Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Hari yang di nanti


__ADS_3

Pagi itu aku bersama Pay dan Tiwi bersiap menyambut Ibu, Rai dan beberapa saudaraku datang ke rumah.


"Udah sampai mana Dit?" Tanya Pay.


"Sebentar lagi Pay, tadi Ibu mengabari bahwa mereka sudah dekat." Jawabku.


"Kak Adit mau menikah sama Kak Lili ya?" Tanya Tiwi.


"Iya sayang, kok Tiwi tau?" Kataku.


"Kata Kak Pay, Kakak bilang setelah Kak Adit Kakak Pay juga mau menikah sama Kak Lai." Kata Tiwi lagi.


"Sssst...Ade!!!" Kata Pay tampak malu.


Tak lama rombongan Ibu datang memasuki pelataran rumah, memang tak banyak saudaraku yang ikut kali ini, karena ku pikir hanya proses lamaran tak perlu ikut semua, hanya ada Ibu, Rai, Iman beserta Ayah dan Ibunya.


"Gimana perjalanannya Bu." Tanyaku setelah beliau sampai di rumah.


"Lancar Nak, soalnya bukan musim liburan jadi cepat sampainya." Jawab Ibu.


"Wah keponakan Bibi akhirnya menikah juga." Ucap Bibiku.


"Eh Bibi, sehat Bi?" Ucapku menyambutnya.


"Paman dan Bibi sehat Dit, wah rumah kamu besar juga ya, hebat kamu Dit." Ucap Paman.


"Ini bukan rumahku Paman, ini inventaris kantor kok." Jawabku.


"Tapi kan sebentar lagi jadi rumahmu juga, oh iya Dit rencananya Iman juga tahun ini akan kuliah di Jakarta bersama Rai, boleh kalau nanti Iman menumpang di sini?" Kata Paman lagi.


"Oh tentu boleh Paman, Adit senang kalau rumah ini tambah ramai, rencananya mau ngambil jurusan apa Man? Tanyaku pada Iman.


"Iman mau ngambil jurusan Arsitektur A." Jawab Iman.


"Ngomong-ngomong Rai kemana ya, setelah turun dari mobil langsung menghilang." Ucap Bibiku.


"Biasa Ceu anak muda, tuh Rai di sana." Jawab Ibuku sambil menunjuk Rai yang tengah mengobrol dengan Pay di teras rumah bersama Tiwi.


"Wah siapa wanita berambut panjang itu A?" Tanya Iman yang melihat Pay dari belakang dan kemudian menghampirinya.


"Man jangan..." Kataku mencoba menghentikannya.

__ADS_1


Iman pun tak mendengarkan kata-kataku dan melangkah menuju tempat Rai dan Pay mengobrol.


"Hai, bolehkah kita berkenalan." Kata Iman seraya menepuk pundak Pay.


Mungkin karena terkejut dengan tepukan Iman Pay terdiam di tempatnya dan tak berkata apapun.


"Idih sombong banget sih, perkenalkan namaku Iman sepupu A Adit dan De Rai." Kata Iman lagi.


Kami semua hanya diam menahan tawa kami melihat kejadian itu, dan tak lama Pay pun menoleh ke arah Iman.


"Gw Pay, pacarnya Neng Rai." Jawab Pay mengenalkan diri.


"Set...Setaaaaaaaan." Ucap Iman yang terkejut melihat wajah Pay dan berlari kearah Ayah dan Ibunya.


Sontak saja kami semua tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian itu. Malam harinya Riri datang ke rumah untuk bertemu Ibu dan saudaraku yang lain.


"Eh ada calon mantu Ibu." Sambut Ibuku ketika melihat Riri.


"Wah jadi ini Riri? Calon istrinya Adit." Ucap Bibi.


"Cantik ya, Adit pintar pilih calon." Sambung Pamanku.


"Ri, ini Ayah dan Ibu dari Iman yang dulu bertemu kita di Bandung, mereka Paman dan Bibiku." Aku pun mengenalkan mereka.


"Baiklah kalau begitu Nak, Ibu juga sudah tidak sabar bertemu ayahmu." Ucap Ibu.


Malam itu ketika tengah tertidur aku bermimpi bertemu Riri, dalam mimpi itu aku bermimpi Riri sedang merayakan ulang tahun dan aku memberikannya sebuah hadiah, ketika ia membuka kado tersebut ternyata isinya adalah sepasang sepatu yang indah, entah kenapa aku terbangun dengan keringat mengucur deras dari keningku, padahal aku sendiri tak mengetahui apa arti dari mimpiku itu hingga tak lama aku melanjutkan tidurku kembali.


Keesokan harinya kami berkumpul di rumahku untuk kemudian berangkat ke rumah Riri. Tampak sudah ada Pay, Tiwi, Bams, Ibu Panti, Wahyu dan keluarga juga rombongan Ibu dari Bandung.


"Wah bos ganteng banget hari ini, wajahnya cerah." Ucap Bams.


"Cerah lah orang mau lamaran, emang lu demek." Sahut Pay.


"Mau berantem?" Tantang Bams.


"Udah dong, kalian ini ya selalu aja berantem, pokoknya aku mau kalian tenang di lamaran A Adit hari ini." Ucap Rai.


Pay hanya bisa menunduk melihat wajah Rai yang tampak galak hari ini sedangkan Bams kabur ke dalam rumah dengan beralasan bahwa dia sakit perut karena tak mau kena marah oleh Rai.


"Sudah siap semua Dit?" Tanya Ibu.

__ADS_1


"Sudah Bu." Jawabku.


"Cincin sudah kamu bawa?" Katanya lagi.


"Aman Bu." Kataku seraya menunjukan tempat cincin yang aku bawa.


"Kalau begitu ayo kita berangkat." Ajak Ibu.


Aku bersama rombongan berangkat dengan langkah mantap menuju rumah Riri, aku sangat bahagia sekali karena hari yang di tunggu selama ini telah tiba, hari dimana pelayaran cintaku berakhir dan melabuhkan kapal cinta kami selama ini ke dermaga pernikahan.


Hatiku berdebar sepanjang perjalanan karena sangat bahagia, tapi sepertinya aku melupakan sesuatu, aku mencoba mengingat apa yang terlupa tapi tetap saja aku tak dapat mengingatnya, hingga tak lama terdengar ponselku berbunyi.


"Halo Bos, pasti bos lupa sesuatu ya." Tanya Bams yang sepertinya sangat mengetahui jalan pikiranku.


"Iya Bams, kok kamu tau aku lupa sesuatu? Tapi aku lupa apa ya Bams, aku sampai sekarang nggak bisa ingat." Jawabku.


"Jelas aku tau bos, bos pasti lupa kalau sebelum berangkat tadi aku izin ke toilet...Aku ketinggalan di rumah bos." Katanya dengan nada sedih.


Benar apa yang dikatakan Bams, aku memang lupa bahwa sebelum berangkat tadi dia masuk ke dalam rumah untuk izin ke toilet, mungkin karena aku terlalu tegang menghadapi hari spesial ini, sontak saja seisi mobil tertawa ketika mengetahui Bams tertinggal, aku menawarkan Bams untuk menjemputnya kembali ke rumah, tapi dia berkata bahwa dia akan menyusul dengan menggunakan taxi.


Sesampainya di rumah Riri, aku bertambah tegang karena melihat suasana di sana telah ramai dengan keluarganya menyambut kedatangan kami, ada Bi Eha, Pak Iwan dan juga Reni di sana, tapi sewaktu datang aku tak melihat Papa Riri menyambut kami.


"Papa kemana Ri?" Tanyaku.


"Ada di atas kok, Papa masih ganti baju, sebentar lagi juga turun." Jawab Riri.


"Oh aku kira ada urusan bisnis mendadak." Kataku lagi.


Tiba-tiba Reni menghampiri kami karena dia tak melihat pujaan hatinya sewaktu kami datang tadi.


"Dit, Bang ganteng kemana?" Tanya Reni.


"Siapa Bang ganteng Ren?" Tanyaku.


"Siapa lagi kalau bukan pacarku, masa aku nanyain orang lain sih Dit." Ucap Reni.


"Kayaknya kamu harus periksa ke dokter mata deh Ren." Kataku menggodanya.


"Ih Adit, Bams buat aku itu ganteng banget tau nggak, mana dia sekarang."


"Sorry Ren, pacarmu ketinggalan di rumah sewaktu berangkat tadi."

__ADS_1


Reni pun tampak kecewa mendengar jawaban dariku dan pergi meninggalkan kami.


__ADS_2