Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Kencan dan pertemuan kembali


__ADS_3

Kini kami telah pindah ke rumah besar Sinta karena kami sudah menjadi satu keluarga, tentu saja awalnya aku belum terbiasa dengan Bapak dan Sinta yang menjadi anggota keluarga kami.


"Adit ambilkan Kakak selai cokelat itu." Kata Sinta pagi itu.


"Iya Kakakku." Jawabku.


"Hahahah udah mulai terbiasa nih kayaknya Adik dan Kakak." Kata Pay menggoda kami.


"Rai seneng lho, akhirnya sekarang Rai punya Kakak perempuan buat tempat Rai curhat." Ucap Rai.


"Iya Rai sayang, kalau kamu mau curhat datang aja ke kamar Kakak ya." Ucap Sinta.


"Paling mau curhatin Abang ya Neng." Kata Pay lagi.


"Yeee GR banget sih Bang." Sahut Rai.


"Oooh mau curhatin soal cowok ganteng temen kampus kamu ya De." Kataku.


Pay yang sedang minum pun menyemburkan airnya ke wajah Rai yang duduk di hadapannya karena mendengar kata-kataku.


"Iiih Abang jorok banget sih." Kata Rai kesal.


"Ma...Maaf Neng, ini nih gara-gara si Adit, Abang kan jadi kaget, tapi emang bener Neng apa yang Adit bilang?" Tanya Pay khawatir.


"Dasar Abang Pay, polos banget sih, mana pernah aku curhat sama A Adit, sebel aku, gara-gara kamu aku harus ganti baju lagi, telat deh kuliahku." Kata Rai.


Aku tertawa melihat tingkah kedua pasangan yang berhasil kukerjai itu, hingga akhirnya Kak Sinta pergi mengambil barang di kamarnya.


"Aku ada kejutan lho untuk kalian." Kata Kak Sinta.


"Kejutan apa Kak?" Tanya Rai.


"Aku ada kado buat kalian semua termasuk Pay dan Tiwi." Kata Kak Sinta yang kemudian membagikan kado itu kepada kami.


"Sekarang buka ya." Katanya lagi.

__ADS_1


Kami membuka kado itu secara bersamaan, aku, Rai dan Pay mendapatkan sebuah ponsel dari kado tersebut, Tiwi mendapatkan boneka Barbie, sedang Ibu dan Bapak mendapatkan sebuah tiket pulang pergi ke Bali.


"Wah serius ini Kak, terimakasih..Rai seneng banget." Ucap Rai.


"Kak Sinta makasih ya, Pay juga senang." Kata Pay.


"Wah boneka belbi, makasih Kakak cantik." Ucap Tiwi.


Kami semua sangat senang dengan kejutan yang diberikan Kak Sinta, termasuk Ibu dan Bapak yang akan berbulan madu ke Bali dan berangkat esok hari.


"Eh Dit, gimana kalau malam ini kita adakan kuis berhadiah di cafe pas kamu lagi tampil." Ide Kak Sinta.


"Wah Ide bagus tuh Kak, sekalian buat perayaan pernikahan Ibu dan Bapak, tapi apa hadiahnya?" Tanyaku.


"Ada deh, rahasia, aku sudah menyiapkan hadiah yang sangat spesial." Kata Kak Sinta tersenyum.


Malam harinya Kak Sinta naik kepanggung saat aku sedang melakukan pertunjukanku, dia meminta penonton untuk mengambil nomor yang sudah di persiapkannya di bawah kursi, lalu aku dan Kakak mengocok nomor undian dari atas panggung.


Semua hadiah sudah habis di bagikan malam itu, pengunjung yang menang terlihat senang, kukira awalnya acara itu sudah selesai tapi tiba-tiba.


"Jangan ada yang beranjak dulu dari tempat duduk karena hadiah spesial baru saja akan kami undi." Ucap Kak Sinta.


"Hadiah terakhir adalah siapa yang nomornya kami sebut maka besok pagi dia akan pergi berkencan dengan Adikku yang tampan, idola cafe ini...inilah dia... Adiiiiiit." Kata Kak Sinta membuatku terkejut.


"Kakak apa-apaan sih, ini nggak ada dalam perjanjian lho, aku nggak mau ah." Kataku menolak.


"Sudah Dit, ini demi Papa dan Ibu, lagipula kamu kan nggak harus pacaran dengan pemenang, cuma jalan setengah hari doang kok, buat seru-seruan aja." Kata Kak Sinta meyakinkanku.


Terdengar tepuk tangan dari para pengunjung wanita, mereka tampak antusias menyambut acara puncak tersebut, sedangkan pengunjung pria menatap dalam ke wajahku, takut jika pacar mereka yang memenangkan hadiah itu.


Nomor pun telah di dapat, nomor undian 24 yang ada di tangan Kak Sinta, para penonton wanita memeriksa nomor mereka, tampak beberapa dari mereka kecewa karena tak berhasil menang hingga seseorang yang kukenal melompat kegirangan.


"Aku menang...Aku menang." Kata gadis itu menunjukan nomor kepada teman-teman di sebelahnya.


"Cih...beruntung." Kata temannya yang lain.

__ADS_1


Untung saja yang menang malam itu adalah salah satu dari kelima gadis yang sering kerumahku, jadi aku tak terlalu canggung karena aku hanya menganggap mereka adikku.


"Kak Adit besok kamu milikku, aku tunggu jam 6 pagi di depan cafe ini." Katanya seraya pergi karena acara malam itu telah selesai.


Keesokan paginya aku telah menunggu gadis itu di depan cafe, tak lama dia datang menghampiriku, dia bilang namanya adalah Sarah, jujur saja selama ini aku tak pernah tahu siapa nama kelima gadis itu karena mereka selalu menyebut diri mereka dengan fans Adit, Pagi itu Sarah datang dengan menggunakan pakaian serba hitam.


"Kamu sedang berkabung Sarah?" Tanyaku.


"Kak kencan pertama kita buka dengan sarapan ya." Kata Sarah.


Kami pun Sarapan bersama pagi itu, Sarah berkata kini dia dan teman-temannya hanya menganggapku Kakaknya, padahal awalnya dahulu mereka sempat bertaruh untuk mendapatkan hatiku, tapi setelah mendengar kata-kata Kak Sinta tempo lalu yang bilang bahwa hatiku hanya untuk Riri maka mereka merelakanku bahagia bersama Riri, bahkan mereka bilang akan mendukungku.


Syukurlah mereka dapat mengerti hal itu, karena aku pun selama ini hanya menganggap mereka sebagai Adik-adikku karena sepertinya mereka seumur dengan Rai.


Siang harinya aku mengajak Sarah berjalan-jalan di Taman, dia tampak sangat senang berjalan dengan orang yang selama ini dia idolakan.


Ketika kencan akan berakhir pada sore harinya aku mengajak Sarah kembali ke tempat pertemuan awal kami, ya aku mengajaknya kembali ke cafe.


"Kak, sebelum kencan berakhir bolehkah aku meminta sesuatu?" Kata Sarah ketika kami berjalan menuju cafe.


"Boleh, apa itu?" Tanyaku.


"Besok Papaku akan pindah dinas di luar kota dan aku akan ikut bersamanya, boleh aku memegang tangan Kakak untuk terakhir kalinya."


"Baiklah."


Aku pun menggenggam tangan gadis itu sebagai tanda perpisahan kami, lagipula kupikir tak ada salahnya jika seorang Kakak menggandeng Adiknya jalan bersama.


Sesampainya kami di depan cafe Sarah berkata dia sangat senang hari ini dan tak akan melupakannya sampai kapanpun, dia memelukku sebagai tanda perpisahan darinya dan berlalu pergi.


Aku masuk ke cafe itu, terlihat Kak Sinta telah menungguku di sana.


"Dit, coba deh kamu periksa sound di panggung, sepertinya ada sedikit masalah." Kata Kak Sinta yang kemudian pergi ke ruangannya.


Aku memeriksa sound yang ada di panggung itu dan ternyata kabelnya putus, aku menyambungkannya dan akhirnya masalah sudah selesai, seketika itu aku terkejut karena ada seseorang yang menepuk pundakku.

__ADS_1


"Mas..Mas, maaf." Terdengar suara seorang wanita dan aku pun menoleh kearahnya.


"Riri." Aku terkejut ternyata suara itu adalah Riri...Ya dia adalah Riri yang selama ini aku tunggu.


__ADS_2