliah kan."
"Ok Dit, tapi kerja apa gw?"
"Di cafe tempat gw gawe, tadi gw udah ngomong sih sama Sinta."
"Sinta? Sinta siapa?" Tanya Pay.
"Sinta itu temen gw, dulu dia adalah kepala HRD sebelum gw, nah sekarang dia buka cafe di deket sini."
"Oh begitu, ok deh kalau gitu gw mau."
Tak berapa lama tampak lima gadis yang biasa menontonku tampil menghampiri kami berdua.
"Kak Adiiiiit." Kata mereka berteriak histeris.
"Lho kalian, kenapa kalian ada di sini?" Tanyaku.
"Kami tadi mengikuti Kakak, karena penasaran ingin tau di mana rumah Kakak, ngomong-ngomong Kakak ngapain malam gini ke Rumah Sakit?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Setiap hari Kakak memang selalu tidur di sini, karena Adik kecil Kakak sedang sakit dan dua Minggu lagi baru pulang." Jawabku.
"Wah kasihan, boleh kami jenguk?"
"Jam besuk sudah selesai." Kata Pay.
"Eh om, perkenalkan kami dari Adit fans club." Kata mereka yang mengira Pay adalah Pamanku.
"Hahahaha Pay...Pay, makanya rambut lu rapihin, dikira orang tua mulu kan lu, adik-adik, ini namanya Bang Pay, dia adalah sahabat Kakak." Kataku mengenalkan mereka.
Setelah itu mereka berlima pun pamit karena besok sudah mulai masuk kuliah dan berkata akan sering datang kesini untuk bertemu denganku.
"Hebat, kerja baru seminggu lebih udah punya fans gitu." Ucap Pay.
"Iya dong, siapa dulu...Adit."
Keesokan paginya aku ikut menemani Pay untuk menemui Sinta, sementara Tiwi di jaga oleh Ibuku.
"Jadi ini yang namanya Paijo?" Tanya Sinta.
"Iya Bu saya Paijo tapi Ibu bisa panggil saya Pay saja." Ucap Pay.
__ADS_1
"Baiklah kamu saya terima, kamu bisa masuk mulai besok pagi, tapi sebelum itu kamu harus memotong rambutmu agar terlihat rapi, mengerti?" Kata Sinta.
Akhirnya hari itu pun Pay telah resmi bekerja di cafe milik Sinta.