
Kami terus berlari berharap dua orang asing itu kehilangan jejak kami, sesekali aku menoleh kebelakang dan ternyata mereka masih ada dibelakang kami.
"Lari terus Mbak Rinjani." Kataku pada Rinjani.
"Iya mas, lagipula pos polisi nya sudah dekat kita bisa minta bantuan para polisi disana."
Bagaimana kami tidak lari melihat 2 pria asing berbadan tinggi besar dengan pakaian serba hitam mengejar kami, aku sangat yakin mereka adalah komplotan penjahat yang mengincar para turis.
"Ayo mas itu pos polisinya sudah kelihatan kita langsung masuk saja kesana."
Kamipun segera masuk ke pos polisi itu dengan terengah-engah, sontak saja para polisi segera menghampiri kami karena melihat kami berlari seperti dikejar sesuatu.
"Akhirnya sampai mbak, sepertinya kita aman disini."
Belum selesai aku mengucapkan kata-kata untuk menenangkan diri lalu kulihat dua pria asing itu mengikuti kami masuk sampai kedalam pos polisi, malah mereka terlihat berbincang dengan para polisi yang berjaga disana dengan bahasa Perancis.
"Mbak Jani mereka ngomong apa? Aku nggak ngerti." Kataku dengan nafas yang tersengal.
"Sebentar aku dekati mereka karena dari sini obrolan mereka nggak terdengar."
Rinjani pun mendekat kearah mereka dan ikut berbincang lalu kemudian dia kembali lagi kepadaku sambil tertawa.
"Mas Adit sepertinya kita salah paham sama kedua orang itu."
"Salah paham kenapa mbak?"
"Mereka mengejar kita karena memang mereka ditugaskan oleh seseorang untuk mencari kamu."
"Mencari aku, siapa memang yang menyuruh mereka?"
"Kata mereka namanya Pak Suryo."
Ternyata aku salah paham kepada dua orang asing itu, mereka adalah orang yang dikirim oleh papa Riri untuk mencariku.
Tak lama kulihat salah satu dari orang asing itu menelpon seseorang, sepertinya mengabari bahwa aku sudah ditemukan.
Hingga 30 menit kemudian Riri datang ke pos polisi itu.
"Adiiiiiit." Katanya sambil berlari lalu kemudian memelukku.
"Kamu kemana aja Riri khawatir." Katanya lagi.
"Aku abis jalan-jalan sebentar." Kataku sombong.
"Huuu bilang aja nyasar."
"Oh iya Ri, kenalkan ini mbak Rinjani yang nolong aku, kalau nggak ada dia aku pasti sudah pingsan karena kelaparan." Kataku mengenalkan Riri kepada Rinjani.
"Mbak Rinjani terimakasih ya sudah nolong pacarku ini." Kata Riri sambil mengusap kepalaku.
__ADS_1
"Sama-sama mbak tadi kebetulan aja aku juga lagi nyari pacar aku yang tersesat."
"Wah para cowok-cowok ini memang bikin khawatir aja ya mbak." Kata Riri sambil tertawa.
Ketika sedang asik mengobrol kemudian ada seorang pria yang memanggil Rinjani.
"Rinjani." Kata pria itu.
"Mas Bayu...Kamu kemana aja? Jani khawatir banget."
"Jalan-jalan sebentar." Kata pria itu
"Huuu bilang aja nyasar." kata Rinjani.
Sontak kami tertawa bersama karena kata-kata kami yang persis sama.
Setelah bertemu dengan pacarnya Rinjani pun pamit untuk pulang lebih dahulu, aku dan Riri berterimakasih padanya karena sudah menolongku.
"Sepertinya aku pernah lihat Rinjani di suatu tempat, tapi dimana ya?" Kataku pada Riri.
"Dimana sayang?"
"Aku lupa, ya sudah sekarang kita pulang yuk, eh tapi ngomong-ngomong kok kamu bisa cepat sampai sini Ri."
"Aku seharian cariin kamu tau, aku keliling kota ini tapi nggak ketemu akhirnya aku minta bantuan papah."
"Oh iya Ri sampaikan maafku sama kedua orang itu ya, karena sudah berprasangka buruk kepada mereka."
"Aduh cape banget aku, malam ini pasti tidur nyenyak." Kataku pada Riri di lobby hotel.
"Besok jangan kesiangan ya kan kita mau pulang."
"Oh iya,udah 3 hari ya kita disini, nggak terasa ya Ri."
"Gimana Dit Perancis, asyik nggak?"
"Keren Ri, kecuali bagian nyasar nya nggak keren hehehe."
"Ya udah mimpi indah dan mimpiin aku ya."
Akhirnya malam itu berakhir dan tak terasa besok hari kami sudah harus pulang ke Indonesia, pagi harinya setelah sarapan kami berpamitan pada Papa Riri lalu menuju bandara.
"Yeaaah akhirnya pulang juga, aku udah kangen banget sama pecel lele." Kataku pada Riri.
"Jangan seneng dulu kan masih ada 16 jam perjalanan."
"Ah baru 16 jam, kan ada kamu disampingku."
Dengan ini liburan kami di Perancis pun berakhir, setelah sampai di Bandara Soekarno Hatta kami berdua pulang kerumah masing-masing.
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu dari hari itu, aku dan Riri pun kembali ke rutinitas kami masing-masing.
Pagi itu dikantor Sinta memanggilku keruangannya.
"Ada apa Sin, ada pekerjaan buatku?" Kataku bertanya ketika masuk keruangannya.
"Ah nggak Dit, aku mau ngomong penting, tapi nanti aja ya kita makan siang di restoran."
"Penting banget kayaknya sampe mau ngobrol aja di restoran."
Siang harinya aku dan Sinta makan bersama di restoran karena kata Sinta ada yang harus dibicarakan hanya empat mata denganku.
"Dit aku mau keluar." Kata Sinta dengan muka sedih.
"Keluar mana? Luar angkasa?" Kataku mencoba menghiburnya.
"Adit aku serius, aku mau berhenti kerja."
"Berhenti kerja? Jangan bercanda Sin,nggak lucu tau."
"Sakit papaku di kampung semakin parah, dan beliau mau aku terus menemaninya, karena aku ini anak semata wayangnya."
Akupun terdiam sejenak mendengar perkataan Sinta, dari ucapan dan wajahnya tampak bahwa dia sedang tidak bercanda.
"Jadi kamu serius, kapan kamu mulai berhenti?"
"Hari ini, karena sewaktu kamu di Perancis aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku kepada pak Suryo."
"Lalu apa tanggapan beliau? Kamu ini kan salah satu pegawai yang diandalkan olehnya."
"Setelah aku mengirim surat pengunduran diriku, dia langsung menelponku dan menanyakan apa alasannya, awalnya beliau tidak mengizinkan aku untuk keluar tapi setelah tau alasannya akhirnya beliau mengerti."
"Aku pasti akan sangat kehilangan kamu, kamu atasan sekaligus guru yang sangat baik buatku."
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan Dit, mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi."
Sinta tersenyum padaku, walau aku tahu sebenarnya dia tak ingin keluar dari pekerjaannya, tapi tak ada pilihan lain baginya, semua dilakukan untuk papa yang sangat dicintainya.
Sore itu saat jam pulang tiba kami semua dibagian HRD menunggunya keluar dari ruangan karena aku sudah memberitahu teman-teman yang lain bahwa ini hari terakhir Sinta bekerja.
Setelah Sinta keluar dari ruangannya kami menyambutnya dengan tepuk tangan dan ucapan terimakasih untuk kepemimpinannya selama ini,karena setelah bertemu aku Sinta sudah tidak keras lagi kepada para karyawan dan dia banyak disukai oleh para pegawai terutama di bagian HRD.
Sinta menangis melihat kami semua melakukan itu diapun mengucapkan terimakasih dan maaf jika selama ini ada kesalahan selama memimpin kami.
"Kamu sudah berkemas dirumahmu?" Tanyaku padanya.
"Tinggal sebagian Dit, karena sebagian sudah aku kemas semalam."
"Kalau begitu aku ikut kerumahmu ya, aku bantu beres-beres sebagai tanda terimakasih ku selama ini."
__ADS_1
Akhirnya sore itu aku ikut pulang kerumah Sinta.