Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Hari kemerdekaan dan ketenangan sebelum badai


__ADS_3


Setibanya kami dirumah ternyata Riri dan rombongannya belum tiba disana, mungkin karena jarak kami lebih dekat ke rumah dibanding mereka.


"Wah ternyata kita yang sampai duluan." Ujarku.


"Kalau begitu Rai mandi dulu ya A, mumpung kak Riri dan yang lain belum sampai." Kata Rai sambil menaiki tangga menuju lantai atas.


"Heh Bambang kamu mau kemana, tunggu disini aja." Kataku lagi yang melihat Bams mengikuti Rai naik ke atas.


"Maaf bos, saya pikir dek Rai butuh pengwalan." Jawab Bams.


"Gimana toh kamu Bams, wong mau mandi saja butuh pengawalan." Timpal Wahyu.


"Kalau begitu Tiwi mandi juga ya sama mbok Yem." Ucapku pada Tiwi yang duduk di pangkuanku.


30 menit kemudian Riri dan rombongan tiba dirumah beserta banyak barang yang dibeli untuk di jadikan hadiah lomba.


"Hadeuuuh haus, mana panas banget tadi disana." Ucap Reni setibanya dirumah.


"Ah Reni payah, masa segitu aja cape." Jawab Riri.


"Wah kasian banget nih tim pencari hadiah lomba, capek ya? Mbok tolong buatin minum dingin ya." Ujarku.


"Yang manis mbok, semanis Rai." Tambah Bams.


"Oh iya besok jangan lupa ya untuk panitia dresscode nya merah putih." Ucap Riri.


"Dresscode apaan sih?" Tanya Pay.


"Waduh si jamur bener-bener norak ya lu dresscode aja nggak ngerti." Sahut Bams.


"Emangnya bang Bams ngerti?" Kata Rai.


"Ngerti dong, bentar cari di gugel dulu." Kata Bams sambil membuka ponselnya.


"Huuuuuuuuu." Kami pun menyoraki Bams dengan serempak.


Hadiah demi hadiah telah kami bungkus dengan kertas kado, dan akhirnya malam itu kami sudah menyelesaikan semua tugas kami.


Riri dan teman-teman yang lain telah pamit untuk pulang, Tiwi sudah tertidur dikamarnya, sedangkan Rai kulihat bersantai di teras ditemani oleh Pay, aku lalu menghampiri mereka karena mataku memang belum mengantuk sedikitpun.


"Hayo lagi ngobrolin apa." Kataku mengejutkan mereka berdua dari belakang.

__ADS_1


"Kon..ci eh kon..ci." Pay terkejut sambil mengangkat kedua tangannya.


"Lho Bang Pay latah ya?" Tanya Rai sembari tertawa.


"Apaan sih lu Dit ngagetin aja, turun deh harga diri gw di depan neng Rai." Ucap Pay yang terlihat malu.


"Hahaha sorry Pay gw lupa kalo lu latahan. Lagian pada ngobrolin apa sih serius banget?"


"Maaf ini urusan anak muda, calon kakak ipar nggak boleh tau." Jawab Pay.


"Ih Bang Pay apaan sih ngomongnya, udah ah Rai ngantuk mau tidur." Kemudian Rai meninggalkan kami berdua dan masuk ke kamarnya.


"Lu sih Dit ganggu aja, jadi pergi kan neng Rai." Ucap Pay.


Akhirnya aku berbincang dengan Pay di teras rumah hingga tengah malam.


Keesokan paginya Riri dan yang lain sudah berada di rumah untuk menjemput kami pergi ke panti asuhan.


"Ok semuanya sudah siap, mari kita berangkat." Ucap Pay dengan semangat 45.


Sesampainya di panti asuhan tampak Bams dan anak-anak panti tengah menunggu kedatangan kami.


"Hai bos." Sambut Bams


"Wah si klimis buta warna rupanya, mana pake kaos pink lagi." Kata Pay.


"Maaf bos Riri saya lupa ternyata saya nggak punya pakaian warna merah." Ujar Bams sambil tertawa.


"Ya sudah nggak apa-apa. Oh iya Bams ibu panti kemana kok nggak kelihatan?" Aku bertanya pada Bams.


"Anu bos, ibu sedang ada tamu, sepertinya itu adik kandung ibu panti dan seorang lagi aku tidak mengenalnya." Jawab Bams.


"Oh ya sudah jika begitu kita tunggu sebentar karena acara pertama adalah pembukaan dan dilanjutkan do'a yang akan dipimpin ibu panti." Kataku lagi.


Tak lama kedua tamu itu pun keluar dari ruangan ibu panti, tampak seorang pria paruh baya dan seorang pemuda memakai setelan jas, mereka menghentikan langkahnya ketika berada tepat di hadapan kami, mata kedua orang itu tertuju pada kami semua, dengan tatapan sinis lalu menyeringai dan kemudian pergi begitu saja.


Ibu panti keluar setelah mereka, wajahnya tampak lesu dan seperti orang yang habis menangis, kemudian dia menghampiri kami dengan tersenyum.


Aku tak tahu ada apa antara Ibu dengan kedua orang itu, tapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Akankah ini menjadi ketenangan yang terjadi sebelum badai datang? Mudah-mudahan saja itu semua tidak benar.


Acara dimulai, kami mengibarkan Sang Merah Putih pada tiang bendera yang ada di depan panti asuhan itu, dilanjutkan dengan pembukaan dari Ibu, dan setelahnya kami melakukan do'a bersama.


"Merdeka." Kata kami semua dengan penuh semangat.

__ADS_1


Lomba telah dimulai, anak-anak terlihat senang mengikuti lomba-lomba yang kami adakan, tampak kegembiraan di wajah mereka semua, Ibu panti dan Bams pun tampak bahagia menyaksikan anak-anak itu.


Satu persatu lomba di selesaikan, pemenang sudah ditentukan, Tiwi juga turut serta dan menjadi juara pertama dalam lomba membawa kelereng dengan menggunakan sendok.


Tiba saatnya para panitia ikut memeriahkan acara, kami semua turun dalam lomba memecahkan balon menggunakan jarum yang diikat dengan benang ke pinggang kami.


Tak kusangka ternyata perlombaan ini sangat sulit, waktu sudah berjalan lebih dari 5 menit tapi belum ada satupun dari kami yang berhasil memecahkan balon itu hingga...


Duaaaaar!!! terdengar suara pecahan balon dan ternyata balon milik Bams yang pertama pecah.


"Ayam..Ayam..Ayam" Pay terkejut karena memang Bams tepat berada disebelahnya.


Ekspresi terkejut Pay disambut tawa semua orang yang ada disitu.


"Gimana jamur, hebat kan gw?" Ucap Bams menyombongkan diri.


"Halah cuma beruntung aja sombong lu." Jawab Pay.


"Eits jangan salah, gw ini juara lomba kemerdekaan sekampung sini." Kata Bams dengan angkuh.


"Ok kalo begitu gw tantang lu 3 lomba lagi. Gimana berani nggak lu?" Tantang Pay.


"Terus yang menang hadiahnya apa?" Tanya Bams.


Kemudian mata mereka secara bersamaan menoleh ke arah Rai.


"Ih apaan sih kalian, emangnya Rai barang dijadikan hadiah lomba." Kata Rai kesal.


Bams menerima tantangan itu, dengan taruhan jika yang kalah harus menuruti apapun yang dikatakan oleh pemenang dalam 1 hari. Kami bertindak sebagai juri pada persaingan kedua rival abadi ini.


Pay berkesempatan memilih lomba pertama dan pilihannya jatuh pada lomba makan kerupuk yang di gantung menggunakan tali.


"Gw kasih kesempatan lu 30 detik mulai lebih dulu." Kata Bams semakin angkuh.


Aba-aba dilakukan, perlombaan pun dimulai, Pay mulai memakan kerupuk yang tergantung itu, peraturannya sederhana, siapa yang dapat menghabiskan kerupuk terlebih dahulu tanpa menyentuhnya menggunakan tangan dialah pemenangnya.


Mendengar juri memulai lomba Bams malah berlari dengan sangat cepat masuk ke dalam panti, entah apa yang dilakukannya.


30 detik kemudian dia kembali dengan membawa piring berisi nasi lengkap dengan lauknya, dia mulai memakan kerupuk itu lalu kemudian memakan nasi dan lauk yang dia bawa tadi, kami semua tertawa melihat tingkah konyolnya.


Lomba pertama telah selesai dengan Bams keluar sebagai pemenangnya, Pay tampak kesal karena merasa dipermainkan oleh Bams.


Melihat raut wajah Pay hanya membuat Bams semakin sombong dengan menaikan dagunya di hadapan Pay.

__ADS_1


Lomba kedua akan segera dimulai dan kali ini Bams yang memilih perlombaan, dia menjatuhkan pilihan pada lomba balap karung.


__ADS_2